Hermeneutika Radikalis Transendental: Filsafat Derridean Muhammad Al-Fayyadl Part 1

Pendahuluan
Majalahnabawi.com – Prakata prolog yang di tempatkan oleh Muhammad Al-Fayyadl (MAF) di dalam buku pertamanya yang berjudul ‘‘Derrida’’ (2005), sebagai aksioma atas spektrum pemikirannya yang tak berkesudahan. Nyatanya, Jacques Derrida menawarkan konsep ‘suatu yang tak berkesudahan’ terhadap segala bentuk konklusif atas kebenaran yang kian lama kian usang dan asing. Segala asosiasi pemikiran karya Derrida mampu melampaui struktur-struktur metode kebenaran khususnya di bidang humaniora melalui istilah ulungnya: ‘dekonstruksi’.
Dekonstruksi
Dekonstruksi berpijak pada interpretasi teks secara radikal dengan mengandaikan ketiadaan makna primordial, sekaligus menunjukkan kemustahilan koherensi makna suatu teks, sehingga interpretasi terus bergerak tanpa batas. Namun acap kali makna dekonstruksi terdistorsi dari pada perbedaan antara konstruksi dan rekonstruksi, sebab dekonstruksi juga tidak mudah bahkan tidak dapat di definisikan. Upaya memahami ‘dekonstruksi’ bermula dari pengenalan terhadap ‘lima strategi’ gagasan Mc Quillan:
Pertama, Pas de methode bukanlah suatu metode juga tidak ada perangkat aturan, tak ada kriteria, tak ada prosedur, tak ada program, tak ada urutan Langkah-langkah dan juga tak ada teori untuk diikuti dalam dekonstruksi itu sendiri.
Kedua, difference atas kontaminasi atau bartardisasi oposisi biner sebagai pasangan makna yang berlawanan. Seperti contoh pria/wanita, kuat/lemah, hidup/mati dan lain-lain yang berlawanan. Istilah tersebut seharusnya tidak terdikte, sebaliknya menjadi suatu pembalikan terhadap posisi biner yang akan menjadi keseimbangan makna.
Ketiga, margin untuk meminatai oposisi-oposisi biner yang terpinggirkan. Halnya, wanita, lemah, tangis, dan lain semacamnya. Menjadi pembiaraan terhadap instabilitas yang di cegah gerak pembacaan terpinggir.
Keempat, il ny a pas de hors texte tak ada yang di luar teks. Tandingan konteks-konteks atas makna jejak yang di dalam teks juga akan memberikannya.
Kelima, a history tak lain menjadikan benak sejarah. Sebab istilah fase-fase sejarah memiliki makna tertentu dari ke-berbedaan-nya, dengannya pembatalan bineritas dari historisme antara formalisme.
Pemikiran Muhammad Al-Fayyadl
Lebih lanjut mengenai hermeneutika radikal transendetal MAF, saya membaca lebih khusus karya beliau yang berjudul ‘‘Derridean’’ (2023). Namun terkait pemikiran serta atmosfer intelektualitas MAF yang selalu menaburkan benih-benih kecurigaan, ketakmungkinan, maupun ketakterhinggaan. Beberapa karya negativisme mencerminkan gagasan tersebut. Selain judul-judul sebelumnya, muncul pula “Filsafat Negasi” (2016) dan “Teologi Negatif: Ibn Arabi” (2012). Hal itu menyengat para pembaca dengan setrum enigmatik yang menjadi persiapan MAF demi kelanjutan serta kesegaran dunia intelektualitas; dulu, sekarang, hingga nanti.
Dekonstruksi dan Kebenaran
Tulisan ini menyajikan beberapa pembahasan teologis karya Muhammad Al-Fayyadl (MAF), mulai dari Dekonstruksi Derrida, Teologi Negatif: Ibn Arabi, Filsafat Negasi, hingga Derridean.Dengan memberikan fokus atas pembahasan yang mengandung dekonstruktif maupun negativistik. Sebab kelanjutannya akan di integrasi-interkoneksi-kan menjadi pembahasan atas cara memahami pemikiran MAF terhadap pemahaman yang selalu bergerak dan tak berkesudahan.
Derrida (2005) menawarkan suatu jalan baru yang tidak berkesudahan, lika-liku, terjal dan tajam akan tujuan kebenaran. Namun tidak bisa untuk berhenti pada suatu perjalananya, sebab jalan tersebut akan selalu bergerak dan tak berkesudahan menuju kebenaran yang tak terhingga. Terkadang sedikit untuk di pahamkan meski tidak menjadi pemahaman atas makna ‘dekonstruksi’ yang seharusnya tidak memiliki simbolik untuk seharusnya sudah. Bisa terpautkan akan metode dialektike Socrates sebagai tujuan tandingan atas argumentasi yang mapan untuk selalu di mapankan atau di perbaharui kembali.
Tidak berhenti untuk memberikan suatu makna yang sama dengan metode dialektika tersebut, namun dekonstrusksi mempunyai gerak yang sama atas kaitan ‘kecurigaan’, ‘pembongkaran’ maupun ‘perusakan’ terhadap kebenaran yang telah terbungkus dan terbangun. Selalu juga seorang Socrates selalu menanamkan ajaran tersebut terhadap teman dan murid-muridnya, untuk selalu menciptakan daya fikir skeptisme maupun kritisisme.
Agama Tanpa Agama
MAF juga membahas ‘agama’ sebagai yang melampaui, hingga peralihan ‘agama tanpa agama’. Hal ini sebelumnya telah di singgung oleh Bertrand Russel dalam bukunya yang berjudul ‘‘Bertuhan Tanpa Agama’’. Namun, dari sekian pemahaman tentang agama tanpa agama, MAF menabraknya sedikit demi sedikit menggunakan kendaraan khas bernama dekonstruksi. Ia melakukan suatu asumsi intensional terhadap lahirnya gairah total akan yang Esa dan Maha.
Tentunya agama yang konvensional bukanlah suatu pengertian terhadap agama itu sendiri, melebihi itu merupakan pengalam religius-spiritualis atas jejak dan tapak mendekati Sang Kuasa, yang menguasai dengan cara yang lain. The wholly other yang melampaui jangkauan bahasa serta pengetahuan, sekaligus berdiri tegak tanpa definisi. Dengan itu membawa Derrida untuk berkata-kata itu lebih untuk memungkinkan terhadap yang tak mungkin. Je ne sais pas, il faut croire (saya tidak tahu apa-apa, saya hanya bisa beriman).
‘Agama tanpa agama’ tidak menghabiskan kebaruan institusi ‘agama’ sebagai dikte dari sejarah. Ia merupakan temuan yang hadir sebagai keberagaman baru sekaligus upaya memaknai pengalaman religius dalam hubungannya dengan Yang Ilahi. Istilah yang menjadi anti-tesa terhadap ‘beragama dalam agama’, selain ingin memupus keusangan institusi agama maupun memberikan hal yang tak asing daripada seorang yang beragama.
Namun, menghayati agama jelas melampaui sekadar beragama dengan menganut doktrin ataupun melaksanakan ritual wajib dari institusi agama. Menghayati berarti mempertanyakan, menggugat, dan menjadikan keimanan sebagai eksperimen terus-menerus guna menguji pengalaman bersama Yang Ilahi. Di sana, dalam perjalanan tersebut, tidak ada iman yang selesai; iman selalu berproses, menggauli ketakterhinggaan, dan menjelajahi kembali yang tak berkesudahan.
Teologi Negatif Ibn Arabi
“Allah yang disembah orang-orang mukmin dan orang-orang yang menyaksikan (ahl al-syuhud) dari para kekasih-Nya bukanlah Allah yang disembah oleh orang-orang yang berpikir mengenai Dzat Allah karena, barang siapa telah menegakkan suatu dan memasukkan pikirannya di bawah wewenang pemikirannya, dan berkhayal sedang mendapat pencerahan dari Tuhannya, ia sesungguhnya, dengan argument-argumen pikirannya, tengah mengahalau pencerahan yang datang pada ‘orang-orang yang menyaksikan”.
Teologi Negatif: Ibn Arabi (2012) Melanjutkan pemahaman konstruksi para mutakallimin yang keburu-buru untuk menciptakan problema atas landasan bangunan argumentasi yang belum cukup untuk di tawarkan. Terjadi suatu abstraksi negativitas terhadap bangunan yang belum mencapai penyelesaian guna menemui titik purnanya. Hal ini mengantarkan Ibn Arabi terhadap kaitan kontradiksi, ambivalensi maupun parodoksal, untuk selalu memahami Yang Ilah sebagai kesucian yang harus tetap di atas paham yang jauh dari penalaran kotor untuk menjamahnya.
Ibn Arabi pernah berkata terkait anggapan tentang Tuhan: “Jika engkau bicara mengenai tanzih, engkau telah membatasi (muqayyidan). Dan jika engkau bicara mengenai tasybih, engkau telah membatasi (muhaddidan). Jika engkau bicara mengenai keduanya, engkau bicara dengan tepat (musaddidan). Denga itu juga, penggakuan objektifikasi atas hal yang bertentangan tersebut antara tanzih (penghindaran)dan tasybih (penyerupaan) memberikan asas negatif untuk selalu menunda terhadap yang tak berkesudahan. Selain istilah negatif dari ke-tidak-mungkin-an, ke-tak-ter-hingga-an, dan ke-tak-ter-batasan menyiratkan suatu pengakuan atas al wujud al infinity being.
Konsep Keberadaan
Menarik jika kita membandingkan amunisi asumsi gagasan Ibn Arabi dengan pokok bahasan ontologi Alexis Meinong. Jika halnya Ibn Arabi lebih mendominasi ajaran spektrum ‘teologi’, maka otoritas Alexis Meinong hanya masalah ajaran ‘ontologi’. Namun keduanya tidak jauh berbeda antara teologi dan ontologi, sama-sama mengenai ‘ada’, ‘being’, dan ‘wujud’. Hanya saja demarkasi ajaran mengenai yang ada telah terklasifikasi, dengan ontologi sebagai aksioma landasan untuk teologi secara khusus dan metafisika secara umum.
Dimensi-dimensi sebagai tolak ukur ‘keberadaan’ yang di cetuskan oleh Alexis Meinong, lebih khusus hanya masalah ruang-ruang tertentu. Sebagaimana pernyataannya; bahwa pertama, eksistensi atau “substansi” merupakan suatu realitas yang tampak secara penuh, sebagai hal yang tersusun atas esensi sebagai penampak sesungguhnya; misal (Kertas, Gunting, Batu). Kelas atau ruang kedua di sebut dengan “subsistensi” sebagai setengah realitas, dari unsur angka, rumusan, maupun simbolik; seperti (1, 2, 3, segitiga, kotak, segiempat, lingkaran) setengah keberadan tersebut tidak menjadi realitas secara penuh; contoh tulisan angka 2 pada kertas ketika di hapus bukanlah suatu realitas pasti akan penjamahan keberadaan, atau 3 gelas berbentuk lingkaran di hancurkan bukanlah angka 3 atau lingkaran yang menghilang, namun realitas penuh dari gelas kaca itu sendiri.
Elementasi ketiga “absistensi” menjadi realitas kontradiktif, ambivalensi ataupun paradoksal antara afirmatif dan negatif. Seperti contoh, segitiga lingkaran, kertas sekaligus gunting, gunung emas, ataupun Borobudur berbentuk donat. Hal tersebut pastinya mustahil dalam dunia kita, namun niscaya keberadaanya. Sebab ada tetaplah ada. Jika tiada itu ada, maka ketiadaan itu ada, alhasil ketiadaan itu ada. Begitupun jika ada itu tiada, maka keberadaan itu tiada, artinya ada itu ada. ada tetaplah ada, tidak bisa di ganggu gugat!