Tuhan yang Diciptakan: Ibn al-Arabi dan Eckhart

Majalahnabawi.com – Dalam sejarah panjang perjumpaan Islam dan Kristen, narasi yang paling sering menonjol adalah narasi konflik. Mulai dari perang salib, polemik teologis, hingga klaim kebenaran sepihak. Namun di bawah permukaan sejarah yang gaduh itu, tersimpan arus lain yang lebih tenang dan lebih dalam—arus mistisisme. Di sinilah dua nama besar berdiri. Terpisah oleh zaman, tempat, dan tradisi, namun bertemu pada satu gagasan yang menakjubkan. Merekalah Ibn al-‘Arabi (1165–1240) dari Andalusia dan Meister Eckhart (1260–1327) dari Jerman.
Keduanya sampai pada kesimpulan yang sama. Apa yang biasa manusia sebut sebagai “Tuhan” sering kali hanyalah konstruksi manusia itu sendiri. Sementara ketuhanan yang sejati melampaui segala konsep yang mampu manusia bayangkan.
Ibn al-‘Arabi: Tuhan yang Manusia Ciptakan
Ibn al-‘Arabi, sufi agung yang kita kenal sebagai al-Syaikh al-Akbar, mengajukan gagasan yang mengejutkan. Tuhan tidak memiliki eksistensi objektif yang bisa terbuktikan melalui logika semata. Yang mampu terjangkau manusia adalah “Tuhan yang manusia ciptakan” (God of belief), yakni konsepsi tentang-Nya yang terbentuk oleh kecenderungan, budaya, dan keyakinan masing-masing pemeluk.
Tuhan yang ini berubah sesuai siapa yang menyembahnya: Tuhan bagi seorang yang penuh harap berbeda dari-Nya bagi seorang yang penuh takut, dan Tuhan bagi seorang pencinta berbeda dari-Nya bagi seorang ahli hukum. Karl Marx menyebutnya sebagai “kesadaran sosial”. Produksi konsep filsafat agama bagi masyarakat petani tentu berbeda dengan masyarakat kelautan yang menganggap adanya Nyi Roro Kidul.
Di atas semua itu, Dzat Ilahi yang sejati tetap tak terbatas dan tak terlukiskan, melampaui segala definisi. Setiap pribadi, dalam pandangan Ibn al-‘Arabi, adalah avatar unik bagi Yang Ilahi, sebuah manifestasi yang tidak pernah mengulang dan tidak pernah sama. Konsep Manusia Sempurna (al-Insan al-Kamil), dengan Nabi Muhammad sebagai simbol ketuhanan paling efektif, menjadi puncak dari pemahaman ini; manusia yang telah menyingkap tabir dan melihat bahwa segala keberagaman adalah pantulan dari Yang Satu.
Meister Eckhart: Tuhan versus Ketuhanan
Meister Eckhart, mistikus Kristen Jerman yang pemikirannya sempat menuai kontroversi, sampai pada kesimpulan yang mengejutkan serupa. Ia membedakan antara God yang manusia sembah, yang merupakan konstruksi manusiawi, terbentuk oleh citra, konsep, dan bayangan, dengan “Ketuhanan” (Godhead) yang berada di luar segala gambaran dan definisi.
Eckhart, yang terpengaruhi Aquinas dan Neo-Platonisme namun tetap orisinal, lebih mengandalkan penafsiran pengalaman mistik daripada spekulasi teologi dan metafisika. Baginya, berbicara tentang-Nya dengan konsep-konsep yang kaku justru menjauhkan manusia dari-Nya. Yang sejati bukanlah Tuhan yang “disembah” melalui bayangan mental, melainkan Ketuhanan yang hanya dapat dijangkau ketika manusia melepaskan segala konsep dan citra.
Titik Temu: Kekosongan sebagai Jalan
Meskipun berasal dari tradisi yang berbeda, kedua mistikus ini bertemu pada beberapa titik yang mendalam:
Pertama, kesadaran akan keterbatasan konsep manusia tentang-Nya. Keduanya menolak anggapan bahwa Tuhan dapat sepenuhnya ditangkap dalam definisi. Ketika seseorang mengklaim telah sepenuhnya memahami-Nya, sesungguhnya ia telah “menciptakan” Tuhan menurut ukuran dirinya sendiri.
Kedua, kesatuan dengan-Nya berimplikasi pada cinta kepada sesama ciptaan. Bagi keduanya, individualisasi adalah ilusi; yang nyata adalah komunitas dan keterkaitan antar seluruh makhluk. Siapa pun yang telah menemukan Yang Satu tidak mungkin membenci keberagaman yang merupakan pantulan-Nya.
Ketiga, mistisisme sebagai jalan keluar dari eksklusivitas. Kesadaran bahwa Tuhan yang saya sembah hanyalah satu dari sekian banyak manifestasi keterbatasan pemahaman manusia membuka ruang dialog yang sehat. Tidak ada alasan untuk merasa paling benar dan meniadakan jalan spiritual orang lain, karena semua jalan menuju Yang Tak Terbatas pastilah terbatas.
Penutup
Ibn al-‘Arabi dan Meister Eckhart, meskipun terpisah oleh benua dan keyakinan, berbicara dengan bahasa yang sama: Tuhan yang tidak melebihi Tuhan bukanlah Tuhan. Yang terkungkung dalam definisi tertentu telah berhenti menjadi Tuhan dan berubah menjadi ideologi—alat pembenaran bagi kepentingan kelompok, bukan lagi sumber cinta dan perdamaian.
Kesadaran bahwa Tuhan melampaui segala konsep manusia bukanlah akhir dari iman, melainkan awal dari iman yang lebih dalam: iman yang tidak lagi membutuhkan permusuhan untuk menegaskan kebenarannya, karena ia telah menemukan kedamaian dalam cinta kepada Yang Tak Terbatas.