‹ Kembali ke Beranda
Al-Quran

Kecerdasan Buatan Tidak Akan Bisa Menyaingi Kecerdasan Tuhan: Refleksi Surah Al-Kahfi Ayat 109

Oleh Haddad Longgo·27 Februari 2026·64
Kecerdasan Buatan Tidak Akan Bisa Menyaingi Kecerdasan Tuhan: Refleksi Surah Al-Kahfi Ayat 109

Majalahnabawi.com – Dalam kehidupan modern, manusia sering berbangga diri dan merasa semua ilmu pengetahuan yang ada telah paripurna di dunia ini. Meskipun era big data dan kecerdasan buatan mampu mengolah jutaan informasi setiap detik dalam skala yang luar biasa, semua itu tetaplah hasil olahan data yang memiliki batas.

Kecepatan akses informasi manusia saat ini tidak akan pernah bisa menandingi kedalaman makna serta otoritas mutlak yang terkandung di dalam kalimat-kalimat Tuhan. Jika mereka berasumsi bahwa data tersebut merupakan manifestasi dari lautan informasi, maka itu salah. Data yang katanya tak terbatas tersebut, hanyalah sebatas algoritma yang disusun oleh sebuah mesin yang tersimpan di server raksasa. Lantas apa yang sebenarnya tak terbatas itu?

Allah berfirman:

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Artinya: Katakanlah (Muhammad) “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi [18]: 109)

Betapa Kecilnya Ilmu Makhluk daripada Ilmu Allah

Ayat ini merupakan ayat yang hadir sebelum akhir dari Surah Al-Kahfi. Isi kandungan ayat mengingatkan kepada semua manusia bahwa begitu luas dan tidak terbatas ilmu Allah SWT. Di dalamnya juga menjelaskan bahwa betapa kecilnya pengetahuan yang manusia miliki jika dibandingkan dengan ilmu Allah.

Bayangkan seluruh lautan menjadi tinta, lalu digunakan untuk menulis kalimat-kalimat Allah. Lautan itu akan habis, sirna, lenyap dan tidak bersisa sebelum ilmu Allah selesai. Seandainya tinta itu datang lagi sebanyak itu, niscaya lautan tersebut akan tergerus lagi saking tak terbatasnya ilmu tersebut. Ayat ini merefleksikan secara mendalam luasnya ilmu Allah yang tanpa tepi. Pengetahuan manusia hanya mewakili setetes air di tengah samudra yang tak terbatas. Kecanggihan algoritma dan server raksasa tetap menghadapi batasan fisik yang nyata. Teknologi tersebut tidak akan sanggup menjangkau kedalaman makna serta hakikat hakiki di balik setiap firman-Nya.

Pandangan Rabi’ bin Anas dan Ibn Katsir

Rabi’ bin Anas merupakan ahli tafsir dan perawi hadis dari abad ke-2 Hijriah. Dia memberikan perumpamaan mengenai perbandingan ilmu makhluk dengan ilmu Allah. Menurutnya, seluruh pengetahuan hamba di bumi sejak awal hingga akhir zaman hanyalah setetes air di tengah samudra kalimat-kalimat Allah. Dia juga menjelaskan gambaran mengenai luasnya kalam Ilahi. Andaikan seluruh pohon dan akar di muka bumi menjadi pena, maka semua pena tersebut akan rusak. Demikian pula dengan samudra yang diibaratkan sebagai tinta akan habis tak bersisa. Di sisi lain, kalam Tuhan akan tetap ada dan tidak akan berkurang sedikit pun

Rabi’ bin Anas menjelaskan bahwa tidak ada makhluk yang mampu menilai kedudukan Allah secara sempurna. Hanya Allah yang bisa memuji diri-Nya dengan kesempurnaan mutlak. Keagungan Tuhan telah tertuang dalam firman-Nya, namun hakikat-Nya tetap melampaui segala penjelasan tersebut. Ibnu Katsir turut memperkuat pendapat ini dalam kitab tafsirnya. Beliau memberikan analogi mengenai perbandingan kenikmatan dunia dan akhirat. Seluruh kenikmatan dunia dari awal hingga akhir hanyalah ibarat sebutir biji sawi jika dibandingkan dengan luasnya bumi. Begitulah gambaran kecilnya dunia di hadapan kemuliaan akhirat.(Tafsīr Ibn Kasīr: 5, 200)

Kecerdasan Buatan Tidak Akan Bisa Menyaingi Kecerdasan Tuhan

Orang-orang biasa menyebut bahwa bahkan lautan digital memiliki batas, karena algoritma tidak dapat menjangkau segala hal dan teknologi tidak mampu memecahkan semua misteri. Ayat ini mengingatkan bahwa ilmu Allah, dapat melampaui itu semua.

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) tidak sanggup menandingi kecerdasan Tuhan. Teknologi ini hanyalah bentuk simulasi kecil dari ilmu-Nya. Jika menggabungkan seluruh server di dunia menjadi satu “tinta digital”, kapasitasnya tetap tidak akan mampu mencatat ilmu Tuhan secara utuh. Perkembangan teknologi dan berbagai temuan riset terbaru pun hanyalah bagian kecil dari rahasia alam semesta yang tidak terbatas.

Kesimpulan

Pada akhirnya, Surah Al-Kahfi menjadi dorongan bagi kita untuk terus menuntut ilmu. Kesadaran akan keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti belajar, malah jadikan kesadaran keterbatasan ilmu pengetahuan sebagai motivasi untuk terus mencari dan menjadikan semua yang kita memiliki, sebagai bentuk pendekatan diri kepada Sang Ilahi.

Bagikan: