Apakah Kiamat itu Nyata atau Dongeng Umat Terdahulu? Telaah Tafsir Ilmi

Majalahnabawi.com – Belakangan ini kerap kali kita saksikan bentuk kezaliman, kesewenangan, dan kejahatan di mana-mana, baik bisa kita saksikan secara langsung maupun melalui media sosial. Maraknya kasus pencurian motor dan korupsi di berbagai sektor: MBG, PT Tambang, Bea Cukai, dan lain-lain. Melihat pula kita bengis dan tidak berperikemanusiaannya Israel pada rakyat Palestina yang tidak usai.
Secara naluriah manusia, hati kita gentar, kesal, dan ingin melakukan sesuatu dengan harapan agar pelaku kejahatan mendapat balasan yang setimpal. Tetapi faktanya tidak sesuai harapan. Yang kuat akan selalu menang, yang memiliki harta dan kuasa akan selalu aman atau setidaknya mendapat hukuman yang ringan. Berbanding terbalik, yang tidak mempunyai kekuatan, harta, dan kuasa akan merasa dunia dipandang sempit dan tidak adil.
Dalam keyakinan agama Islam, terdapat Hari Kiamat, di mana setiap manusia akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang yang telah ia perbuat. Jika keyakinan tentang adanya Hari Kiamat ini kita kaitkan dengan fenomena yang penulis jelaskan di atas, maka dampaknya akan menghadirkan ketenangan. Segala bentuk ketidakadilan maupun kezaliman pasti akan mendapat balasan setimpal serta menuntut diri agar selalu berhati-hati dalam segala tindak-tanduk di dunia.
Urgensi Meyakini Keberadaan Hari Kiamat
Mengapa harus ada Hari Kiamat? Karena manusia mendambakan keadilan, bahkan orang jahat sekalipun. Kita lihat alangkah banyaknya orang-orang baik yang masuk penjara dan terkena siksa. Alangkah banyaknya juga orang-orang yang melakukan kejahatan bebas dari hukuman atau tidak mendapat balasan yang setimpal.
Maka dari itu, perlu adanya Hari Kiamat. Sebab keadilan di dunia ini belum sempurna. Keadilan yang sempurna kelak di Akhirat oleh Hakim yang Maha Adil, Allah Swt (Qurais Shihab, Renkarnasi Manusia setelah Kematian).
Mungkin terbesit pertanyaan di benak pembaca, apakah nyata adanya Hari Kiamat? Apakah mungkin pula manusia yang sudah wafat dapat bangkit kembali? Pada artikel ini, penulis akan berupaya meyakinkan pembaca bahwa Hari Kiamat itu ada.
Hari Kiamat itu Nyata, Pendekatan Tafsir ‘Ilmi
Dahulu orang-orang kafir mengingkari adanya hari Kiamat dengan berdalih, apakah mungkin apabila kami telah mati serta tulang belulang yang sudah menyatu dengan tanah dapat dibangkitkan kembali? Apakah Tuhan dapat membedakan satu sama lain?
Statemen atau pernyataan orang-orang kafir ini direkam dalam Alquran. Pembaca akan banyak menjumpainya di beberapa ayat dalam surat-surat Alquran. Di antara surat yang berbicara tentang keraguan mereka adalah (QS. Al Qiyamah : 3-4)
اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَهٗ بَلٰى قَادِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗۗ
Ketika Allah menanyakan dengan maksud menyangkal mereka, apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Bahkan, kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.
Pada ayat ini, penulis menafsirkan dari segi corak tafsir ‘ilmi, yaitu usaha seorang mufasir untuk mengungkapkan keterikatan ayat kauniyyah dalam Alquran dengan berbagai penemuan sains modern guna menampakan kemukjizatan Alquran, menunjukkan bahwa Alquran bersumber dari Allah, serta menunjukkan bahwa Alquran selalu relevan di setiap zaman dan tempat. Demikian kurang lebihnya menurut Dr. Fahd bin Abdurrahman Ar-Rumi.
Menarik untuk dibahas kenapa sekiranya Allah menyinggung jari-jemari untuk menjawab keraguan mereka. Karena jari-jemari itu termasuk tulang yang paling kecil.
Jika Allah mampu untuk menyusun kembali tulang yang paling kecil saja, pastilah Allah Maha Kuasa untuk mengumpulkan tulang belulang yang lebih besar. Bahkan, mengumpulkan kembali tulang belulang manusia secara lengkap sama halnya ketika ia masih hidup.
Pengakuan Ilmuan Modern
Setiap jari-jemari manusia memiliki sidik jari. Para ilmuwan telah mencoba melakukan riset tentang sidik jari manusia. Ternyata, ada satu hal yang menakjubkan dari hasil riset tersebut.
Ilmuwan yang berhasil menemukan dan membuktikan hal yang menakjubkan itu ialah Sir Francis Galton, seorang ilmuwan Inggris pada abad ke-19 yang membuktikan secara ilmiah bahwa sidik jari setiap manusia bersifat unik dan permanen sepanjang ia hidup.
Apa sifat unik dan permanen tersebut? Setiap manusia memiliki sidik jari yang berbeda dengan yang lainnya, bahkan sampai anak kembar pun memiliki sidik jari yang berbeda. Oleh sebab itu, sidik jari biasa digunakan untuk menunjukkan identitas seseorang.
Ketika hendak membuat KTP, perlu menggunakan sidik jari. Membuat keamanan di HP atau Android menggunakan sidik jari pula. Begitu pun untuk mengungkapkan kasus tindak pidana, sidik jari berperan sangat penting.
Ketika seorang ilmuwan Inggris ini baru menemukannya pada abad kesembilan belas, Alquran sudah lebih dahulu menyinggung tentang hal tersebut jauh pada empat belas abad yang lalu, shadaqa Allah wa shadaqa Rasuluhu.
Penutup
Pembaca yang budiman, bayangkan jumlah penduduk di dunia sekarang sekitar 8,3 miliar jiwa dan semuanya memiliki sidik jari yang berbeda satu sama lain tanpa terkecuali, bahkan anak kembar sekalipun. Sungguh ini adalah salah satu bukti dari mukjizat Alquran yang bisa dibuktikan secara ilmiah dan masih bisa kita saksikan hingga saat ini. Terjawab lah sudah dugaan orang-orang kafir tentang keraguan mereka akan adanya hari kebangkitan setelah kematian.
Dengan demikian, jika kita merenungi ayat terkait penjelasan dan bukti ilmiah tersebut, maka wajib lah kita meyakini dan memang sudah sepantasnya kita meyakini. Bahwa hari kiamat itu ada: tahapan setelah kematian manusia, alam kubur, hari kebangkitan, padang mahsyar, hari perhitungan, dan lain-lain.
Semua itu nyata, dan akan dialami oleh semua manusia. Jasad dan tulang belulang kita yang sudah menyatu dengan tanah, Allah Maha Kuasa untuk membangkitkan kembali, bahkan untuk membedakan satu sama lain.
Allah Swt berfirman: Dan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (QS. Al Hajj : 7)
Semua manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah dilakukannya selama di dunia, maka dari itu marilah sama-sama kita menyiapkan bekal sebelum datangnya hari akhir, yaitu hari kiamat.