‹ Kembali ke Beranda
Opini

Ketika Pacaran Dianggap Wajar: Menyikapi Normalisasi Hubungan Tanpa Status

Oleh Muhammad Herza Alzaim·11 September 2026·0
Ketika Pacaran Dianggap Wajar: Menyikapi Normalisasi Hubungan Tanpa Status

majalahnabawi.com-Di lingkungan kampus, istilah “pacaran” belakangan ini mulai bertransformasi. Banyak anak muda tidak lagi menyebutnya pacaran, melainkan “hubungan tanpa status” atau yang kini populer ialah situation ship. Hubungan ini menggambarkan kedekatan tapi tidak terikat, sering bertukar kabar tapi enggan memberi kepastian. Bentuknya sederhana, sekadar bertemu, saling menyapa, saling perhatian, tapi justru di situlah letak jebakannya. Ketidakjelasan arah hubungan semacam ini kerap memicu apa yang dalam psikologi yakni ambiguity stress. Istilah tersebut nerujuk pada tekanan batin yang muncul bukan karena hubungan itu buruk, melainkan karena tidak jelas arahnya ke mana.

Karena banyak orang yang menjalani hubungan tersebut dan terlihat kasual, hubungan tanpa status pun perlahan menjadi hal yang normal. Bahkan oleh mereka yang sebenarnya ingin menjaga diri. Ketika hampir semua teman di sekitar menjalaninya, muncul pula keinginan untuk mencoba peruntungan yang sama. Pertanyaan yang sering terlintas: apakah keinginan seperti itu wajar, atau justru sebuah dosa karena sudah condong kepada kemaksiatan?

Rasa Suka Itu Fitrah, tapi Ambiguitas Bisa Melukai

Kecenderungan hati seorang laki-laki kepada perempuan, atau sebaliknya, adalah fitrah manusia. Perasaan itu setara dengan rasa lapar dan haus yang Allah ciptakan dalam diri setiap orang. Justru ketika seseorang kehilangan nafsu makan sama sekali, itu pertanda ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Rasa lapar, sama halnya dengan rasa suka kepada lawan jenis, adalah karunia, bukan aib.

Tidak ada yang salah dengan munculnya rasa tertarik kepada lawan jenis. Itu bagian alami dari diri manusia, sama seperti dorongan untuk makan dan minum. Hal yang membedakan bukan ada tidaknya rasa itu, melainkan bagaimana rasa itu tersalurkan. Sayangnya, hubungan tanpa status justru menyalurkan rasa itu ke tempat yang paling rawan: tanpa komitmen, tanpa kejelasan, dan tanpa perlindungan. Tidak sedikit mahasiswa yang mengaku cemas menunggu kabar yang tak kunjung datang,merasa dimanfaatkan ketika perhatian hanya hadir sesaat, atau justru terganggu fokus belajarnya karena pikiran terus tersita oleh hubungan yang statusnya sendiri tidak jelas.

Lapar Boleh, tapi Jangan Sembarang Makan

Untuk memahami titik krusial ini, ada perumpamaan yang mudah tersampaikan secara jelas. Ketika seseorang benar-benar lapar, ia tetap akan memilih makanan yang bergizi dan halal, bukan asal menyantap apa saja yang tersaji di depan mata. Ada pilihan yang tampak sederhana namun menyehatkan, dan ada pula yang tampak mewah serta menggiurkan namun sesungguhnya bukan untuknya, bahkan berpotensi membahayakan. Orang yang berpikir jernih tentu akan memilih yang sederhana namun jelas kehalalannya, sebab yang tampak mewah itu, secemerlang apa pun kemasannya, sama sekali bukan haknya.

Begitu pula dengan hubungan lawan jenis. Ketertarikan boleh saja muncul, tetapi cara menyalurkannya harus melalui jalan yang halal, yaitu pernikahan. Sesuatu yang haram, betapapun dikemas dengan cara yang menarik dan terasa “keren” di mata pergaulan, tetaplah bukan sesuatu yang layak dijalani. Menjalaninya karena tergiur pergaulan sama seperti mengonsumsi sesuatu yang sebetulnya tidak pantas, hanya karena kemasannya tampak menarik.

Semakin Menjauhi yang Haram, Semakin Mendekat yang Halal

Ada rumus sederhana dalam hidup: semakin seseorang menjauhi yang haram, semakin mudah dan semakin indah jalan menuju yang halal terbuka baginya. Sebaliknya, ketika seseorang mulai mencicipi sesuatu yang haram, ia justru akan merasa jalan menuju yang halal menjadi semakin sulit dan semakin jauh.

Rasa “kok jodoh tak kunjung datang” atau “kok susah sekali menemukan yang serius” kerap kali justru muncul karena seseorang masih sering “mampir” mencicipi hubungan yang tidak jelas arahnya. Selama proses mencicipi itu terus berulang, jalan menuju hubungan yang halal dan berkah pun ikut tertunda.

Sambil Menunggu Siap, Ada yang Bisa Dilakukan

Tentu, tidak semua orang di usia kuliah sudah siap menikah, baik secara finansial maupun mental, dan itu wajar. Kesadaran untuk menghindari hubungan tanpa status bukan berarti harus buru-buru menikah, melainkan memilih untuk tidak menukar ketenangan diri dengan kepastian semu. Selagi menunggu waktu yang tepat, energi dan rasa yang muncul bisa dialihkan ke hal-hal yang justru membangun diri: menyalurkannya lewat karya, prestasi akademik, organisasi, atau keterampilan yang kelak menjadi bekal. Menjaga batasan interaksi dengan lawan jenis juga bukan tanda kaku, melainkan bentuk kehati-hatian yang justru melindungi hati dari luka yang tidak perlu. Waktu penantian itu justru saat paling tepat untuk mempersiapkan diri, baik secara emosional, finansial, maupun kedewasaan berpikir. Sehingga ketika saatnya tiba, semua terlewati dengan pijakan yang lebih kokoh.

Jalan yang Halal Selalu Terbuka

Usia kuliah bukan lagi usia anak-anak yang bertindak tanpa pertimbangan. Di usia ini, seseorang seharusnya sudah mampu berpikir matang dan memilih jalan yang benar. Jika memang muncul dorongan untuk dekat dengan lawan jenis, terlebih setelah melihat pasangan lain yang tampak mesra, maka carilah kemesraan itu melalui jalan yang halal.

Pesannya jelas: rasa suka tidak perlu tertanam sebagai sesuatu yang berdosa. Namun, rasa itu juga tidak semestinya tersampaikan sembarangan hanya karena lingkungan sekitar menganggapnya sebagai hal yang normal. Ada jalan yang telah Allah siapkan, yaitu pernikahan. Jalan itu selalu terbuka bagi siapa saja yang mau menempuhnya dengan sabar.

Bagikan: