Enam Hikmah yang Bisa Dipetik Pemuda Muslim dari Fabrizio Romano Sang Dewa Transfer

majalahnabawi.com – Klub-klub sepak bola Eropa saat ini berupaya memperkuat armada pasukannya untuk mengarungi musim baru yang akan bergulir nanti. Membeli, meminjam atau mengorbitkan pemain menjadi hal yang dilakukan klub untuk menjalani musim kompetisi yang makin sengit.
Berbicara soal musim transfer, pastinya tak bisa lepas dari perbincangan soal desas-desus transfer pemain. Saat itulah, hanya satu manusia viral ini yang paling ditunggu-ditunggu postingannya. Beliau ini menjadi manusia paling sibuk sedunia apabila jendela transfer resmi dibuka. Dialah the one and only ‘The God of Transfer’ Fabrizio Romano.
Pakar Transfer sekaligus Jurnalis kawakan ini menjadi salah satu informan transfer paling jitu . Apapun yang keluar dari ‘lidah’ dan ‘tangannya’ itulah yang menjadi acuan mayoritas penggiat bola dunia. Apalagi ketika sudah mengeluarkan slogan pamungkas ‘Here We Go’, maka itulah kebenaran yang 99% pasti terjadi.
Romano merupakan Jurnalis yang bekerja untuk beberapa media sekaligus seperti Sky Sport, Calciomercato, dan The Guardian. Ia bahkan sudah memulai karirnya saat masih berusia 17 tahun. Berkat kerja keras dan kegigihannya, hingga kini Sang Dewa Transfer menjadi rujukan nomor wahid bagi para penggemar. Bukan hanya itu, agen pemain dan manajemen klub baik penjual atau pembeli bahkan memintanya untuk mem-blow up rumor transfer agar exposure dan bidding transfer pemain berjalan mulus.
Entah kenapa banyak sekali hal yang menarik untuk diteliti dari Bang Romano, ia semacam magnet penting bagi dunia transfer sepak bola. Bukan berarti mengecilkan pakar transfer hebat lainnya, hanya saja ada semacam daya tarik spesial dari pria kelahiran 21 Februari 1993 tahun ini. Caranya dalam mengumpulkan informasi bukan layaknya jurnalis pada umumnya, ia bagaikan sedang melakukan investigasi pembunuhan seseorang yang pelakunya masih misterius. Unik, menarik dan memiliki daya pikat yang fantastik bagi dunia sepak bola.
Seharusnya kaum muda Indonesia banyak mengambil pelajaran dari cara hidup beliau ini, bekerja dengan totalitas dan benar-benar berkomitmen tinggi. Andai saja generasi muda mencontohnya, pastilah kesuksesan dan kejayaan hidup bukan lagi fatamorgana belaka.
Menurut hasil pengamatan penulis, ada beberapa hikmah penting yang wajib dimiliki para pemuda muslim berdasarkan dari perjalanan karir Fabrizio Romano diantaranya:
1. Investigasi Informasi secara akurat, cepat dan tepat
Bagaimana kira-kira pria kelahiran kota Naples ini melakukan tugas peliputannya? Pertama, Romano melakukan investigasi dan mencari informasi dari sumber pemain yang bersangkutan. Biasanya ia menghubungi agen pemain langsung, petinggi klub seperti presiden, direktur, pelatih atau manajemen yang berkaitan dengan transfer. Kedua, ia langsung mengunjungi markas klub, hotel, tempat latihan dan sejenisnya untuk menunggu petinggi atau agen pemain plus melakukan door stop. Ketiga, agen pemain atau pihak klub langsung menghubungi ‘Bang Rom’ untuk mempublish berita tersebut agar terjadi publicity pressure untuk mendongkrak nilai pemain yang bersangkutan.
Cara Romano bekerja memang terkenal akurat , cepat dan tepat. Pihak klub dan agen pemain bahkan percaya 100% terhadap apa yang ia lakukan. Kredibilitas, integritas dan profesionalitasnya menjadi acuan bukan hanya dalam dunia jurnalistik secara khusus, bahkan dalam dunia kerja secara umum.
2. Kerja keras dan kerja cerdas
Kerja keras memang penting, tapi kerja cerdas tak kalah penting. Romano mengkombinasikan keduanya sehingga mendapatkan hasil yang hampir tak pernah meleset. Menurut kabar dalam sehari ia melakukan panggilan telepon hingga 50 kali dan hanya istirahat 5 jam per hari.
Tak ada satupun pihak yang membantah info A1 yang didapatkannya karena memang semuanya telah dibuktikan terlebih dahulu sebelumnya rumor transfernya berubah menjadi ‘Here We Go’. Sebelum pihak klub meresmikan transfer pemain, Romano sudah terlebih dahulu mengantongi detail transfer sang pemain. Cerdas dan cadas.
3. Berguru dengan ‘Ahlinya’
Bak kata pepatah: “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Hubungan guru dan murid sungguh sulit untuk dipisahkan, dengan siapa seeorang menimba ilmu maka sang gurulah yang memiliki peran vital. Romano sendiri berguru dengan seorang Jurnalis kondang Italia yaitu Gianluca Di Marzio. Sosok penting dalam karirnya hingga mentereng seperti sekarang.
“Saya mulai semua ini bersama Gianluca Di Marzio. Itu banyak memberikan pelajaran bagi saya,” ucap Romano dalam sebuah wawancara. Di Marzio merupakan pakar transfer senior sebelum Romano booming. Ia membantu Romano dalam mengumpulkan informasi dan membangun jaringan. Hingga kini, hubungan mentor dan murid ini masih tetap harmonis.
4. Personal Branding yang kuat
Aspek diferensiasi dalam sebuah brand memainkan peran penting dalam memperoleh exposure yang masif dan cepat. Romano membangun personal branding yang kuat sehingga publik cepat mengenal citranya. Ia menggunakan diksi “Here We Go” yang semakin memperkuat positioning-nya di benak penikmat sepak bola. Penampilan good looking ala negeri pizza turut mendukung pembentukan personal branding Romano yang semakin kuat.
5. Mencintai pekerjaan dan anti gengsi mulai dari bawah
Fabrizio Romano bukan ujuk-ujuk langsung jadi jurnalis tersohor dunia, melainkan ia melewati lika-liku pahitnya menjadi wartawan lokal dan menulis untuk website kecil di Italia.
Suatu kali ia dihubungi dan diminta oleh seorang agen pemain untuk menulis artikel mengenai Mauro Icardi dan Gerard Deulofeu yang saat itu masih berada di second team Barcelona. Kemudian ia meminta informasi mengenai pemain tersebut dan boom, transfer Icardi ke Inter menjadi awal meledaknya karir beliau.
Hebatnya tak ada kata gengsi dalam kamus hidup Romano. Semua ia jalani dengan penuh kecintaan, ketekunan dan atas dasar profesionalisme. Memulai pekerjaannya dari tangga paling bawah sambil perlahan menuju puncak dengan membangun kredibilitas dan integritas.
Kebanyakan masyarakat yang mengaku kecewa dengan pekerjaan yang dimilikinya sekarang. Penyebabnya bervariasi mulai dari gaji yang kecil, jabatan yang tak sesuai dengan disiplin ilmu atau bisa juga sebab lainnya. Namun lain halnya dengan Romano, ia mencintai penuh pekerjaannya secara totalitas tak peduli berapapun gaji yang ia peroleh. Sekarang Romano sudah meraih semua kesuksesan dan ketenaran.
6. Softskill ‘kelas dewa’ dalam membangun relasi
Fabrizio Romano bukanlah jurnalis sembarangan, ia selalu menjaga relasi dengan berbagai petinggi klub, agen pemain dan orang-orang yang berhubungan dengan pemain. Akibatnya ia memiliki relasi dan jaringan informan yang kuat. Romano bahkan dikatakan memiliki akses langsung ke pemilik klub seperti Aurelio Di Laurentis (pemilik Napoli) dan Agnelli (pemilik Juventus), dan pemilik klub lainnya.
Kemampuan softskill tingkat dewa ini memang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang juga memiliki julukan dewa. Ya, itulah si Dewa Transfer Fabrizio Romano.
Nah, itulah enam hikmah untuk para pemuda terkhusus generasi muda islam dari Fabrizio Romano si Paling Paham Transfer. Sekarang para pemuda muslim harus memahami bahwa untuk mencapai kesuksesan tak hanya butuh kerja keras, melainkan kerja cerdas, cepat, tepat, akurat, memiliki personal branding yang kuat dan pintar membangun relasi.