Eko-Sufisme Ibn ‘Ajībah sebagai Refleksi Sufistik terhadap Kerusakan Alam

Majalahnabawi.com – Belakangan ini, dunia menghadapi begitu banyak bencana dan kerusakan alam. Lingkungan yang kian hari kian memburuk, utamanya Indonesia. Berbagai laporan menunjukkan bahwa bumi, sebagai rumah, tanah air, dan tempat kita bernaung sedang mengalami kerusakan yang begitu parah. Semua ini akibat laju eksploitasi yang tak terkendali di berbagai titik.
Ketika kita renungkan kembali. Di balik bencana-bencana ekologis tersebut, tersimpan akar permasalahan yang jauh lebih mendalam. Terdapatnya krisis spiritual modern dalam hubungan manusia dengan alam.
Krisis Ekologi dan Keterasingan Spiritual Manusia
Manusia modern memperlakukan alam bukan lagi sebagai sesama ciptaan Allah yang sama-sama memiliki kehormatan dan harus terjaga. Manusia modern cenderung memandang alam sebagai komoditas ekonomi. Layaknya benda mati yang sah tereksploitasi, terkeruk, dan terkuras habis demi kepuasan nafsu yang tiada tepi.
Pandangan semacam ini membuat manusia merasa menjadi raja yang memiliki kuasa mutlak atas alam. Mereka lupa bahwa Allah dengan titah-Nya telah mengatur relasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Dalam literatur-literatur Islam, khususnya yang terekam dalam firman Allah, alam semesta bukanlah panggung bisu yang hampa dan senyap. Alam justru akan memberikan kesaksian terhadap seluruh perbuatan manusia di pentas bumi ini nanti ketika di hadapan Allah Swt. Hal ini sebagaimana termaktub dalam QS. al-Zalzalah [99]: 4-6 berikut:
يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَاۙ بِاَنَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَاۗ يَوْمَىِٕذٍ يَّصْدُرُ النَّاسُ اَشْتَاتًا ەۙ لِّيُرَوْا اَعْمَالَهُمْۗ
Pada hari itu (bumi) menyampaikan berita (tentang apa yang telah manusia perbuat di atasnya) (4). Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. (5) Pada hari itu manusia keluar (dari kuburnya) dalam keadaan terpencar agar mereka melihat (balasan) semua perbuatan mereka. (6)
Tasbih Alam dalam Pandangan Sufistik Ibn ‘Ajībah
Ibn ‘Ajībah (w. 1224 H) ketika menguraikan pesan sufistik ayat ini dalam Tafsīr al-Baḥr al-Madīd fī Tafsīr al-Qur’ān al-Majīd menjelaskan bahwa bumi ialah jiwa (ardl al-nufūs). Kelak ketika Allah guncangkan, maka ia akan mengungkapkan berbagai rahasia yang tersimpan di dalamnya. Dikarenakan Tuhan telah mengilhamkan kepadanya agar ia mengungkapkan rahasia-rahasia tersebut. (Ibn ‘Ajībah, 1419, Jilid 7, h. 339-340)
Bahkan Ibn ‘Ajībah juga menyebut bahwa alam raya beserta isinya yang terhampar ini merupakan asrār al-rubūbiyyah al-qā’imah bi al-asy-yā’ (rahasia-rahasia ketuhanan yang terdapat pada segala sesuatu). Bisa juga kita katakan sebagai tajallī Ilāhī yang senantiasa berzikir kepada Allah Swt. Hal ini Ibn ‘Ajībah ungkapkan ketika menguraikan penafsiran dari QS. al-Isrā’ [17]: 44 berikut:
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا ٤٤
Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
Menurut Ibn ‘Ajībah, ayat ini secara gamblang menegaskan bahwa seluruh makhluk Allah yang ada di pentas bumi ini bertasbih melalui aspek maknawinya dengan bahasa ucapan (lisān al-maqāl). Bertasbih pula mereka melalui aspek indrawinya dengan bahasa keadaan (lisān al-ḥāl).
Pengalaman spiritual seperti ini hanya dapat terasa oleh orang yang menyertai al-‘ārif billāh. Mereka terbimbing keluar dari lingkup persepsi alam semesta (al-kawn) menuju penyaksian terhadap Sang Pencipta (al-Mukawwin). (Ibn ‘Ajībah, 1419, Jilid 3, h. 203-204)
Dengan demikian, ayat ini menegaskan bahwa angin, aliran sungai, serta rimbunnya pepohonan merupakan denyut nadi kehidupan yang senantiasa memuji dan bertasbih kepada Allah, Sang Pencipta alam.
Akan tetapi, manusia modern sering kali lupa terhadap kenyataan ini. Mereka melupakan bahwa manusia hanya sedang menumpang di tengah panggung zikir makhluk lain. Justru mereka merusaknya sebab keserakahan memenuhi kepuasan hawa nafsu.
Dari Kesadaran Spiritual Menuju Taubat Ekologis
Tujuan terciptanya manusia sebagai khalīfah di muka bumi ini (QS. al-Baqarah [2]: 30) juga tidak dapat kita artikan bahwa manusia merupakan raja dan pemegang kekuasaan mutlak terhadap alam raya ini.
Posisi manusia sebagai khalīfah ini bukanlah sebuah legitimasi untuk bertindak sewenang-wenang, melainkan sebagai delegasi Tuhan yang memikul amanah moral yang menuntut manusia untuk memperbaiki dan melindungi bumi dari kerusakan (fasād). Justru manusia dan alam dalam hal ini merupakan satu ekosistem ciptaan yang harus terjaga keharmonisannya berdasarkan koridor moral spiritual.
Nabi Muhammad Saw. sebagai teladan yang agung (qudwah al-ḥasanah) telah mewariskan bagaimana seharusnya relasi antara manusia dengan alam dalam bentuk relasi harmonis berupa ikatan cinta batin yang hidup. Sebagaimana sabda Nabi yang penuh kelembutan berikut ini:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه: «أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم طَلَعَ لَهُ أُحُدٌ، فَقَالَ: هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ (رواه البخاري)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., bahwasanya ketika gunung Uhud terlihat oleh Rasulullah Saw. beliau bersabda: “Inilah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya.” (HR. al-Bukhārī No. 7333)
Selain itu, Nabi juga mengajarkan bahwa menanam sebatang pohon bukan sekadar urusan berkebun semata, melainkan investasi cinta dan sedekah jāriyah yang pahalanya akan terus mengalir selama pohon tersebut senantiasa dimanfaatkan oleh makhluk-makhluk Allah lainnya, pun juga bagi generasi-generasi setelahnya. Berikut sabda Nabi Muhammad Saw. terkait hal ini.
عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً
Dari Jabir, ia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ‘Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman, melainkan apa yang dimakan darinya menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim No. 1552)
Pada akhirnya, krisis ekologi yang kita hadapi hari ini bukanlah sekadar kegagalan kebijakan teknis, melainkan cerminan dari krisis spiritual manusia yang memandang alam sekadar sebagai objek eksploitasi yang mati.
Melalui lensa ekosufisme ini, kita diajak untuk taubat ekologis dengan menyadari bahwa bumi dan seisinya adalah entitas yang hidup, bertasbih kepada Allah, dan memiliki ikatan batin dengan kita, sehingga merawat kelestariannya adalah wujud nyata adab tertinggi serta bukti cinta seorang hamba kepada Allah, Tuhan semesta alam. Demikian, Wallāhu A’lam.