‹ Kembali ke Beranda
Opini

Menolak Modernitas? Memahami Batasan Syariat dalam Konteks Hari Ini

Oleh Nila Sofwatun Najah·4 September 2026·0
Menolak Modernitas? Memahami Batasan Syariat dalam Konteks Hari Ini

Majalahnabawi.com Dalam menapaki realitas kehidupan kontemporer, kita sering kali terjebak dalam dikotomi yang keliru antara menjaga kemurnian prinsip dan menerima arus pembaruan. Ada sebuah kecenderungan di lingkungan yang sangat disiplin untuk memandang setiap perubahan sebagai ancaman terhadap integritas moral. Padahal, jika kita kembali merefleksikan esensi dari setiap aturan yang kita jalani sehari-hari, kita dapat memahami bahwa para pendahulu, seperti Pak Kyai yang sering kita lihat ketegasannya, mengajarkan ketegasan bukan untuk mengajak kita membenci zaman. Sebaliknya, ketegasan itu adalah upaya pembentukan karakter agar kita memiliki jangkar yang kuat di tengah badai informasi dan teknologi. Kita tidak perlu menjauhi modernitas sebagai musuh, tetapi perlu mengelolanya melalui prinsip ijtihad agar kita dapat mempertahankan relevansi nilai-nilai Islam tanpa kehilangan identitasnya. Tanpa pemahaman ini, seseorang akan terjebak dalam sikap “saklek” yang justru menjauhkan agama dari fungsinya sebagai pemberi solusi.

Syariat: Antara Ketegasan dan Kemudahan

Keteguhan pada syariat seharusnya berbanding lurus dengan kelapangan dada. Sering kali, fenomena “menolak modernitas” muncul karena ketidakmampuan membedakan antara mana yang merupakan nilai absolut dan mana yang merupakan media atau wasilah. Allah SWT sendiri telah menegaskan prinsip kemudahan dalam beragama, sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Baqarah [2]: 185 yang berbunyi: “Yuridullahu bikumul yusra wala yuridu bikumul ‘usra” (Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu). Ayat ini menjadi landasan bahwa jika suatu cara pandang atau aturan justru menciptakan kesempitan yang menghambat kemajuan umat tanpa alasan syar’i yang kuat, maka kita perlu meninjau kembali cara kita memahami batasan tersebut. Menjadi kaku bukan berarti menjadi lebih bertakwa; terkadang itu hanyalah tanda ketakutan akan hal-hal yang tidak kita pahami.

Belajar dari Ketegasan dan Keterbukaan Para Ulama

​Lebih jauh lagi, kita perlu melihat bagaimana para ulama besar di masa lalu mengelola ketegasan dan toleransi secara bersamaan. Mengambil teladan dari tokoh-tokoh besar, ketegasan mereka dalam hal disiplin pribadi tidak pernah menghalangi mereka untuk bersikap terbuka terhadap visi masa depan. Menurut Zuhairi Misrawi dalam bukunya tentang Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, “Ketegasan beliau dalam menjaga syariat tidak pernah menghalanginya untuk bersikap moderat dan terbuka terhadap ide-ide kemajuan demi persatuan umat.” Kutipan ini menunjukkan bahwa kemajuan suatu kelompok sangat bergantung pada kemampuan anggotanya untuk beradaptasi tanpa harus kehilangan jati diri. Jika kita hanya meniru “sikap keras” seorang guru tanpa menyerap “kebijaksanaan” dan “kasih sayang” beliau terhadap umat, maka kita sebenarnya sedang mengkhianati ajaran guru tersebut yang menginginkan murid-muridnya menjadi pelopor kemajuan, bukan beban zaman.

Memahami Syariat sebagai Koridor, Bukan Penghalang

Kemampuan beradaptasi ini semakin kuat melalui hadis Nabi yang mengingatkan kita untuk tidak mempersulit diri dalam menjalankan ajaran agama. Dalam HR.Bukhari No. 39 (Kitab al-Iman, Juz 1, Halaman 93), Rasulullah SAW mengajarkan kemudahan dalam menjalankan agama melalui sabdanya: “Innad-dina yusrun, walan yusyadda ad-dina ahadun illa ghalabah” (Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama melainkan ia akan dikalahkannya). Hadis ini adalah sindiran tajam bagi mereka yang merasa bahwa semakin sulit dan kaku suatu pemahaman, maka semakin tinggi derajat keimanannya. Dalam konteks hari ini, kita perlu memahami batasan syariat sebagai koridor yang melindungi, bukan sebagai pagar yang memenjarakan kreativitas. Keberhasilan institusi tradisional dalam bertahan menghadapi globalisasi terletak pada kemampuannya melakukan negosiasi antara tradisi dan modernitas secara kreatif. Tanpa negosiasi kreatif ini, kita hanya akan menjadi penonton di tengah perubahan dunia yang sangat cepat.

Al-Thabat dan Al-Murunah: Menjaga Prinsip, Menyikapi Perubahan

​Sebagai penutup, memahami batasan syariat dalam konteks hari ini menuntut kita untuk bersikap proporsional. Kita tetap menjadikan ketegasan prinsip yang diajarkan guru sebagai pondasi dalam berpikir, tetapi kita harus menyesuaikan dan membangun dinding pemikiran tersebut dengan nilai-nilai yang relevan dengan kebutuhan zaman. Karakteristik Islam adalah keseimbangan antara Al-Thabat (kemapanan prinsip) dan Al-Murunah (keluwesan dalam penerapan). Dengan demikian, menolak modernitas bukanlah jalan keluar. Jalan keluarnya adalah membentuk diri sebagai pribadi yang kuat dalam memegang prinsip, tetapi tetap luwes dalam bersikap, sehingga kita dapat memajukan kelompok dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia, sebagaimana yang selalu diharapkan oleh para kiai dan guru-guru kita.

Bagikan: