‹ Kembali ke Beranda
Adab · Opini

Dikotomi Raja dan Khauf: Kesalahan Yang Melahirkan Ekstrimisme Spiritual

Oleh Raditya Hanif Hibatullah·3 Mei 2026·27
Dikotomi Raja dan Khauf: Kesalahan Yang Melahirkan Ekstrimisme Spiritual

Majalahnabawi.com – Pada dasarnya kita tidak pernah tahu apakah amal ibadah kita Allah Swt. terima atau tidak. Pun dengan tobat kita, apakah Allah menyambut kedatangan hamba-Nya yang baru kembali setelah sekian lama menghilang terombang-ambing dalam dosa atau tidak. Karena demikian, dikotomi raja’ dan khauf adalah kesalahan yang sangat fatal.

Seseorang yang hanya fokus pada raja atau penuh harap atas ampunan Allah Swt. sampai mengenyampingkan pentingnya khauf, yaitu perasaan takut akan azab-Nya akan cenderung meremehkan larangan-larangan-Nya. Kemudian ia akan terus berbuat dosa sembari berdalih bahwa ampunan Allah Swt. pasti datang untuknya. Sebaliknya orang yang hanya mengedepankan khauf dan melupakan raja’ akan senantiasa merasa putus asa dari rahmat-Nya yang lebih luas dari samudera.

Dalam hal ini, Rasulullah saw. sudah memberikan kita petuahnya jauh sebelum kita menyadari adanya dampak negatif dalam dikotomi raja’ dan khauf dalam kehidupan kita sehari-hari. Berikut Hadis Nabi yang menyinggung perkara ini:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: ابْنُ أَيُّوبَ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ، أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ‌لَوْ ‌يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ (رواه مسلم )مسلم: مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابورىّ

Dari Abu Hurairah r.a., (w. 59 H), Rasulullah saw., bersabda: “Seandainya orang beriman mengetahui betapa berat azab di sisi Allah, niscaya tak seorang pun berani merasa aman berharap surga. Dan seandainya orang kafir mengetahui betapa luas rahmat Allah, niscaya tak seorang pun berputus asa dari surga-Nya.” HR. Muslim (204 – 261 H: 55 tahun)

Istifadah

Syekh Abdul Aziz Ar-Rajihi dalam kitabnya Tawfīq ar-Rabb al-Mun‘im bi-Sharḥ Ṣaḥīḥ al-Imām Muslim menyebutkan bahwasannya Hadis ini membimbing orang mukmin untuk senantiasa menyembah-Nya dengan rasa khauf dan raja’. Karena seorang mukmin tidak mungkin terlepas daripada maksiat, maka seharusnya ia takut atas dosa-dosanya. Di samping itu, jangan sampai ia berputus asa, pesimis, dan hilang harapan untuk mendapatkan Rahmat-Nya. angan sampai ia berburuk sangka kepada Allah Swt.

Khauf dan raja‘ ibarat sepasang sayap, di mana jika salah satunya mengalami cacat, hilang juga manfaat dari yang lainnya. Sepasang sayap ini harus mengepak bersama agar dapat mengantarkan kita pada tujuan kita sebenarnya. Tujuan kita ialah menghamba dengan kerendahan diri yang teriringi baik sangka bahwa Allah Swt. akan senantiasa melimpahkan Rahmat-Nya bagi seluruh hamba- Nya termasuk kita.

Dikotomi keduanya hanya akan membuat kita terjatuh ke dalam salah satu lubang. Lubang yang membuat kita bermaksiat tanpa beban eakan ampunan-Nya pasti datang atau lubang yang menjadikan kita pemurung sehingga berburuk sangka kepada-Nya. Wallahu a’lam

Bagikan: