Seringkali kita bertanya kepada diri sendiri tentang tujuan apa yang kita lalui di hidup ini. Apakah ontologi kehidupan? Lalu apakah aksiologinya? Serta bagaimana epistemologinya? Banyak spekulasi jawaban yang bermunculan bersamaan dengan berlalunya sejarah. Hidup yang kita lalui adalah sebuah pertanyaan bagi yang tidak mengetahui hakikat kehidupan.

Apakah kehidupan itu? Apakah sebuah drama tragedi Nietzsche? atau sebuah penderitaan Sidharta Gautama? Atau misi penyelamatan suci Yesus Kristus? Apasih tujuan kehidupan itu? Apakah “Tathagatha” Buddha? atau kematian menurut Abraham Maslow? Lalu harus bagaimana cara mengarungi kehidupan itu? Apakah dengan aktif menyelaraskan kehidupan sebagaimana diajarkan Konfusius? ataukah dengan asketisme Ibnu Arabi?

Teringat dengan ucapan seorang Buya Hamka ulama besar yang lahir dari rahim Persyarikatan Muhammadiyah :
Kalau hidup sekedar hidup babi di hutan juga hidup, kalau bekerja sekedar bekerja kera pun bekerja.”

Hidup penuh dengan renungan, kalau tak ada renungan bukanlah hidup. Kita harus merenungi apa yang terjadi dan yang akan terjadi dan sudah lama terjadi.