KH Noer Ali dan Fikih Kampung: Dari Langgar Kecil hingga Kesadaran Bernegara

Majalahnabawi.com – Bekasi – Dalam sejarah lokal, ada tokoh yang sering kita ingat hanya melalui satu julukan. Julukan itu kuat, mudah dalam ingatan, dan cepat melekat dalam ingatan masyarakat. Namun, kadang-kadang julukan juga membuat kehidupan seorang tokoh menjadi terlalu sempit untuk dibaca.
Padahal seperti ini terjadi pada K.H. Noer Ali. banyak kalangan mengenal luas beliau sebagai “Singa Karawang-Bekasi”. Julukan tersebut tentu tidak keliru. Ia memang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia hadir dalam masa yang tidak mudah, ketika rakyat harus memilih antara tunduk kepada penjajah atau berdiri mempertahankan martabat bangsa.
Jika kita membaca K.H. Noer Ali hanya sebagai singa medan perang terasa belum cukup. Sebab, setelah senjata menempatkan, perjuangan tidak otomatis selesai. Justru di situlah tampak sisi lain yang sering luput untuk membahas: K.H. Noer Ali adalah ulama kampung yang memahami bahwa kemerdekaan harus meneruskan melalui pendidikan, dakwah, organisasi, dan pembentukan kesadaran masyarakat.
Di titik ini, K.H. Noer Ali dapat kita kenal melalui satu istilah sederhana: fikih kampung. Bukan fikih dalam arti hukum formal semata, melainkan cara seorang ulama membaca kebutuhan masyarakatnya, memahami luka sosial di sekitarnya, lalu bergerak dengan ilmu dan tanggung jawab.
Kampung dalam pandangan ini bukan sekadar ruang geografis. Kampung adalah tempat manusia belajar, beribadah, bekerja, bertetangga, berselisih, berdamai, dan membangun masa depan. Maka, membangun kampung berarti membangun manusia. Dan membangun manusia tidak cukup hanya dengan keberanian fisik, tetapi juga memerlukan ilmu, adab, organisasi, dan keteladanan
Membaca Ulang “Singa Karawang-Bekasi”
K.H. Noer Ali lahir di Ujung Harapan, Bekasi, pada 1914. Ia tumbuh dari lingkungan masyarakat biasa. Bukan dari pusat kekuasaan kolonial, bukan pula dari keluarga elite pemerintahan. Ayahnya bernama H. Anwar dan ibunya Hj. Maimunah. Dari lingkungan kampung itulah ia mulai mengenal agama, masyarakat, dan arti pengabdian.
Pendidikan awalnya ia tempuh melalui jalur tradisional. Ia belajar kepada para guru agama, di antaranya K.H.A. Mughni di Ujung Harapan dan K.H. Ahmad Marzuki di Rawa Bunga, Jatinegara. Pola pendidikan seperti ini menempatkan ilmu bukan hanya sebagai hafalan, tetapi sebagai hubungan batin antara murid, guru, adab, dan pengabdian.
Dalam tradisi pesantren, ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ilmu tumbuh bersama adab. Orang berilmu memikul tanggung jawab mora,Karena itu, perjalanan keilmuan K.H. Noer Ali sejak awal sudah berakar pada kehidupan sosial.
Allah swt berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةًۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya, “Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi ke medan perang. Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS At-Taubah: 122).
Ayat ini menarik jika dikaitkan dengan perjalanan K.H. Noer Ali. Ia tidak hanya pergi mencari ilmu, tetapi juga kembali kepada kaumnya. Ia tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk menjauh dari masyarakat, melainkan sebagai bekal untuk membimbing masyarakat.
Mekkah dan Tumbuhnya Kesadaran Kebangsaan
Perjalanan ke Mekkah menjadi bab penting dalam hidupnya. Di sana, ia belajar kepada sejumlah ulama Haramain, seperti Syekh Muhammad Ali al-Maliki, Syekh Muhammad Amin al-Kutbi, Syekh Umar Hamdan al-Mahrasi, dan beberapa ulama lainnya. Masa belajarnya di Mekkah sekitar 1934–1940 bukan hanya membentuknya sebagai ahli agama, tetapi juga membuka cakrawala sosial-politiknya.
Mekkah pada masa itu bukan hanya pusat ibadah dan keilmuan, tetapi juga ruang pertemuan banyak pelajar dari berbagai wilayah dunia Islam. Mereka datang dari negeri-negeri yang mengalami penjajahan. Di antara mereka terjadi percakapan tentang nasib umat, kemerdekaan, pendidikan, dan masa depan bangsa. Dari lingkungan seperti inilah kesadaran kebangsaan K.H. Noer Ali ikut terbentuk.
Setelah kembali ke Bekasi, ia tidak memilih jalan nyaman sebagai orang alim yang berjarak dari masyarakat. Ia kembali ke kampungnya. Ia membuka pengajian, membina masyarakat, dan membangun kesadaran agama dari ruang yang paling dekat: langgar, rumah, majelis, dan lingkungan sekitar.
Inilah hal yang sering kurang dibahas. K.H. Noer Ali bukan hanya tokoh besar karena ia pernah berada di medan perjuangan. Ia menjadi besar justru karena ia tidak meninggalkan kampungnya. Ia memahami bahwa pusat perubahan tidak selalu dimulai dari kota besar. Kadang, perubahan justru lahir dari kampung yang gelisah, dari guru ngaji yang tekun, dari masyarakat yang perlahan disadarkan melalui ilmu.
Perlawanan yang Lahir dari Kampung
Ketika revolusi kemerdekaan datang, K.H. Noer Ali ikut mengambil bagian. Ia dikenal berjuang bersama Batalyon III Hizbullah dalam perang gerilya melawan NICA. Julukan “Singa Karawang-Bekasi” muncul dari keberanian dan peran perjuangannya pada masa tersebut.
Namun, keberanian K.H. Noer Ali bukan keberanian yang kosong dari nilai. Ia tidak memahami perjuangan sebagai tindakan nekat. Bagi seorang ulama, membela tanah air adalah bagian dari menjaga martabat manusia, agama, dan masyarakat. Tanah air bukan sekadar batas wilayah, melainkan ruang hidup tempat agama diamalkan, keluarga dibangun, dan masyarakat dijaga.
Pada masa Agresi Militer Belanda tahun 1947, ia disebut menghadap Jenderal Oerip Soemohardjo di Yogyakarta dan diperintahkan bergerilya di Jawa Barat atas nama Hizbullah. Salah satu kisah yang menarik adalah strategi simbolik ketika rakyat Rawagede diminta memasang bendera kecil dari kertas minyak di pepohonan. Tindakan itu terlihat sederhana, tetapi mengandung pesan besar: republik masih ada, rakyat belum menyerah, dan kemerdekaan tetap hidup dalam tanda-tanda kecil.
Di sini tampak kecerdasan sosial K.H. Noer Ali. Perjuangan tidak selalu harus tampil dalam bentuk besar. Kadang, selembar bendera kecil di pohon kampung dapat menjadi bahasa perlawanan. Ia mengajarkan bahwa rakyat kecil pun dapat menjaga martabat bangsa dengan cara yang mereka mampu.
Resolusi Rakyat Bekasi dan Gagasan NKRI
Setelah revolusi bersenjata, K.H. Noer Ali tidak berhenti bergerak. Ia memasuki ruang politik kebangsaan. Pada 27 Januari 1950, ia memimpin Gerakan Rakyat Bekasi atau Resolusi Rakyat Bekasi. Gerakan ini menuntut dua hal penting: mengembalikan Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan Republik Indonesia Serikat, serta mengeluarkan Bekasi dari Jakarta Raya dan menggabungkannya ke Jawa Barat.
Peristiwa ini penting karena menunjukkan bahwa K.H. Noer Ali bukan hanya tokoh lokal dalam arti sempit. Ia membaca arah politik nasional. Ia memahami bahwa bentuk negara bukan sekadar urusan elite, tetapi berdampak langsung pada nasib rakyat. Jika negara terpecah dalam kepentingan politik yang rapuh, rakyat kecil akan menjadi pihak yang paling mudah dikorbankan.
Dalam hal ini, K.H. Noer Ali menunjukkan wajah lain seorang ulama. Ulama bukan hanya orang yang mengajar ibadah, tetapi juga orang yang memiliki kepekaan terhadap arah kehidupan umat. Ia melihat hubungan antara agama, rakyat, negara, dan masa depan bangsa.
Membangun Generasi, Bukan Sekadar Ceramah
Setelah perang dan gerakan politik, perjuangan K.H. Noer Ali kembali menemukan bentuknya yang paling panjang: pendidikan. Ia merintis dan mengembangkan lembaga pendidikan yang kemudian dikenal sebagai Pesantren Attaqwa. Lembaga ini tidak muncul tiba-tiba sebagai bangunan besar, tetapi tumbuh dari pengajian, keprihatinan sosial, dan kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan agama yang terarah.
Di sinilah fikih kampung K.H. Noer Ali semakin tampak. Ia tidak hanya mengajak masyarakat mengaji, tetapi juga membangun sistem pendidikan dan sosial. Ia tidak hanya berceramah, melainkan turut mendirikan berbagai lembaga sebagai sarana perjuangan. Bahkan, ia tidak sekadar mengkritik keadaan, tetapi juga menyiapkan generasi yang mampu membawa perubahan.
Pesantren Attaqwa berkembang dengan semangat menjaga tradisi sekaligus membuka diri terhadap perubahan zaman. K.H. Noer Ali memahami bahwa pesantren tidak boleh kehilangan akar keagamaannya. Tetapi ia juga menyadari bahwa masyarakat membutuhkan ilmu yang dapat menjawab tantangan baru. Karena itu, pendidikan agama, pelajaran umum, kedisiplinan, dan pembentukan karakter perlu berjalan bersama.
Cara pandang seperti ini sangat relevan hingga hari ini. Banyak lembaga pendidikan kadang terjebak pada dua kutub. Ada yang terlalu bangga dengan tradisi tetapi menutup diri dari perubahan. Ada pula yang mengejar modernitas tetapi tercerabut dari adab dan akar moral. K.H. Noer Ali memberi contoh bahwa keduanya dapat dipertemukan.
Tradisi bukan penghalang kemajuan. Modernisasi juga tidak harus berarti meninggalkan nilai. Yang diperlukan adalah kebijaksanaan dalam memilih, menyaring, dan menempatkan sesuatu sesuai kebutuhan umat.
Ilmu yang Melahirkan Khidmah
Dalam bahasa pesantren, ilmu harus melahirkan khidmah. Orang yang belajar tidak cukup hanya menjadi pintar, tetapi juga harus bermanfaat. Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya ijazah, melainkan perubahan akhlak, keluasan pandangan, dan kesediaan mengabdi.
Rasulullah saw bersabda dalam riwayat yang populer:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Semangat kemanfaatan inilah yang tampak dalam perjalanan K.H. Noer Ali. Ia belajar ke Mekkah, lalu kembali. Ia berjuang di medan perang, lalu membangun pendidikan. Ia masuk dalam gerakan politik, tetapi tidak meninggalkan dakwah. Ia menjadi tokoh besar, tetapi tetap berpijak pada kampung.
Keberanian Setelah Perang
Karena itu, menyederhanakan K.H. Noer Ali hanya sebagai “Singa Karawang-Bekasi” sebenarnya membuat kita kehilangan banyak pelajaran. Julukan itu penting, tetapi belum mewakili seluruh kehidupannya. Ia bukan hanya simbol keberanian, melainkan juga simbol kesabaran membangun masyarakat.
Keberanian memang dibutuhkan ketika bangsa terancam. Tetapi setelah ancaman fisik berlalu, yang dibutuhkan adalah keberanian lain: berani mendidik masyarakat yang tertinggal, berani membangun lembaga dari bawah, berani menjaga persatuan, dan berani melihat masa depan lebih jauh daripada kepentingan pribadi.
Hari ini, ketika banyak orang ingin perubahan cepat, K.H. Noer Ali mengajarkan bahwa perubahan sosial sering kali lahir dari kerja panjang. Mendidik satu generasi tidak bisa langsung dengan tergesa-gesa. Membangun kesadaran masyarakat tidak cukup dengan slogan. Menjaga agama dan bangsa tidak cukup dengan emosi. Semuanya membutuhkan ilmu, ketekunan, organisasi, dan keteladanan.
Kampung Ujung Harapan menjadi saksi bahwa sejarah besar tidak selalu dimulai dari istana. Ia dapat bermula dari langgar kecil, dari suara anak-anak mengaji, dari seorang guru yang pulang dari perantauan ilmu, lalu gelisah melihat masyarakatnya membutuhkan bimbingan.
Warisan Sosial K.H. Noer Ali
K.H. Noer Ali wafat pada 29 Januari 1992 di Ujung Harapan, Bekasi. Namun, warisannya tidak berhenti pada makam, nama jalan, atau gelar pahlawan nasional. Warisan terbesarnya adalah gagasan bahwa ilmu harus kembali kepada masyarakat. Bahwa ulama tidak boleh jauh dari denyut kehidupan rakyat. Bahwa kemerdekaan harus terus melalui pendidikan, dakwah, dan penguatan akhlak sosial.
Walhasil, K.H. Noer Ali perlu dibaca lebih luas daripada sekadar julukan “Singa Karawang-Bekasi”. Ia adalah ulama kampung yang memahami fikih kehidupan masyarakatnya. Ia mengerti kapan harus berjuang, kapan harus mendidik, kapan harus mengorganisasi rakyat, dan kapan harus menjaga arah bangsa. Dari Ujung Harapan, ia memberi pelajaran bahwa kampung bukan pinggiran sejarah. Kampung bisa menjadi pusat peradaban, selama di dalamnya ada ilmu, keberanian, adab, dan khidmah.
Sumber
Rifqiyyah, Neza Zahidah. 2023. “Pemikiran dan Karya K.H. Noer Ali sebagai Pahlawan Bekasi pada Tahun 1970–1992.” Skripsi Sarjana. Bandung: Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Marzuki, Abid. 2023. “Wawancara Dr. K.H. Abid Marzuki, M.Ed. tentang K.H. Noer Ali.”
Syamsuri. 2023. “Kontribusi K.H. Noer Alie dalam Bela Agama Negara, Politik, Dakwah, dan Pendidikan Islam Bekasi Era 1940–1992.” Kordinat Vol. XXII, No. 1.
Purwanto, Mamik Suendarti, dan Taufik. 2023. “Visi Pendidikan dan Modernisasi Pondok Pesantren Attaqwa Menurut K.H. Noer Ali di Kabupaten Bekasi.” Herodotus: Jurnal Pendidikan IPS Vol. 6, No. 2.