‹ Kembali ke Beranda
Hadis · Sejarah

Ketika Musuh Islam pun Mendapat Keringanan: Membaca Hadis dengan Pendekatan Teologis

Oleh Fauziah Nur Hasanah·3 Juli 2026·0
Ketika Musuh Islam pun Mendapat Keringanan: Membaca Hadis dengan Pendekatan Teologis

Majalahnabawi.com– Dalam diskursus kajian keislaman, pendekatan teologis menempati posisi yang amat fundamental. Pendekatan ini menempatkan wahyu baik al-Qur’an maupun Sunnah sebagai sumber utama dalam memahami realitas keagamaan, sekaligus berfungsi sebagai landasan normatif dalam merumuskan keyakinan dan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam. Namun pendekatan ini tidak berdiri tunggal. Ia berinteraksi dengan metode tafwīḍ (menyerahkan makna kepada Allah) dan ta’wīl (penafsiran kontekstual), terutama ketika berhadapan dengan hadis-hadis yang secara tekstual tampak “menantang” logika teologis arus utama.

Kisah Abu Lahab dan Keringanan Azab

Salah satu hadis yang paling menggugah nalar teologis adalah kisah Abu Lahab, musuh Islam yang bahkan telah diabadikan kenistaan abadinya dalam al-Qur’an surah al-Lahab. Namun hadis riwayat Imam al-Bukhari membuka dimensi yang tak terduga. Urwah bin al-Zubair meriwayatkan bahwa Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab yang pernah menyusui Nabi Muhammad Saw. dimerdekakan oleh Abu Lahab karena kegembiraannya atas kelahiran Nabi, sehingga menurut suatu riwayat azabnya diringankan sebagai balasan atas perbuatan tersebut.

كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا، فَأَرْضَعَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ، قَالَ لَهُ: مَاذَا لَقِيتَ؟ قَالَ أَبُو لَهَبٍ: لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

“Urwah berkata; ‘waktu itu, Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi Saw. Dan ketika Abu Lahab meninggal, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya: ‘Apa yang telah kamu dapatkan?’ Abu Lahab menjawab, ‘Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah.’” (HR. Bukhari, No. 5101)

Ibnu Abbas juga meriwayatkan bahwa siksaan Abu Lahab diringankan setiap hari Senin karena pada hari itu, saat Nabi Muhammad dilahirkan Abu Lahab bergembira dan memerdekakan Tsuwaibah sebagai ungkapan sukacitanya.

Secara teologis, hadis ini memancing perdebatan; bukankah al-Qur’an dalam surat Ali Imran ayat 88 menyatakan siksa orang kafir tidak akan diringankan. Di sinilah pendekatan teologis berperan. Syekh Ibrahim al-Baijuri dalam Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah menjelaskan bahwa ayat tersebut menafikan keringanan siksa atas dosa kekufuran, sehingga tidak menafikan kemungkinan keringanan atas dosa yang lain dalam salah satu jawaban perihal ini.

Abu Thalib dan Syafaat Nabi

Hadis serupa hadir dalam kisah Abu Thalib, paman Nabi yang meninggal belum memeluk Islam. Rasulullah Saw. bersabda,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

“Dari Ibnu ‘Abbas ra.; ‘Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, ia memakai dua sandal neraka yang cukup mendidihkan otaknya.’” (HR. Muslim, No. 212).

Syafaat Nabi tidak mampu mengeluarkan Abu Thalib dari neraka, namun mampu meringankan azabnya. Sebuah bukti bahwa cinta kepada Nabi memiliki dimensi yang melampaui batas hubungan keimanan formal.

Apa yang Dapat Kita Pelajari?

Kedua hadis ini mengajarkan setidaknya tiga pelajaran teologis besar:

  1. Rahmat Allah melampaui batas-batas yang kita bayangkan, bahkan setitik kebaikan dari seorang yang tertolak pun tidak luput dari perhitungan-Nya.
  2. Kemuliaan Nabi Muhammad Saw. begitu agung hingga kegembiraan atas kelahirannya, meski dari seorang musuh besar berbuah keringanan di akhirat.
  3. Hadis-hadis teologis tidak boleh dibaca secara parsial, melainkan harus didekati dengan keutuhan ilmu dan metode yang matang. Sebagaimana ditempuh para ulama besar seperti al-Bukhari dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari.

Dalam kerangka ini, hadis menjadi sumber otoritatif yang mempertemukan iman dan akhlak dalam satu sistem kehidupan yang utuh, seimbang, dan saling melengkapi. Maka bila musuh Islam pun mendapat keringanan karena secercah kebaikan kepada Nabi, apalagi kita yang mengaku umatnya, mencintainya, dan menjadikan sunnahnya sebagai kompas kehidupan.

Bagikan: