‹ Kembali ke Beranda

Perilaku Baik yang Terasa Sia-Sia

Oleh Kholisatun Amalia·23 September 2026·0
Perilaku Baik yang Terasa Sia-Sia

Majalahnabawi.com – Dalam kehidupan ini, hanya ada dua jenis perilaku yaitu: perilaku baik dan perilaku buruk. Namun, bagaimana pendapatmu jika kamu berperilaku baik tetapi tidak dihargai? Apakah kamu akan tetap berperilaku baik kepada siapapun? Kita dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan hadis yang menjelaskan bahwa tidak ada kebaikan yang terasa sia-sia meski kebaikan tersebut hanyalah sebuah senyuman. Hal ini Rasulullah saw bersabda:


عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، قَالَ : قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ . (رواه مسلم)


Dari Abu Dharr al-Ghifari ia berkata: Nabi saw. bersabda kepadaku: “Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun hanya engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang ramah (tersenyum).” (H.R Muslim, 2626)

Kisah Penjual Roti dan Pengemis


Dan kita bisa menjawab pertanyaan tadi melalui kisah seorang ibu penjual roti dan pengemis bungkuk. Setiap hari, ia sibuk membuat roti untuk dijual. Ia pun tak pernah lupa menyisihkan beberapa roti yang diletakkan di ambang jendela untuk mereka yang membutuhkan. Kemudian datang seorang pengemis bungkuk mengambil roti tersebut. Namun bukanlah ucapan terimakasih melainkan si bungkuk berkata “Kejahatan yang anda lakukan tetap bersama anda, kebaikan yang anda lakukan akan kembali kepada anda.”

Keesokan harinya pengemis bungkuk itu datang kembali dan mengambil roti yang disediakan sang ibu dan mengulang kalimat yang sama. Awalnya sang ibu tak menghiraukan hal tersebut. Hari demi hari pengemis bungkuk terus mengatakan demikian hingga akhirnya membuat ibu penjual roti merasa kesal karena ia menganggap ucapan dari pengemis bungkuk ialah sindiran untuknya.

Karena sang ibu penjual roti merasa kesal, ia sempat menaruh racun pada roti yang biasa ia letakan di jendela. Akan tetapi, ketika hendak menaruh roti tersebut, ia tersadar dan berkata ‘apa yang telah aku lakukan?’ ia segera mengganti roti beracun dengan roti yang baru.

Di sisi lain, sang ibu penjual roti memiliki seorang anak laki-laki yang sedang merantau jauh. Sang ibu penjual roti selalu mendoakan keselamatan anak kesayangan nya itu. Suatu malam, terdengar ketukan di pintu rumahnya. Begitu ia membuka pintu, ia terkejut melihat anaknya berdiri dengan pakaian yang sangat lusuh dan wajah yang pucat pasi. Sang ibu bertanya “apa yang terjadi padamu wahai anakku?”. Anaknya menjawab bahwa saat berada di kota yang sangat jauh, isekelompok orang merampoknya, yang membuatnya tak berdaya untuk kembali pulang. Namun, datang seorang pengemis bungkuk yang selalu memberikan roti untuknya hingga akhirnya ia dapat pulang kembali ke rumah” seketika sang ibu menyadari ucapan dari pengemis bungkuk.

Ia sangat menyesali karena sempat ingin meracuni roti tersebut.
Dari kisah inspiratif ini kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Karena segala perbuatan kita pada akhirnya akan kembali kepada diri sendiri.

Bagikan: