Kolom Khadim Mahad

Bagaimana Rasulullah SAW Menentukan Awal Puasa dan Lebaran?

Ketika menjelang terbenamnya matahari akhir bulan Sya’ban, para ulama sibuk berdiskusi menentukan awal puasa. Begitu juga ketika menjelang matahari terbenam di ufuk  barat pada akhir bulan Ramadan. Hal tersebut sangat membuat resah umat Islam di Indonesia, apakah shalat tarawih sudah boleh dilaksanakan atau sudah tidak diperbolehkan. Dari hal itu, timbul pertanyaan, sebenarnya metode apa yang dipakai Rasulallah SAW dalam menentukan awal Ramadhan dan Syawal?

Dalam rangka membimbing umat Islam untuk menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah, Rasulullah SAW bersabda:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَانْسُكُوْا لَهَا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ ثَلَاثِيْن

Berpuasalah kamu karena melihat bulan (Ramadan), berlebaranlah kamu karena melihat bulan (Syawal) dah berhajilah kamu karena melihat bulan (Zulhijah). Apabila bulan tidak terlihat, maka genapkanlah bulan yang sedang berjalan menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari, Muslim, Ashab al-Sunan, dan lain-lain).

Dalam kajian Ushûl Fiqh, sabda Nabi di atas termasuk dalam katagori nash, yaitu teks agama yang pengertiannya sudah jelas, sehingga tidak memerlukan penafsiran atau ijtihad. Kendati demikian, umat Islam Indonesia tiap tahun berbeda pendapat dalam menetapkan awal bulan-bulan tersebut. karena mereka menggunakan sembilan metode, sementara Nabi SAW. hanya memerintahkan dengan dua metode saja.

Tulisan ini tidak hendak menjelaskan metode-metode tersebut, namun hanya akan menyajikan fatwa beberapa ulama perihal metode-metode tersebut.

Fatwa-fatwa itu berdasarkan urutan tarikhnya adalah sebagai berikut:

1. Imam al-Khaththabi R.A. (w. 388 H)

Dalam kitabnya Ma’âlim al-Sunan yang merupakan kitab syarah (penjelasan) dari kitab Sunan Abû Dâwud. Imâm al-Khaththâbî menyatakan bahwa penggunaan metode hisab untuk menentukan awal Ramadhân, Syawâl, dan Dzûl Hijjah baru muncul pada abad ke-4 H. Pernyataan ini secara eksplisit menunjukan bahwa menggunakan metode hisab untuk menetapkan awal bulan-bulan tersebut adalah sesuatu yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi SAW., sahabat, tabiin, dan para ulama salaf. Dalam istilah Hadis, sesuatu yang baru dalam masalah ibadah itu disebut Muhdatsaât, suatu hal yang Nabi SAW. mengingatkan umatnya agar menghindarinya, karena ia merupakan bid’ah dan menyesatkan.

 

2. Imam Ibnu Taimiyah R.A. (w. 728 H)

Dalam kitab Majmû’ Fatâwa Syeikh al-Islâm Ibn Taimiyah beliau menyatakan sebagai berikut:

Kita mengetahui dengan pasti dalam agama Islam bahwa masalah puasa Ramâdhan, Haji, ‘Iddah, Ila, dan hukum-hukum lain yang berkaitan dengan hilal tidak boleh menggunakan pendapat ahli hisab apakah dia melihat atau tidak melihat bulan. Beliau juga mengatakan, “tidak diragukan lagi bahwa Hadis-hadis dan Ijma para sahabat Nabi telah menetapkan bahwa tidak boleh menggunakan hisab dalam masalah penetapan awal bulan-bulan tersebut.” Selanjutnya apabila ada orang yang berpegangan dengan metode hisab dalam menetapkan bulan-bulan tersebut, Imâm Ibn Taimiyah R.A. menegaskan bahwa orang yang berpegang dengan ilmu hisab dalam menetapkan awal bulan tersebut, ia adalah orang yang sesat dalam syariah dan pelaku bid’ah dalam agama. Ia juga keliru menurut akal dan ilmu hisab.

Baca Juga  Aswaja dan Aswajah

3. Syekh bin Bâz R.A. (w 1419 H/1999 M)

Mufti Besar kerajaan Saudi Arabia dalam kitabnya Majmû’ Fatâwa Syeikh Bin Bâz mengatakan bahwa semua orang yang berakal sudah mengetahui bahwa hilal (anak bulan) itu sangat berbeda ketika ia dekat atau jauh dari matahari, ketika udara cerah atau tidak, dan ketika penglihatan mata setiap orang berbeda karena tajam atau lemah. Oleh sebab itu Nabi Muhammad SAW. hanya mengaitkan penetapan awal bulan dengan dua metode saja yaitu rukyat (melihat bulan) dan ikmâl (menggenapkan bulan yang sedang berjalan menjadi 30 hari, ketika bulan tidak dapat dilihat). Nabi SAW. tidak mengaitkan dengan metode lain. Oleh sebab itu dapat diketahui bahwa orang yang menggunakan metode lain dalam menetapkan awal bulan (tidak menggunakan rukyat atau ikmâl) maka dia telah membuat syariat dalam agama, sesuatu yang tidak diizinkan Allah SWT.

Fatwa Syaikh bin Bâz ini tidak berlawanan dengan dua ulama pendahulunya yaitu Imam Ibnu Taimiyah dan Imam al-Khaththabi, hanya saja beliau menggunakan bahasa yang berbeda. Kesimpulannya sama, yaitu bahwa menggunakan metode selain rukyat dan ikmâl dalam menetapkan awal bulan adalah perbuatan bid’ah dan sesat dalam agama.

 

4. Majelis Tarjih Muhammadiyah

Keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah Nomor: K. 973/66, tanggal 19 Ramadan 1376 H/ 31 Desember 1966 M tentang masalah Rukyat dan Hisab yang ditandatangani oleh H. Ahmad Badawi (Ketua) dan H. Jindar Tamimi (Sekretaris) menyatakan sebagai berikut:

Berpuasa dan berlebaran adalah dengan menggunakan rukyat dan tidak ada larangan menggunakan hisab. Hal ini berdasarkan Hadis :

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ ثَلَاثِيْن

Berpuasalah kamu karena melihat bulan, dan berlebaranlah kamu karena melihat bulan, dan apabila bulan tidak terlihat oleh kamu, maka genapkanlah bulan (yang sedang berjalan) menjadi 30 hari.” (HR. al-Bukhârî)

Baca Juga  Mengintip Tradisi Ramadan di Negeri Paman Sam

dan berdasarkan firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)” (QS. Yunus: 5).

Selanjutnya Keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah menyatakan bahwa apabila seorang ahli hisab menetapkan bahwa hilal tidak wujud, atau dia mengatakan hilal wujud tetapi tidak mungkin dapat dirukyat, sementara ada orang yang melihat bulan pada malam itu maka Majelis Tarjih berpegangan pada rukyat.

5. Buya Hamka (w 1984 M)

Pada dekade 1970-an, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan Buya Hamka mengatakan, “Saya kembali ke rukyat”. Pernyataan Buya Hamka ini boleh jadi lebih dari sekedar fatwa karena hal itu merupakan sikap.

 

6. Majlis Ulama Indonesia (MUI)

Pada tanggal 14-16 Desember 2003, Majelis Ulama Indonesia telah mengadakan ijtima ulama komisi fatwa MUI seluruh Indonesia ditambah dengan pimpinan ormas Islam tingkat nasional, pimpinan perguruan tinggi Islam tingkat nasional, dan pimpinan pesantren dari seluruh Indonesia. Ijtima (pertemuan) ini kemudian menetapkan keputusan tentang penetapan Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah. Keputusan itu kemudian secara formal dijadikan sebagai Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2 Tahun 2004, yang isinya:

  1. Pihak yang berwenang untuk menetapkan masuknya bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah untuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Menteri Agama RI.
  2. Keputusan Menteri Agama dalam menetapkan bulan-bulan tersebut berlaku untuk semua wilayah Republik Indonesia.
  3. Umat Islam Indonesia wajib menaati Keputusan Menteri Agama dalam masalah ini, dalam kapasitasnya sebagai ûlîl amrî dari mereka.

Dari beberapa pendapat di atas kita bisa menyimpulkan bahwa metode yang tepat untuk menentukan awal puasa Ramadan adalah rukyat dan ikmâl, karena metode tersebut merupakan rekomendasi langsung dari Rasul SAW. Allahu A’lam.