Memahami Manusia, Menelusuri Makna

Seringkali kita bertanya kepada diri sendiri tentang tujuan apa yang kita lalui di hidup ini. Apakah ontologi kehidupan? Lalu apakah aksiologinya? Serta bagaimana epistemologinya? Banyak spekulasi jawaban yang bermunculan bersamaan dengan berlalunya sejarah. Hidup yang kita lalui adalah sebuah pertanyaan bagi yang tidak mengetahui hakikat kehidupan.
Apakah kehidupan itu? Apakah sebuah drama tragedi Nietzsche? atau sebuah penderitaan Sidharta Gautama? Atau misi penyelamatan suci Yesus Kristus? Apasih tujuan kehidupan itu? Apakah “Tathagatha” Buddha? atau kematian menurut Abraham Maslow? Lalu harus bagaimana cara mengarungi kehidupan itu? Apakah dengan aktif menyelaraskan kehidupan sebagaimana diajarkan Konfusius? ataukah dengan asketisme Ibnu Arabi?
Teringat dengan ucapan seorang Buya Hamka ulama besar yang lahir dari rahim Persyarikatan Muhammadiyah :
“Kalau hidup sekedar hidup babi di hutan juga hidup, kalau bekerja sekedar bekerja kera pun bekerja.”
Hidup penuh dengan renungan, kalau tak ada renungan bukanlah hidup. Kita harus merenungi apa yang terjadi dan yang akan terjadi dan sudah lama terjadi.
Sebersit didalam suatu renungan ketika seseorang beranjak menapaki hidup, “Siapakah kita? Darimana kita berasal? Dimana kita sekarang? Apa yang kita cari disini?”
Sebersit Jalaluddin Rumi membisiki kita dengan syair—syair cinta yang memabukkan bahwasannya hidup beserta ruangnya adalah penjara.
Dengan segala keterasingan manusia berpijak dan dengannya ia beranjak untuk bergerak memerdekakan.
Dengan perasaan yang terpenjara dan bahagia sekian orang mengasing terhadap dunia, menyendiri, membuat dunia sendiri. Lama berselang banyak orang tak beranjak dari keterasingan, akan tetapi semoga ia merasa ada sesuatu yang urung sesuai dengan apa yang dikatakan sebagai “manusia”.
Kebingungan bermula dalam melihat nash-nash ilahi bahwasannya derajat ahli ilmu lebih tinggi daripada derajat ahli ibadah,
“Keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para nabi, Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu, barangsiapa yang mampu mengambilnya, berarti dia telah mengambil kuntungan yang banyak.”
(HR Abu Dawud-Tirmidzi)
Memasuki derajat ini, mari coba resapi sebuah ayat yang sangat membekas dalam relung kalbu,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam sungguh merupakan tanda-tanda bagi orang yang berpikir.”
(QS. Ali-Imran: 190)
Berpikir? Mengapa berpikir? Mengapa berpikir lebih utama daripada terus beribadah mencapai kebahagaiaan dan menyatu dengan-Mu? Seolah diriku telah mereguk anggur dengan lezatnya dan diriku diperintah untuk minum selainnya.
Teringat ucapan Rene Descartes seorang filosof Perancis, “Cogito ergo sum.”, aku berpikir maka aku ada. Apa yang dimaksud ada? Apa yang dimaksud tiada? Jika kita berpikir maka kita ada dan senantiasa hidup di dunia ini.
Ketika stagnasi berpikir membuat kita mandek dan tidak punya daya kreasi disitulah kematian kita. Karena kematian menurutnya adalah ketika manusia tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Ucapan Descartes, menusuk sedalam-dalamnya ke relung hati yang sedang asyik mereguk anggur kenikmatan.
Manusia harus berpikir! Akan tetapi bagaimana cara berpikir? Apakah harus mengkhianati Allah Swt yang telah memberi rahmat, dan mengikuti Descartes yang berpikir sebebas-bebasnya
Manusia pun berpikir tentang berpikir, tentang bagaimana cara berpikir. Berpikir membutuhkan sumber, sedangkan sumber harus terjaga validitasnya. Maka dari manusia harus berilmu, kalau seperti itu, ilmu apa yang dituntut?
Einstein pernah mengatakan, “Ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu lumpuh.” Sebagai seorang Yahudi taat sekaliber Einstein ucapannya perlu dipertimbangkan. Jadi ilmu harus disandarkan kepada sesuatu yang haq.
“Kebenaran itu hanya dari tuhanmu, maka janganlah kamu sekalian beragu (dengan kebenaran tuhanmu)” (QS. Al-Baqarah : 147)
Akan tetapi, semenjak kemunculan filsafat humanistik pada era J.J. Rosseau, Abraham Maslow, Carl R. Rogers, kebenaran diukur oleh konsensus sejumlah manusia. Para filsuf peripatik sebelumnya masih menghargai tuhan walaupun tuhan yang dianggap mereka dengan kita berbeda, seperti halnya Tuhan Aristoteles yang dinamakan akal murni merupakan penggerak yang tidak digerakkan.
Puncak dari sekularisasi kettuhanan, adalah ungkapan Nietszche yang menyatakan bahwa “tuhan telah mati”! Sebuah pernyataan yang mencengangkan pada saat itu. Setelah sekularisasi besar-besaran yang dilakukan lalu menghilangkan nilai kebenaran mutlak yang bisa disebut tuhan, standar nilai terjun bebas menjadi relativisme nilai.
Filsafat dan sains menggantikan peran privat agama, merongrong, serta membuat kering kehidupan. Hidup menjadi tak jelas arahnya, karena hidup merupakan spekulasi. Orang yang muda bersenang-senang ingin mencari kebahagiaan, karena relativisme nilai akhirnya mendekat ke budaya hedonistik lainnya.
Sedangkan orang yang lebih dewasa sudah mencari pekerjaan dan mempunyai anak yang berkelakuan sama dengan dirinya terdahulu. Pekerjaan yang dilakukan terasa sia-sia karena hanya dilakukan untuk hura-hura. Pekerjaan yang dilakukan juga tanpa arah dan tanpa integritas karena relativisme nilai.
Selepas ketidakjelasan pekerjaan yang dilakukian anaknya membesar dan orang itu menjadi tua. Orang tua berharap orang yang lebih muda bisa memperbaiki hidup tidak seperti dirinya. Penyesalan ketika tua muncul karena ketidak jelasan hidupnya. Tanpa menunggu lama maut menjemput dan itulah yang disebut drama tragedi kehidupan Nietszche.
Maka dari itu jelaslah rasanya, kalau kehidupan ini jangan dilepaskan dari agama, Allah SWT berfirman :
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`kmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
(Q.S. Ali-Imran :103)
Di dunia ini tidak ada sesuatu yang baru, yang ada hanya pengulangan kejadian yang disebut kausalitas. Pada ayat diatas merupakan nasehat dari Tuhan yang muncul menuntun kausalitas kehidupan.
Berikhtiar menjadi manusia yang sejati, yakni manusia sesuai dengan definisi manusia menurut Allah SWT bersama tujuan penciptaannya.
Muhammad Naquib Al-Attas mengatakan,
“The man of Islam is he whose reason and language are no longer controlled by magic, mythology, animism, his own national and cultural traditions and secularism. He is liberated from both the magical and the secular world”
“Manusia dalam Islam adalah yang tujuan dan bahasanya tidak dikendalikan oleh sihir, mitos, animisme, dan tradisi kultural dan nasionalnya, dan juga sekularisme. Dia terbebas dari dunia sekular maupun dunia magis.”
Ketika Malaikat Jibril bersama Nabi SAW di Gua Hira, dengan suasana mencekam Jibril mengucapkan, ”Iqra !” hingga tiga kali, karena apa? Karena Rasulullah SAW seorang yang tak mampu membaca. Maka dari itu perintah membaca untuk menuntut ilmu sangat mulia dalam Islam.
Tak hanya Islam tetapi awal penciptaan manusia saja, Nabi Adam AS langsung diajari nama-nama benda bukan tata cara beribadah kepada Allah SWT,
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama itu semuanya, kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat lalu Dia berfirman: ” Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang benar.” Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”
(Al-Baqarah :32-33)
Setelah itu barulah Adam disuruh untuk beribadah yakni dengan ketaatannya untuk menjauhi dan tidak memakan buah khuldi, karena hal itu merupakan sebuah kedzaliman kepada Allah SWT.
Inilah hakikat manusia menurut Murtadha Muthahhari,seorang reformis yang ikut mendirikan Republik Islam Iran bersama Khomeini. Dikatakan bahwasannya perbedaan antara manusia dengan makhluk lain terletak pada Iman dan Ilmu.
Ketika berbicara iman sudah jelaslah bagaimana iman itu menurut nash-nash yang banyak dipelajari. Akan tetapi terkadang dalam memandang ilmu penulis merasa sering gusar mengapa orang banyak mengelompokkan ilmu menjadi dua, yakni ilmu umum dan ilmu agama.
Setelah sekian lama menuntut ilmu dalam pelbagai disiplinnya, patut dipertimbangkan kaul Syed Muhammad Naquib Al-Attas, seorang ulama kharismatik dari negeri Jiran, melalui bukunya “Risalah Untuk Kaum Muslimin” serta “Islam and Secularism”. Menurutnya ilmu itu merupakan sesuatu yang integral dengan agama sebelum terjadinya sekularisasi besar-besaran yang merupakan penetrasi peradaban barat terhadap Islam. Sebutlah saja ini gerakan reconquista (balas dendam) dalam artian luas kepada peradaban Islam. Maka dari itu perlulah kita kembali ke khazanah kebudayaan kita.
Akan tetapi yang lebih menarik, beliau menjelaskan bahwasannya ilmu itu terbagi menjadi dua, pertama adalah ilmu sebagai pengenalan. Apa maksudnya?
Terfikir untuk mencari dan menyelami alam pemikiran Al-Attas. Yang dimaksudkan ilmu adalah pengenalan ialah sampainya jiwa pada makna. Yakni manakala jiwa seseorang telah mengetahui darimana ia berasal, dimana posisi dia sekarang, akan kemana ia hidup, apa tujuan ia hidup, dan langkah apa yang ia lakukan untuk mencapai tujuan hidup tersebut. Inilah pengetahuan primer yang harus dimiliki oleh setiap muslim.
Mengapa muslim? Karena pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya terdapat dalam Dinul Islam. Sedangkan yang kedua adalah pengetahuan. Dijelaskan bahwasannya pengetahuan itu ialah sampainya makna pada jiwa. Dalam artian ada suatu “hal” dari luar diri kita yang masuk dan merasuk mencapai diri kita. Disebut makna karena dalam mengarungi samudera kehidupan kita membutuhkan sasuatu untuk menyingkap rahasia dibalik kosmos. Yang dinamakan rahasia itulah yang dinamakan ketidaktahuan.
Manusia bertanya, apakah mereka sudah mempunyai ilmu yang wajib diketahui? Siapa manusia itu? Darimanakah manusia? Dimanakah manusia berada? Untuk apa manusia hidup? Kemana tujuan manusia ini? Apa yang dicari manusia di dunia ini ? Kiranya pertanyaan terakhir ini terjawab dengan suatu ayat,
“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan puas dan diridhai (oleh tuhanmu), masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, masuklah kedalam surgaku.”
(QS. Al-Fajr : 27-30)
Yogyakarta, 2017
*Arsyad Arifi, mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences, mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta asal Yogyakarta.