Fenomena Normalisasi Bahasa Kasar dan Krisis Adab Berbicara

Majalahnabawi.com- Bahasa merupakan cerminan kualitas diri seseorang. Cara seseorang berbicara menunjukkan tingkat kedewasaan, karakter, bahkan kondisi batinnya. Namun dalam realitas sosial saat ini, normalisasi bahasa kasar semakin meluas. Ucapan yang dahulu menyinggung norma kini menjadi hal biasa, bahkan berfungsi sebagai candaan atau simbol keakraban. Fenomena ini menunjukkan adanya krisis adab dalam komunikasi.
Padahal dalam Islam, berbicara bukan sekadar kebebasan berekspresi, melainkan amanah yang memiliki konsekuensi moral dan spiritual.
Mengapa Harus Berbahasa Baik?
Al-Qur’an telah menetapkan standar komunikasi yang jelas. Dalam QS. al-Baqarah: 83 Allah berfirman:
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ
“(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (al-Baqarah: 83)
Prinsip ini menegaskan bahwa kebaikan adalah dasar komunikasi seorang muslim. Dalam QS. al-Ahzab: 70 Allah juga memerintahkan:
يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar” (al-Ahzab: 70)
Ayat-ayat di atas memberikan pemahaman bahwa Islam menetapkan standar komunikasi yang berlandaskan ketakwaan dan tanggung jawab moral. Perintah untuk berkata baik (husnan) dan benar (qaulan sadidan) menunjukkan bahwa setiap orang harus mempertimbangkan ucapannya secara etis dan spiritual. Dengan demikian, bahasa dalam Islam bukan sekadar sarana menyampaikan pesan, tetapi juga cerminan kualitas iman dan kepribadian seseorang.
Rasulullah Saw. bersabda dalam hadis riwayat Abu Hurairah:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam”. (HR.al-Bukhari :6475)
Hadis ini menegaskan bahwa ucapan memiliki kaitan langsung dengan iman. Rasulullah Saw. menghubungkan kontrol lisan dengan keyakinan kepada Allah dan hari akhir, yang berarti setiap kata menuntut pertanggungjawaban di akhirat kelak. Pilihan “berkata baik atau diam” menunjukkan bahwa Islam tidak memberi ruang bagi ucapan yang sia-sia atau menyakiti. Dengan demikian, berbahasa baik bukan hanya etika sosial, tetapi bentuk kesadaran spiritual dan pengendalian diri.
Menjadikan Adab Berbicara sebagai Prinsip Hidup
Agar etika berbahasa tidak berhenti sebagai teori, ia harus menjadi prinsip dalam diri. Setiap ucapan lisan membawa konsekuensi tanggung jawab yang nyata di hadapan Allah. Kesadaran ini membuat seseorang berpikir sebelum berbicara.
Biasakan bertanya pada diri sendiri: apakah ini benar? apakah ini perlu? apakah ini baik? Jika tidak, maka diam lebih mulia. Diam bukan tanda kalah, tetapi tanda mampu mengendalikan diri.
Bahasa yang baik akan melahirkan suasana yang baik. Sebaliknya, ucapan kasar hanya akan merusak hati dan hubungan. Karena itu, menjaga lisan bukan sekadar sopan santun, melainkan bentuk ibadah dan bukti keimanan.