‹ Kembali ke Beranda
Al-Quran · Nabawi Digital

Algoritma sebagai Mufasir Baru: Dekonstruksi Otoritas Tafsir Digital dan Potensi Bias Kognitif

Oleh Alif ryansa falah·20 September 2026·0
Algoritma sebagai Mufasir Baru: Dekonstruksi Otoritas Tafsir Digital dan Potensi Bias Kognitif

Majalahnabawi.com – Sore itu, kepulan asap kopi dan bising kendaraan di sekitaran jalan Ir. H. Juanda, Ciputat, mengiringi ibu jari saya yang terus menggulir linimasa. Tanpa sadar, saya sudah menghabiskan hampir satu jam menatap layar.

Satu video lewat: seorang pemuda dengan ring light terang membedah ayat suci, memvonis sesat amalan tertentu dengan nada berapi-api. Satu usapan ke atas, muncul video lain. Kali ini, seorang penceramah muda mengajak penonton untuk bersedekah dengan menawarkan janji balasan secara instan, sementara musik latar yang kami gunakan turut membangun suasana emosional agar penonton merasa terharu.

Saya menyeruput kopi yang mulai dingin dan merenung sejenak. Di ruang digital yang riuh ini, kita tidak lagi berjalan kaki menyusuri gang-gang majelis untuk mencari tafsir. Tafsir-lah yang kini secara agresif memburu kita.

Ketika Tafsir Datang Mengejar Kita

Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang luput dari kegelisahan batin kita: siapa sebenarnya yang memilah, menyeleksi, dan menyodorkan tafsir-tafsir itu tepat ke depan mata kita?

Jawabannya bukan kiai sepuh yang menghabiskan puluhan tahun menelaah kitab kuning di pesantren. Bukan pula forum bahtsul masail yang ketat menakar metodologi pengambilan hukum. Sang ‘mufasir’ penentu itu kini tak berwajah dan tak bernapas.

Ia bernama algoritma, deretan kode biner ciptaan para teknolog di Silicon Valley. Dahulu, masyarakat mengukur otoritas keagamaan berdasarkan kedalaman sanad, panjangnya rihlah keilmuan, dan moralitas sang guru. Kini, otoritas itu mengalami dekonstruksi secara brutal.

Ketika Engagement Menjadi Ukuran Otoritas

Standar kesahihan bagi algoritma bukanlah kebenaran epistemologis. Algoritma sama sekali buta huruf terhadap bahasa Arab, apalagi ilmu mantiq. Ia hanya peduli pada satu hal: metrik engagement.

Seberapa banyak orang menonton, menyukai, dan membagikan konten tersebut, serta seberapa ramai perdebatan yang muncul di kolom komentar. Itulah “kitab suci” bagi algoritma. Kefasihan retorika dan kecanggihan editing visual sukses menutupi kedangkalan substansi.

Seseorang bisa mendadak menjadi rujukan mutlak bagi jutaan umat hanya karena berhasil menaklukkan algoritma For You Page (FYP).

Mari sejenak menengok tradisi keilmuan Islam yang berlapis. Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (Cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, Vol. 2) secara ketat merinci syarat seseorang boleh menafsirkan teks suci.

As-Suyuthi menjelaskan bahwa seorang ulama setidaknya harus menguasai 15 cabang ilmu secara mutlak. Mulai dari nahwu, sharaf, balaghah, ushul fiqih, asbabun nuzul, hingga ilmu mauhibah (ilmu pemberian Allah bagi jiwa yang bersih).

Syarat yang mana para ulama terdahulu mengajukan begitu ketat karena mereka sadar bahwa berbicara atas nama Tuhan adalah tanggung jawab kosmis yang berat. Sementara bagi algoritma, tafsir tak lebih dari sekadar komoditas untuk mengeruk atensi.

Ketika Algoritma Memelihara Bias dan Ghurur

Kondisi ini menjebak masyarakat muslim modern pada lubang bias kognitif yang mematikan. Mesin pencari dan media sosial memang terancang untuk memanjakan apa yang sudah kita sukai atau yakini sebelumnya.

Jika seseorang memiliki benih kebencian atau antipati terhadap kelompok tertentu, algoritma akan terus menyuapinya dengan dalil-dalil, potongan ceramah, dan narasi yang menebalkan kebencian tersebut.

Kita tanpa sadar terpenjara dalam filter bubble (gelembung filter) dan echo chamber (ruang gema). Agama yang sejatinya diturunkan untuk mendobrak ego dan memperluas ruang welas asih, justru melenceng jauh dari tujuan utamanya.

Pemahaman agama kita akhirnya hanya menjadi cermin pembenar bagi hawa nafsu dan prasangka sempit. Kita merasa paling benar karena seluruh beranda media sosial kita seolah secara aklamasi menyetujui pikiran kita.

Fenomena ini sangat lekat dengan peringatan Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, Ihya Ulumuddin (Kitab Dzamm al-Ghurur, Cetakan Dar al-Minhaj, Jeddah). Al-Ghazali mewanti-wanti keras bahaya ghurur, yakni delusi atau keterperdayaan spiritual.

Dalam konteks hari ini, algoritma adalah pabrik ghurur paling efektif dalam sejarah umat manusia. Kita merasa telah belajar agama dengan keras, merasa hari demi hari sedang berjalan semakin dekat kepada Tuhan.

Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah kita sedang menuruti kalkulasi mesin yang memanjakan ilusi kesalehan kita semata. Ruang dialog yang jernih menjadi mati, digantikan oleh monolog digital massal yang memekakkan telinga.

Mengembalikan Kesadaran Spiritual di Tengah Bisingnya Algoritma

Tulisan ini tentu bukan ajakan luddite untuk memusuhi gawai, membakar kuota, atau antipati terhadap dakwah digital. Teknologi tetaplah medium netral. Namun, kita tidak boleh membiarkan algoritma mengambil alih kursi ‘sutradara’ dalam kesadaran spiritual kita.

Ini adalah panggilan mendesak untuk merekatkan kembali sanad intelektual kita di dunia nyata. Kita harus merawat literasi digital yang kritis, menyadari sepenuhnya bahwa pendaran cahaya dari layar ponsel bukanlah representasi mutlak dari wahyu langit.

Sesekali, kita memang butuh jeda dari kebisingan ini. Meletakkan gawai, mematikan koneksi internet, lalu kembali duduk merunduk membuka lembaran kitab fisik di hadapan guru yang bernapas dan memiliki keluhuran nurani.

Jangan sampai kehausan spiritual kita direduksi menjadi sekadar ritual scroll linimasa tanpa henti yang melelahkan pikiran.

Sebab sungguh ironis dan menyedihkan, jika Tuhan yang setengah mati kita cari-cari di dunia maya, pada akhirnya hanyalah proyeksi dari algoritma riwayat pencarian (search history) kita sendiri.

Bagikan: