‹ Kembali ke Beranda
Hadis · Tokoh

Cara Santun Imam Bukhari Menilai Perawi: Istilah Jarh wa Ta’dil

Oleh Fithrotun Nufus·19 Juli 2026·0
Cara Santun Imam Bukhari Menilai Perawi: Istilah Jarh wa Ta’dil

Majalahnabawi.com – Pernahkah kita mengoreksi orang lain tanpa ingin menjatuhkan harga dirinya? Hal tersebut yang imam Bukhari lakukan. Dalam istilah kritik hadis atau ilmu jarh wa ta’dil yang ketat, imam Bukhari justru memilih istilah-istilah yang tidak sama dengan ulama’ hadis yang lain.

Beliau lebih memilih istilah yang lebih halus dan menjaga pribadinya dari kata-kata kasar dalam mengkritik suatu hadis, sebagaimana beliau menjaga kemurnian sabda Nabi Saw. Pemilihan istilah kritik hadis yang unik ini merupakan gaya khas yang beliau miliki dalam ilmu jarh wa ta’dil.

Karakteristik Penilaian Imam Bukhari

Para ulama hadis pada umumnya menggunakan istilah keras seperti kadzdzab (pendusta) atau wadhdha’ (pemalsu hadis), sedangkan imam Bukhari lebih memilih ungkapan yang samar namun mengindikasikan adanya celaan serius terhadap perawi tersebut. Ini para ulama sebut juga sebagai bentuk ta’ridh (sindiran) dalam jarh.

Meskipun istilah yang beliau pilih terkesan lembut, tapi sebenarnya penilaiannya memiliki standar yang ketat. Makna ungkapan yang ulama lain anggap ringan, justru berbentuk istilah ketat yang imam Bukhari pakai dalam jarh yang berat. Seperti contohnya fihi nadhar

Imam Bukhari memilih menerapkan kalimat-kalimat lembut dalam jarh tersebut, karna beliau sangat memperhatikan kehormatan perawi. Beliau tidak ingin mencela terlalu keras atau pun merendahkan perawi yang lain. Sifat yang beliau miliki ini merupakan sifat wara’ yang sudah tertanam dalam diri beliau, dan juga sebagai bentuk menjaga periwayatan hadis Nabi Saw.

Istilah-Istilah Jarh Imam Bukhari

Dalam kitab At-Tarikh Al-Kabir tersebutkan ada 3 istilah yang menonjol, seperti:

  ( Fihi nadhar) فيه نظر

Perlu kita teliti ulang. Jarh dengan ungkapan ini terkenal sebagai ungkapan kritik paling berat. Bahkan Imam Bukhari pernah berkata: “Jika aku mengatakan, pada hadisnya perlu perhatian (fi hadisihi nadhar). maka ia adalah seorang yang tertuduh dan lemah.”

(Sakata anhu) سكت عنه

Tidak ada komentar. Jika beliau mendiamkan seorang perawi, berarti perawi tersebut ternilai sebagai tidak layak untuk menjadi hujjah karna lemah periwayatannya.

(Munkarul hadis) منكر الحديث

Hadisnya mungkar. Jika beliau sudah mengklaim dengan istilah ini maka periwayatannya kita tinggalkan atau tidak boleh kita ambil periwayatannya.

Istilah-Istilah Ta’dil Imam Bukhari

Selain jarh, imam Bukhari juga punya ciri khas terhadap ungkapan ta’dil (pujian). Bahkan ungkapan dalam ta’dil lebih banyak, daripada ungkapan untuk jarh. Berikut istilah-istilah dalam ta’dil yang dipakainya:

(Tsiqah) ثقة

Ungkapan ini dianggap sebagai ungkapan tertinggi dalam istilah ta’dil. Yang mana sebutan ini untuk perawi yang jujur dan hafalannya kuat

(Shahihul hadis) صحيح الحديث

Ungkapan ini menunjukkan bahwa hadis tersebut sahih, sehingga bisa diterima dengan baik.

(Muqaribul hadis) مقارب الحديث

Istilah ini unik, karna tidak banyak digunakan ulama lain. Ungkapan ini menunjukkan bahwa hadis tersebut, perawinya mirip atau hampir setara dengan perawi tsiqah lainnya.

Dan masih banyak lagi ungkapan ta’dil dari imam Bukhari, karna memang umumnya ungkapan ta’dil dari imam Bukhari hampir sama dengan ulama’ lain, kecuali muqaribul hadis yang mana itu adalah ciri khas beliau.

Bagikan: