Ketenangan Jiwa sebagai Fondasi Penguatan Iman: Kajian QS. Al-Fath Ayat 4 dalam Tafsir Al-Azhar dan Perspektif Carl Rogers

Majalahnabawi.com – Ketenangan jiwa merupakan salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan modern, manusia sering menghadapi berbagai tekanan, baik dari masalah ekonomi, sosial, pendidikan, maupun hubungan antarindividu. Kondisi tersebut sering memunculkan kecemasan, ketakutan, kegelisahan, bahkan krisis spiritual yang memengaruhi kesehatan mental seseorang. Oleh karena itu, manusia membutuhkan ketenangan jiwa agar mampu menjalani kehidupan dengan lebih stabil, optimis, dan penuh makna.
Dalam perspektif Islam, ketenangan jiwa bukan hanya berkaitan dengan kondisi psikologis, tetapi juga berhubungan erat dengan keimanan kepada Allah. Jiwa yang dekat dengan Allah akan lebih mudah memperoleh ketenteraman hati dibandingkan jiwa yang jauh dari nilai-nilai spiritual. Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketenangan jiwa merupakan salah satu bentuk rahmat Allah kepada orang-orang beriman.
Makna Ketenangan Jiwa dalam QS. Al-Fath Ayat 4
Surah Al-Fath ayat 4 menjelaskan bahwa Allah menurunkan “sakinah” ke dalam hati orang-orang mukmin. Kata sakinah berasal dari kata “sakana” yang berarti tenang, diam, tenteram, dan damai. Dalam konteks ayat ini, sakinah bermakna sebagai ketenangan hati yang Allah berikan kepada orang-orang beriman ketika menghadapi situasi sulit dan penuh tekanan. Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Pada saat itu, Rasulullah dan para sahabat berniat melaksanakan umrah ke Makkah, namun kaum Quraisy menghalangi mereka memasuki kota tersebut. Perjanjian yang disepakati tampak merugikan kaum muslimin sehingga sebagian sahabat merasa kecewa dan gelisah. Akan tetapi, Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati mereka sehingga tetap percaya kepada keputusan Rasulullah dan yakin bahwa ketentuan Allah mengandung hikmah besar.
Melalui ayat ini, dapat kita pahami bahwa ketenangan jiwa bukan berarti terbebas dari masalah, melainkan kemampuan hati untuk tetap tenang, sabar, dan yakin kepada Allah di tengah kesulitan hidup. Orang yang memiliki sakinah tidak mudah putus asa, tidak mudah marah berlebihan, dan tidak kehilangan harapan ketika menghadapi cobaan. Sebaliknya, ia mampu menjaga kestabilan emosi dan tetap berpikir positif karena percaya bahwa Allah selalu memberikan jalan terbaik. Selain itu, ayat ini juga menegaskan bahwa ketenangan jiwa memiliki hubungan erat dengan penguatan iman. Dalam lafadz “ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ “ dijelaskan bahwa sakinah diberikan agar keimanan orang-orang mukmin semakin bertambah. Artinya, hati yang tenang akan lebih mudah menerima petunjuk Allah, lebih sabar dalam menghadapi ujian, dan lebih kuat dalam mempertahankan keyakinan kepada-Nya.
Penafsiran Hamka dalam Tafsir Al-Azhar
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗوَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ
Artinya: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fatḥ [48]:4)
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah sendiri yang menanamkan sakinah atau ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman. Ketenangan tersebut bukan sesuatu yang datang semata-mata dari usaha manusia, tetapi merupakan karunia Allah bagi hamba-Nya yang beriman dan berserah diri kepada-Nya. Tujuan dari ketenangan itu adalah agar keimanan mereka semakin kuat dan tidak mudah goyah oleh ujian.
Menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, ayat ini berkaitan dengan situasi kaum Muslimin saat Perjanjian Hudaibiyah. Pada saat itu, banyak sahabat merasa kecewa karena secara lahiriah perjanjian tersebut tampak merugikan umat Islam. Namun Rasulullah tetap tenang karena yakin bahwa keputusan Allah pasti mengandung hikmah besar. Allah kemudian menurunkan sakinah ke dalam hati orang-orang beriman agar mereka menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Hamka menjelaskan bahwa ketika seseorang memiliki iman yang kuat, maka hatinya akan lebih mudah menerima ketentuan Allah dengan lapang dada. Ia tidak akan mudah membiarkan rasa takut, cemas, ataupun putus asa menguasainya. Sebaliknya, hati yang penuh dengan kegelisahan yang berlebihan dapat melemahkan keyakinan dan menjauhkan seseorang dari rasa tawakal. Dalam kondisi demikian, ketenangan jiwa menjadi sumber kekuatan spiritual yang membuat seseorang tetap sabar dan optimis.
Menurut Hamka, sakinah juga melahirkan keberanian dan keteguhan hati. Orang yang tenang jiwanya tidak mudah terpengaruh oleh tekanan lingkungan ataupun keadaan yang sulit. Ia mampu mengendalikan emosinya dan tetap berpikir jernih dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, ketenangan jiwa menjadi fondasi penting dalam membangun keimanan yang kokoh. Hamka juga menekankan bahwa ketenangan jiwa dalam Islam dapat manusia peroleh melalui kedekatan kepada Allah, seperti melalui ibadah, dzikir, doa, dan tawakal. Ketika hati manusia dekat dengan Allah, maka akan lahir rasa aman dan damai yang membuat hidup terasa lebih ringan meskipun menghadapi banyak ujian.
Ketenangan Jiwa Perspektif Carl Rogers
Dalam perspektif psikologi humanistik, Carl Rogers menjelaskan bahwa ketenangan jiwa muncul ketika seseorang mampu menerima dirinya secara utuh dan hidup sesuai dengan nilai yang ia yakini. Rogers berpendapat bahwa manusia memiliki dorongan alami untuk berkembang menuju kehidupan yang lebih baik melalui proses aktualisasi diri. Menurut Rogers, terdapat dua konsep penting dalam diri manusia, yaitu real self (diri nyata) dan ideal self (diri ideal). Real self adalah keadaan diri seseorang yang sebenarnya, sedangkan ideal self merupakan gambaran diri yang manusia harapkan. Apabila terdapat kesesuaian antara keduanya, maka seseorang akan merasakan kedamaian, kenyamanan, dan kestabilan emosional. Sebaliknya, apabila terjadi ketidaksesuaian, maka individu akan mengalami kecemasan, konflik batin, dan ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri.
Rogers juga menekankan pentingnya unconditional positive regard atau penerimaan positif tanpa syarat dari lingkungan. Dukungan, kasih sayang, dan penghargaan membuat seseorang merasa aman dan bernilai sehingga membantu terciptanya ketenangan jiwa.Teori Rogers memiliki keterkaitan dengan konsep sakinah dalam Surah Al-Fath ayat 4. Orang yang menerima ketentuan Allah dengan ikhlas akan memiliki keharmonisan batin dan kestabilan emosi. Ketika seseorang yakin bahwa setiap ujian berasal dari Allah dan mengandung hikmah, maka ia akan lebih mudah menerima keadaannya dan menjalani kehidupan dengan tenang. Dengan demikian, ketenangan jiwa menurut Rogers dapat membantu menjelaskan bagaimana iman mampu menciptakan stabilitas psikologis dalam diri manusia.
Ketenangan Jiwa sebagai Fondasi Penguatan Iman
Ketenangan jiwa memiliki peranan penting dalam memperkuat iman seseorang. Hati yang tenang akan lebih mudah menerima nasihat, berpikir jernih, dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebaliknya, hati yang penuh dengan kecemasan dan kegelisahan cenderung mudah putus asa serta sulit merasakan kedamaian spiritual. Dalam Islam, ketenangan jiwa dapat manusia peroleh melalui berbagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, seperti shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan tawakal. Aktivitas spiritual tersebut membantu manusia merasakan kedekatan dengan Allah sehingga hati menjadi lebih damai dan tenteram. Ketika hati tenang, seseorang akan lebih kuat menghadapi ujian hidup dan tidak mudah kehilangan arah dalam kehidupannya.
Kajian Surah Al-Fath ayat 4 dan perspektif Carl Rogers menunjukkan bahwa ketenangan jiwa memiliki hubungan erat dengan keseimbangan spiritual dan psikologis manusia. Dalam Islam, ketenangan jiwa bersumber dari iman dan pertolongan Allah, sedangkan dalam psikologi humanistik, ketenangan jiwa muncul melalui penerimaan diri dan keharmonisan batin. Kedua pandangan tersebut sama-sama menunjukkan bahwa jiwa yang tenang merupakan dasar penting bagi terbentuknya kehidupan yang sehat, stabil, dan penuh makna.
Kesimpulan
Ketenangan jiwa merupakan kondisi batin yang memberikan rasa damai, tenteram, dan stabil dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Dalam Surah Al-Fath ayat 4 dijelaskan bahwa Allah menurunkan sakinah ke dalam hati orang-orang beriman agar keimanan mereka semakin bertambah. Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan jiwa memiliki hubungan yang sangat erat dengan penguatan iman seseorang.
Menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, sakinah adalah ketenteraman hati yang membuat manusia tetap teguh, sabar, dan yakin kepada Allah dalam menghadapi ujian kehidupan. Sementara itu, Carl Rogers menjelaskan bahwa ketenangan jiwa tercapai melalui penerimaan diri dan keselarasan batin. Dengan demikian, baik dalam perspektif Islam maupun psikologi humanistik, ketenangan jiwa memiliki peranan penting sebagai fondasi penguatan iman karena hati yang tenang akan lebih mudah menerima kebenaran, bersikap sabar, dan mendekatkan diri kepada Allah.