‹ Kembali ke Beranda

Menjaga Bumi, Menjaga Sunah Nabi

Oleh Khaerul Umam·17 September 2026·0
Menjaga Bumi, Menjaga Sunah Nabi

Majalahnabawi.com – Suatu hari, Sa’ad bin Abi Waqqash berwudu. Air mengalir cukup deras dari tangannya, mungkin lebih banyak dari yang ia butuhkan. Rasulullah Saw. yang melintas menegurnya, “Mengapa berlebihan ini, wahai Sa’ad?” Sa’ad terheran, “Apakah dalam berwudu ada istilah berlebihan?” Nabi menjawab dengan kalimat yang seharusnya membuat kita semua terdiam: “Ya, meskipun engkau berada di tepi sungai yang mengalir.”

Bayangkan saja, sungai yang mengalir sebagai simbol kelimpahan yang seolah tak akan habispun tidak menjadi alasan untuk boros. Sebuah teguran kecil soal air wudu, tetapi menyimpan seluruh filosofi tentang bagaimana seorang muslim mesti memperlakukan bumi dan segala isinya.

Sunah yang Jarang Kita Sebut Sunah

Ketika mendengar kata “sunah”, benak kita biasanya melompat ke ruang yang sudah akrab: bersiwak, salat sunnah rawatib, adab makan dengan tangan kanan, memelihara jenggot. Memang semuanya itu benar, akan tetapi ada satu dimensi sunnah yang nyaris tak pernah kita namai sebagai sunah, padahal Nabi Saw. mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh yaitu “kepedulian terhadap alam”.

Kita hafal betul bahwa mencintai Nabi berarti menghidupkan sunnahnya. Namun anehnya, kita sering membatasi “menghidupkan sunah” hanya pada ritual, dan melupakannya dalam hal cara kita memperlakukan air, tanah, pohon, dan makhluk hidup. Padahal, di sanalah sebagian akhlak Rasulullah yang paling mendasar dan penting.

Al-Qur’an menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardh, wakil yang diberi amanah mengelola bumi (QS al-Baqarah: 30). Amanah, bukan kepemilikan mutlak. Karena itu, ada batas yang tak boleh dilanggar. Allah menegaskan, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik” (QS al-A’raf: 56).

Peringatan itu terasa semakin nyata hari ini, sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia” (QS ar-Rum: 41). Ayat yang turun berabad-abad silam itu seolah menjadi keterangan berita hari ini bahwa banjir yang datang menjadi lebih sering, udara kota yang kian sesak, sampah plastik yang menumpuk di sungai dan pantai, hutan yang menyusut, dan cuaca yang makin sukar ditebak. Kerusakan itu, kata al-Qur’an, “disebabkan perbuatan tangan manusia”—bukan takdir yang jatuh dari langit, melainkan buah dari kelalaian kita sendiri.

Menanam, Merawat, Menyayangi

Di tengah semua itu, Rasulullah Saw. mewariskan teladan yang sangat membumi. Beliau bersabda, “Tidaklah seorang muslim menanam sebuah pohon atau menabur sebuah benih, lalu ada burung, manusia, atau hewan yang memakan darinya, melainkan itu menjadi sedekah baginya” (HR Bukhari dan Muslim). Beliau juga menetapkan hima, kawasan lindung yang tak boleh dirusak atau dieksploitasi sembarangan, jauh sebelum dunia modern mengenal istilah “kawasan konservasi”. Dalam soal air, seperti teguran kepada Sa’ad tadi, beliau melarang pemborosan bahkan ketika sumbernya melimpah sekalipun.

Selain itu, kasih sayang beliau tidak hanya berhenti pada tumbuhan saja. Rasulullah mengabarkan seorang perempuan yang celaka karena mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan, dan sebaliknya seseorang yang diampuni dosanya hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan (HR Bukhari dan Muslim). Dari riwayat ini, ada sebuah pesan yang mendasar bahwa rahmat kepada makhluk yang paling kecil sekalipun bisa menjadi jalan menuju surga atau neraka.

Bahkan kebersihan, yang kita anggap urusan remeh, oleh Nabi ditempatkan sebagai bagian dari iman. “Kesucian adalah sebagian dari iman,” (HR Muslim). Menjaga lingkungan tetap bersih, tidak mengotori sumber air, tidak membuang sampah sembarangan itu semua bukan sekadar anjuran kesehatan, melainkan cabang dari keimanan.

Perlu diingat bahwa kepedulian pada lingkungan bukanlah tren impor dari Barat yang perlu kita curigai, dan bukan pula sekadar gaya hidup kaum urban yang gemar tampil ramah lingkungan di media sosial. Bagi seorang muslim, ia adalah sunah yang sedang menanti untuk dihidupkan kembali.

Ketika kita menghemat air, kita sedang meneladani teguran Nabi kepada Sa’ad. Ketika kita menanam satu pohon di halaman, kita sedang membuka pintu sedekah jariyah. Ketika kita memilah sampah dan mengurangi plastik, kita sedang menjaga bumi dari fasad yang dilarang oleh al-Qur’an. Ketika kita tidak menyakiti hewan dan tidak menebang pohon sembarangan, kita sedang mewarisi kelembutan hati Rasulullah.

Ironis rasanya ketika banyak orang yang begitu bersemangat menghidupkan sunnah dalam bentuk lahiriah, tetapi lupa bahwa cara Nabi memperlakukan bumi juga adalah sunnah. Kita merawat penampilan agar tampak islami, sementara sungai di dekat rumah kita penuh sampah dan udara yang kita hirup makin kotor. Padahal keduanya seharusnya berjalan beriringan.

Menjaga bumi bukanlah proyek sampingan yang terpisah dari agama. Ia adalah ibadah, ia adalah akhlak, dan ia adalah sunnah. Rasulullah Saw tidak hanya mengajari kita cara salat dan berpuasa, tetapi juga mengajari cara mencintai air, tanah, pohon, dan setiap makhluk yang berada di muka bumi ini. Maka boleh jadi, salah satu bentuk kecintaan kita kepada Nabi yang paling nyata dan paling kita butuhkan hari ini adalah dengan menjaga bumi yang beliau ajarkan untuk dirawat. Sebab menjaga bumi, pada hakikatnya adalah menjaga sunah Nabi.

Bagikan: