‹ Kembali ke Beranda
Opini

Dunia yang Tidak Adil atau Kita yang Gagal Paham tentang Makna Keadilan?

Oleh Tiara Putri Sunarya·12 September 2026·0
Dunia yang Tidak Adil atau Kita yang Gagal Paham tentang Makna Keadilan?

Majalahnabawi.com – Sekilas, dunia memang tidak adil. Ada orang dengan jam kerja 7-8 jam per hari tapi gaji tidak sampai UMR. Ada yang modal rebahan malah dapat omset puluhan juta. Iya, dunia tidak adil?

Ada yang terlahir dengan beragam privilege, seperti orang tua sudah kaya, punya wajah yang cantik/tampan, keturunan ningrat, tinggal di rumah megah, lingkungan keluarga yang mendukung, dan lain-lain. Sementara ada yang lahir di gubuk kecil, jauh di pelosok desa yang jarang orang tahu, pendapatan orang tua pas-pasan dengan pola asuh yang keras. Iya, dunia tidak adil?

Belajar atau menghafal sampai 24/7 tapi tetap mudah lupa. Tapi ada yang 1-2 kali saja menempelnya luar biasa. Iya, dunia tidak adil?

Mati-matian mempertahankan prestasi, punya banyak achievement, menang lomba ini itu, IPK selalu di atas 3,7, tapi tetap yang keterima kerja adalah yang punya orang dalam. Iya, dunia tidak adil?

Dunia yang tidak adil, ataukah kita sebagai manusia yang gagal paham tentang makna “keadilan”? Dunia yang tidak adil, atau kita yang terlalu menuntut pada Tuhan?

Mereka yang selalu kita bandingkan dengan diri kita, yang hati kita terbakar karena beragam pencapaiannya, yang menjadikan kita ngedumel terhadap takdir, mereka yang punya ratusan privilege itu sama sekali “tidak meminta” untuk dilahirkan demikian. Begitu pun kita, Kita tidak pernah bisa meminta dalam kondisi apa kita terlahir.

Adapun beragam pencapaian mereka lahir dari kemauan dan usaha yang keras. Hidup ini seperti rantai, saling berkesinambungan dan menimbulkan sebab akibat. Tersebab seseorang yang terlahir kaya adalah hasil orang tua mereka yang berjuang mati-matian mencari uang. Dahulu mereka bertemu, merajut cinta, lalu menikah. Lebih dahulu dari itu, mereka mungkin satu kampus atau jurusan sehingga bisa saling jatuh cinta. Begitu seterusnya sampai nenek moyang kita tidak akan pernah ada habisnya. Hidup ini, adalah rantai kesinambungan.

Malang memang, kita sama sekali tidak bisa menyalahkan siapapun tentang hal ini, apalagi Tuhan. Barangkali dunia memang tidak adil, untuk itu Allah menciptakan akhirat. Negeri yang segala sesuatunya penuh pertanggungjawaban. Dari sini, seharusnya kita paham, bahwa kekecewaan kita terhadap beragam hal yang sudah disebutkan di atas karena kita menjadikan dunia sebagai tujuan.

Ketika Dunia Menjadi Tujuan Utama

Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang keinginannya hanya kehidupan akhirat maka Allah akan memberi rasa cukup dalam hatinya, menyatukan urusannya yang berserakan dan dunia datang kepadanya tanpa dia cari, dan barang siapa yang keinginannya hanya kehidupan dunia maka Allah akan jadikan kemiskinan selalu membayang-bayangi di antara kedua matanya, mencerai beraikan urusannya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekedar apa yang telah ditentukan baginya.”

Dari hadis tersebut, setidaknya dapat kita pahami beberapa hal. Bagi mereka yang obsesi utamanya hanya dunia (Hammuhu ad-dunya), ia akan mengalami tiga “hukuman”:

  • Urusan yang Bercerai-berai

    Ia merasa selalu sibuk tapi tidak menghasilkan ketenangan. Pikirannya terpecah ke berbagai arah, selalu merasa ada yang kurang, dan dihantui rasa cemas akan masa depan.

    • Kemiskinan di Pelupuk Mata

    Inilah yang paling menyiksa. Sebanyak apa pun harta atau privilege yang ia miliki, ia selalu merasa kurang. Ia selalu membandingkan diri dengan yang di atasnya, sehingga ia hidup dalam perasaan “miskin” yang konstan.

    • Dunia Datang Sebatas Jatah

    Ia bekerja mati-matian 24/7, namun hasilnya tidak akan melebihi apa yang sudah ditakdirkan. Kelelahan fisiknya tidak sebanding dengan kepuasan yang ia dapatkan.

    Menata Ulang Arah Kehidupan

    Jadi, wajar lelah dan terkadang usaha tidak sebanding dengan hasil. Untuk itu, kita perlu menata kemana arah tujuan kita pergi, kemana kita berpulang. Jangan sampai hidup kita habis untuk menghitung nikmat orang lain.

    Setelah kita paham tentang hal itu, baru hati kita akan mudah menyelami lautan kehidupan dunia dan hakikat kita lahir di atas muka bumi yang penuh hiruk pikuk ini. Barangkali mengapa dada kita terasa sesak, pikiran terasa berat, dan dunia seperti terlalu melelahkan adalah karena kita merasa bisa memikul semuanya sendirian. Iya, hanya sendiri tanpa bantuan Tuhan.

    Bagikan: