‹ Kembali ke Beranda
Tokoh

Haul Ke-10 Kiai Ali Mustafa Yaqub, Melanjutkan Laku Hidup Menjadi Khadimun Nabi

Oleh Mujtaba Akmal·13 April 2026·42
Haul Ke-10 Kiai Ali Mustafa Yaqub, Melanjutkan Laku Hidup Menjadi Khadimun Nabi

Majalahnabawi.com – Kamis, 09 April 2026. Aula Idris Kamali malam itu tampak gegap gempita oleh ratusan massa, baik dari kalangan santri maupun mahasantri. Yap, dapat dimaklumi, karena malam itu bertepatan juga dengan opening ceremony haul maha guru & sang founding father Darus-Sunnah, allahu yarham Kiai Ali Mustafa Yaqub yang ke-10.

Tak terasa genap 10 tahun sudah beliau berpulang ke haribaan-Nya, tepatnya pada 28 April 2016 lalu. Sesuai dengan tema haul kali ini, yaitu melanjutkan laku hidup Kiai Ali menjadi Khadimun Nabi, maka pada acara kali ini pula insan-insan yang pernah berintraksi dengan beliau menyampaikan testimoninya. Baik dari dzurriyah maupun jajaran ustaz.

Kiai Ali, Sosok Ayah yang Menginspirasi

Dzurriyah, dalam hal ini diwakilkan oleh Gus Zia Ul Haramain -penerus tongkat estafet kepengasuhan Darus-Sunnah sekaligus putra semata wayang almarhum Kiai Ali-, menyampaikan banyak sekali testimoni dan pengalaman uniknya selama berinteraksi dengan almarhum.

Beberapa di antaranya, meskipun beliau dikenal sebagai figur ahli hadis terkemuka, namun hal itu tidak membuat sikapnya dalam laku sehari-hari menjadi kaku dan jumud, sebagaimana persepsi terhadap ahli hadis biasanya. Namun sebaliknya, Kiai Ali sangat luwes, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Waktu saya masih remaja, saya juga punya banyak figur idola dari kalangan artis, band, dan penyanyi seperti Sheila On 7, Dewa 19, maupun D`Masiv. Sampai-sampai di kamar saya hampir penuh oleh poster dari yang diidolakan tersebut. Namun Abah yang mengetahuinya bukan malah kaget atau memarahinya, beliau ternyata hanya membiarkan saja.” ucap Gus Zia malam itu sambil flashback mengenang masa remajanya.

Nah, fenomena Kiai Ali yang membiarkan anak semata wayangnya mengeksplorasi atau mengidolakan figur-figur tersebut waktu itu di tengah maraknya perdebatan sebagian kalangan yang mengharamkan musik, jika dianalisis dari segi ilmu parenting ternyata juga cukup menarik.

Pada masa remaja, tentunya fase itu remaja lagi gencar-gencarnya mengeksplorasi dan “penasaran” dengan segala sesuatu. Sehingga peran orang tua dalam mengontrol rasa “penasaran” buah hatinya itu juga sangat penting, agar rasa penasarannya tidak merujuk pada jalan yang salah dan bahkan sampai keluar dari koridor syariat.

Namun yang perlu diingat, terlalu strict juga tidak selalu berdampak baik terhadap tumbuh kembangnya. Sehingga, laku Kiai Ali ketika “membiarkan” putranya tadi dalam hal ini tepat. Karena lambat laun berjalannya waktu dari remaja, pasti anak bisa menyeleksi sesuatu yang memang sekiranya negatif dan tidak relevan dengan kehidupan kedepannya, begitupun sebaliknya.

Dari Cerita Menjadi Teladan Hidup

Setelah Gus Zia menceritakan beberapa keping lagi kenangannya selama berintraksi dengan beliau, seperti yang awalnya mau dipondokan di Pesantren Tebuireng, namun karena beberapa faktor berakhir tidak jadi.

Berikutnya Ibu, panggilan akrab kami kepada Bu Nyai Ulfah Uswatun Hasanah, juga menyampaikan pepeling yang selalu diulang-ulang oleh Kiai Ali. Yaitu, santri Darus-Sunnah nanti ketika sudah terjun di masyarakat dan mendapat undangan manggung, entah itu dalam bentuk ceramah maupun pengajian, jangan sampai pernah memikirkan untuk mematok tarif.

Setelahnya acara dilanjut sesi one piece of memory, oleh jajaran ustaz. Seperti Ust. Tubagus Hasan Basri, Ust. Muhammad Hasan Shobary, maupun Ust. Ahmad Munsorif. Yang mana dari testimoni dan cerita beliau sekalian, dapat ditarik kesimpulan, dalam POV santrinya, sosok Kiai Ali tidak hanya sebagai figur guru, namun juga orang tua yang sangat peduli terhadap anak ideologisnya.

Semoga kita semua dapat meneladani dan melanjutkan laku hidup allahu yarham Kiai Ali Mustafa Yaqub menjadi Khadimun Nabi, sesuai dengan tema haul kali ini. al-Fâtihah.

Bagikan: