Artikel Utama

Hikmah Moral Berpuasa

Avatar Oleh M. Alvin Nur Choironi · 2 min read
Ramadan menjadi bulan yang istimewa dan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu kedatangan oleh seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia. Di bulan inilah kita selaku umat Islam menjalankan rukun Islam yang keempat, yakni puasa. Puasa di bulan Ramadan sebagaimana telah difirmankan oleh Allah Swt dalam surah al-Baqarah ayat 183-185 merupakn kewajiban bagi seluruh umat Islam;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184) شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185)

Artinya: “(183) Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (184) (yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (185) Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

Baca Juga  Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

 

Sebagai suatu ibadah, puasa tentunya memiliki faedah dan hikmah. Hikmah-hikmah tersebut ada yang bersifat dzohiri (jasmani) maupun bathini (rohani). Begitu pula ada yang diketahui (tersurat) maupun yang tidak diketahui (tersirat). Kendati begitu, kewajiban seorang muslim untuk melaksanakan puasa tetap berlaku karena kewajiban tersebut bersifat taabudi.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab fiqh klasik bahwa makna puasa sendiri menurut etimologi ialah menahan. Menahan dalam konteks ini ialah menahan dalam berbagai hal baik menahan makan, minum, hawa nafsu, dan sebagainya.

Konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum, dan berhubungan seksual antara suami dan istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat pada malam harinya. Dari segi kesehtan, telah banyak penelitian yang menyebutkan akan manfaat puasa itu sendiri. Namun tidak hanya dari sisi kesehatan, manfaat yang dihasilkan dari sisi sosial juga sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam kitab Ihya ulumuddin disebutkan bahwa puasa merupakan benteng penahan atau tameng bagi para auliya’ (wali) dan orang yang melakukannya dari bujuk rayuan setan. Karena sesungguhnya setan itu sebagai perantara hawa nafsu agar masuk ke dalam hati manusia. Poin penting yang juga merupakan tujuan dari puasa ialah menahan hawa nafsu karena nafsu itulah yang sebenarnya menjadi musuh kita apabila tidak mampu mengendalikannya. Bahkan banyak orang yang telah terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan akibat mengikuti hawa nafsunya.

Belakangan ini, media banyak menyiarkan berita-berita mengenai kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh orang-orang biadab dan tidak memiliki hati nurani. Bahkan salah satu pelaku kriminal seksual tersebut tidak hanya dari kalangan dewasa melainkan anak di bawah umur juga. Hal tersebut tidak lain disebabkan karena kurangnya pendidikan moral dan agama kepada para generasi muda. Padahal jika generasi muda tersebut diberikan pendidikan moral dan agama sejak dini maka pasti tidak akan terjadi hal-hal seperti yang diberitakan di media-media seperti televisi, internet, dan sebagainya.

Baca Juga  Jong Islamieten Bond dan Soempah Pemoeda

Ajaran islam dengan sangat arif dan bijaksana menyuguhkan kepada manusia perkara-perkara yang hebat lagi mampu mengurangi kemudhorotan bagi umat manusia. Memerintahkan untuk melaksanakan yang ma’ruf dan melarang kepada perbuatan munkar. Tapi sangat sedikit orang-orang yang mampu mengamalkannya dengan baik dalam kehidupan sehari-seharinya. Miris sangat dirasakan ketika saat ini perilaku menyimpang seksual seolah telah menjadi konsumsi publik setiap harinya. Tidak ada batasan usia, tidak ada batasan gender, semua dianggap hal yang biasa ketika seorang anak dibawah umur memperkosa lawan jenis secara berjama’ah, dianggap biasa. Sangat disayangkan sekali. Padahal puasa yang merupakan salah satu rukum Islam yang seharusnya diajarkan dan melekat dalam diri manusia sebagai tameng pelindung dari hawa nafsu tetapi malah justru hancur berkeping atau hanya sebagai semboyan semata.

Pada hakikatnya, tujuan diwajibkannya puasa adalah agar manusia selalu dan terus menerus dalam posisi bertaqwa kepada Allah Swt. Maka sangat penting lah peranan Islam dalam kaitannya dengan kehidupan ini. Bahkan Islam mengajarkan kepada umat manusia segala hal yang baik, menguntungkan bagi diri sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitar. Bagi seorang muslim sudah seyogyanya untuk menjalankan syariat Islam dengan baik dan benar serta mengajarkan dan mengingatkan kepada sesama. Semoga puasa yang kita jalankan menjadi tameng pelindung dari godaan hawa nafsu terhadap diri kita. Wallahu ‘alam.***