‹ Kembali ke Beranda
Adab · Opini

Cara Bersyukur Menurut Habib Abdullah Al-Haddad

Oleh Ahmad Yaafi·11 September 2026·0
Cara Bersyukur Menurut Habib Abdullah Al-Haddad

Majalahnabawi.com – Saat hidup memberikan episode terburuknya; terkena badai PHK, dompet menipis, bahkan teman sendiri mengkhianati. Sering kali kita merasa Tuhan sedang menguji dan menuntut kita untuk meresponsnya dengan penuh kesabaran. Dari luar kita mungkin tampak baik-baik saja, padahal dalam benak hati dan pikiran berbagai pertanyaan terus bermunculan: “Kenapa harus saya? Apa salah saya? Bagaimana saya bisa bertahan?” Pada kondisi seperti ini, kita merasa menjadi orang yang paling menderita. Akibatnya, perhatian kita hanya tertuju pada masalah yang ada, hingga lupa bersyukur dan melihat banyak nikmat yang masih Allah berikan setiap hari.

Cara Tetap Bersyukur

Habib Abdullah al-Haddad dalam kitabnya Tasbitul Fuad juz 1 hal.103 menjelaskan bahwa pada hakikatnya seburuk apapun ujian hidup yang dialami manusia idealnya ia tetap harus bersyukur. Sebab ujian tersebut hanyalah sebagian kecil dari banyaknya nikmat tuhan yang masih dianugerahkan kepada kita. Beliau menuliskan:

إِنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ مَعَ اللهِ فِي مَقَامِ الشُّكْرِ، وَيَظُنُّونَ أَنَّهُمْ فِي مَقَامِ الصَّبْرِ، فَإِنَّ اللهَ فِي كُلِّ عِرْقٍ نِعْمَتَيْنِ، وَمِنَ الْعُرُوقِ الْمُتَحَرِّكُ لَا يَسْكُنُ، وَالسَّاكِنُ لَا يَتَحَرَّكُ، فَلَوْ تَحَرَّكَ السَّاكِنُ أَوْ سَكَنَ الْمُتَحَرِّكُ لَتَأَلَّمَ لِذَلِكَ، فَفِي كُلِّ عِرْقٍ نِعْمَةُ وُجُودِهِ، وَنِعْمَةُ سُكُونِ السَّاكِنِ وَحَرَكَةِ الْمُتَحَرِّكِ، وَفِي كُلِّ شَعْرَةٍ نِعْمَتَانِ، إِذْ أَسْفَلُهَا مُنْفَتِحٌ وَآخِرُهَا مُصْمَتٌ، فَلَوِ انْعَكَسَ ذَلِكَ لَتَأَلَّمَ الشَّخْصُ، فَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Artinya: Sesungguhnya seluruh manusia sebenarnya berada dalam maqam syukur kepada Allah, meskipun mereka mengira bahwa mereka berada dalam maqam sabar. Sebab pada setiap urat terdapat dua nikmat dari Allah. Di antara urat-urat itu ada yang bergerak dan tidak diam, dan ada yang diam serta tidak bergerak. Seandainya yang diam bergerak atau yang bergerak menjadi diam, niscaya seseorang akan merasakan sakit karenanya. Maka pada setiap urat terdapat dua nikmat: nikmat keberadaannya, dan nikmat tetapnya yang diam serta bergeraknya yang memang harus bergerak. Demikian pula pada setiap helai rambut terdapat dua nikmat. Pangkalnya terbuka dan ujungnya tertutup. Seandainya keadaan itu terbalik, niscaya seseorang akan merasakan kesakitan. Karena itu, segala puji hanyalah milik Allah.

Maksud maqam syukur dan maqam sabar adalah bahwa saking banyaknya nikmat yang diberikan oleh Allah, manusia tidak sepatutnya mengira bahwa ketika ia diberi ujian, ia harus menghadapinya semata-mata dengan kesabaran dan menganggap dirinya berada dalam maqam sabar. Padahal, pada hakikatnya ia tetap berada dalam maqam syukur, karena begitu banyak nikmat Allah yang masih ia terima setiap saat. Mungkin ujian tersebut untuk meningkatkan derajatnya atau bahkan menghindarkan dari malapetaka dan semua itu adalah sebuah nikmat.

Bersyukur dalam Tinjauan Al-Qur’an

Allah Swt berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 34:

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌࣖ

Artinya: Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.

Saat kita bersyukur sebagai ucapan terima kasih atas seluruh nikmat-Nya, sebenarnya syukur kita tak akan bisa sempurna dan sebanding saking banyaknya dan tak terhitung. Oleh karena itu tidak berlebihan kiranya perkataan Imam Syafi’i berikut:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَا يُؤَدَّى شُكْرُ نِعْمَةٍ مِنْ نِعَمِهِ إِلَّا بِنِعْمَةٍ حَادِثَةٍ تُوجِبُ عَلَى مُؤَدِّيها شُكْرَهُ بِهَا

Artinya: Segala puji bagi Allah yang tidak ada satu pun syukur atas nikmat-Nya yang dapat ditunaikan, kecuali dengan datangnya nikmat baru yang justru mewajibkan orang yang mensyukurinya untuk kembali bersyukur kepada-Nya.

Ketika kita bersyukur sebenarnya kita sedang menerima nikmat tuhan yang lain yakni kita mengucapkan syukur itu sendiri, sebab betapa banyak manusia yang tidak bisa puas sehingga ia tak pernah bisa mengucapkan syukur tersebut. Jadi saat beryukur saja kita masih diberi nikmat.

Kesimpulan

Oleh karena itu, ketika dalam menjalani hidup terasa berat dan banyak masalah yang datang berkali-kali, idealnya kita tetap bisa bersyukur, sebab ujian tersebut hanyalah sebagian kecil dibandingkan dengan banyaknya nikmat yang Tuhan berikan kepada kita. Bukankah kita masih bisa bernapas tanpa bantuan tabung oksigen, makan dengan lahap, dan bisa tidur nyenyak? Sementara itu, mungkin di belahan dunia lain banyak manusia yang tidak memiliki kesempatan untuk menikmati nikmat-nikmat tersebut seperti kita. Semoga bermanfaat dan menjadi renungan untuk selalu bersyukur atas nikmat-Nya. Amin wallahu a’lam bis shawab

Bagikan: