‹ Kembali ke Beranda
Tokoh

Mengenal Lebih Dekat Syekh Nawawi al-Bantani, Sang Sayyid ‘Ulama al-Hijaz

Oleh Muhamad Farhan Subhi·28 April 2026·33
Mengenal Lebih Dekat Syekh Nawawi al-Bantani, Sang Sayyid ‘Ulama al-Hijaz

Majalahnabawi.com – Dalam khazanah keilmuan Islam Nusantara, nama Syekh Nawawi al-Bantani menempati posisi yang amat istimewa sebagai ulama besar yang pengaruhnya melampaui batas geografis dan zaman. Ia bukan sekadar tokoh lokal dari Banten, melainkan figur intelektual yang jejak keilmuannya terpatri kuat di Tanah Suci dan diakui oleh para ulama Hijaz pada abad ke-19.

Oleh karena itu, mengenal lebih dekat sosoknya menjadi langkah yang amat penting. Marilah simak sekilas perjalanan hidupnya berikut ini!

Latar Belakang Keluarga dan Lingkungan

Syaikh Nawawi al-Bantani merupakan mufasir kelahiran Tanara, Banten. Selain menjadi mufasir, beliau juga merupakan ahli tasawuf dan fikih mazhab Syafi’i. Nama aslinya ialah Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Nawawi ibn Umar al-Tanara al-Jawi al-Bantani. Beliau yang lebih terkenal dengan nama Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani lahir pada tahun 1228 H/1813 M.

Ayahnya merupakan seorang penjabat penghulu yang memimpin masjid. Dari ayahnya lah nasabnya bersambung sampai Sunan Gunung Jati, keturunan dari putranya Sultan Banten I (Maulana Hasanuddin) yang bemama Tajul ‘Arsy (Sunyararas). Nasabnya juga menyambung hingga baginda Nabi Muhammad saw. melalui Imam Ja’far As-Shodiq, Imam Muhammad al-Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husen, dan Fatimah al-Zahra.

Tokoh ulama yang kebesarannya sering terdengar disetarakan dengan Imam Nawawi (w.676 H/1277 M) ini wafat di usia 84 tahun pada tanggal 25 Syawal 1314 H/29 Maret 1897 M. Jenazahnya dikebumikan di Ma’la, dekat makam Siti Khadijah. Untuk mengenangnya, masyarakat Tanara, Tirtayasa, Banten selalu mengadakan haul untuknya setiap Jum’at terakhir di bulan Syawal.

Perjalanan Keilmuan dan Pembentukan Pemikiran

Di usianya yang masih belia,lima belas tahun, Syaikh Nawawi Al-Bantani menunaikan ibadah haji sekaligus belajar ilmu kalam, bahasa, sastra Arab, ilmu hadis, tafsir dan terutama ilmu fikih di sana. Tiga tahun kemudia, tepatnya pada tahun 1833 M, beliau kembali dengan khazanah ilmu keagamaan yang cukup mumpuni untuk membantu ayahnya mengajar para santri.

Nawawi kecil yang telah menunjukkan kecerdasannya berhasil menarik simpati masyarakat. Kepulangannya membuat pesantren dipenuhi para santri dari berbagai pelosok yang ini belajar kepadanya. Tak berselang lama, beberapa tahun kemudian beliau kembali ke Mekkah dengan tujuan untuk bermukim di sana sesuai impiannya.

Di sana, beliau melanjutkan prosen pencarian ilmunya. Pertama, beliau berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib Sambas (Penyatu tarekat Qodiriyah dan Naqsyabandiyah di Indonesia) dan Syeikh Abdul Gani Bima, ulama Indonesia yang tinggal di sana. Kemudian beliau melanjutkan proses pembelajarannya dengan berguru kepada Sayid Ahmad Dimyati dan Ahmad Zaini Dahlan di Mekkah serta Muhammad al-Hanbali di Madinah.

Setelah itu, beliau belajar pada beberapa  ulama besar Mesir dan Syam (Syiria). Menurut Abdul Jabbar, Beliau pernah pergi untuk belajar ke Mesir. Beberapa guru utamanya pun merupakan ulama Mesir, seperti Syeikh Yusuf Sumbulawini dan Syeikh Khatib Ahmad Nahrawi.

Kontribusi dan Sumbangsih dalam Dunia Keilmuan Islam

Setelah belajar selama kurang lebih tiga puluh tahun di sana, tepatnya pada tahun 1860 M, Syaikh Nawawi Al-Bantani mulai mengajar di pelataran Masjid al-Haram. Kualitas mengajarnya yang memuaskan mencatatkan namanya sebagai salah satu ulama di sana. Pada tahun 1870 M, beliau mulai banyak menulis atas desakan orang-orang terdekatnya. Permintaan paling banyak datang dari para sahabatnya di pulau Jawa.

Karya-karyanya dimaksudkan untuk menjadi bahan ajar di daerah asalnya. Desakan tersebut dapat kita lihat dari setiap karyanya yang ia tulis atas permintaan orang-orang terdekatnya. Kebanyakan dari karyanya ialah syarah dari kitab-kitab populer yang termasuk sulit untuk dipahami. Selain atas permintaan orang-orang terdekatnya, alasan penulisan syarah- syarah tersebut ialah untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan.

Dalam proses penulisannya, beliau selalu berkonsultasi dengan para ulama besar. Mereka akan membacanya terlebih dahulu sebelum cetak. Dari banyaknya tempat penerbitan dan juga seringnya cetak ulang, dapat kita ketahui bahwa karya-karyanya cepat tersebar luas hingga ke Mesir dan Syiria. Karyanya yang tersebar luas, mudah untuk pahaminya, dan amat berisi berhasil mencatatkan pula namanya sebagai salah satu ulama besar abad ke 14 H/19 M.

Beliau pun mendapat gelar A’yan ‘Ulama’ al- Qarn al-Rabi’ ‘Asyar Li al-Hijrah, AI-Imam al-Mullaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz. Dalam kalangan pesantren sendiri, beliau terkenal sebagai mahaguru sejati (the great scholar). Beliau berjasa sebagai peletak landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di pesantren. Di antara perantaranya dengan banyak membentuk tokoh-tokoh intelektual pendiri pesantren di Indonesia.

Di samping kesibukan mengajarnya dan kemahirannya dalam berbagai bidang, seperti ilmu tafsir, tauhid, fikih, akhlak, tasawuf, sejarah serta sastra Arab, Syaikh Nawawi Al-Bantani juga merupakan seorang ulama yang produktif menulis. Karya-karyanya yang hampir mengisi seluruh tema keislaman membuktikan kualitasnya yang tak patut diragukan. Terkait jumlah seluruh karyanya, terdapat dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan 99 buah dan pendapat kedua mengatakan 115 buah.

Di antara Karya-karya Syaikh Nawawi Al-Bantani

Tema ilmu kalam dan akhlak

  • Bahjat al-Wasa’il bi Syarhil Masil, syarah atas kitab Ar-Rasail al-Jami’ah Baina Ushul ad-Din wal-Fiqh wat-Tasawuf, karya Sayyid Ahmad ibn Zein al-Habsyi. Ditulis pada tahun 1292 H
  • Fath al-Majid, ulasan dari kitab al-Durr al-Farid Fi al-Tauhid. Ditulis tahun 1298 H.
  • Tijam al-Darari merupakan ulasan atas kitab al-‘alim al-Allamah Syeikh Ibrahim al-Bajuri fi al-Tauhid. Kitab ini ditulis pada tahun 1301 H.
  • Al-Nahjah al-Jadidah yang ditulis pada tahun 1303H
  • Dzari’ah al-yaqin ‘ala Umm al-Barahain yang ditulis pada tahun 1317 H. kitab ini memberi ulasan pada Umm al-barahain karya al-Sanusi.
  • Salalim al-Fudlala, ringkasan/risalah terhadap kitab Hidayatul Azkiya ila Thariqil Awliya, karya Zeinuddin ibn Ali al-Ma’bari al-Malibari.
  • Qatr al-Ghaith dan Nasaih al-Ibad, syarah atas kitab Masa’il Abi Laits, karya Imam Abi Laits.
  • Qami’al Thughyan, syarah atas Syu’ub al Iman, karya Syeikh Zaenuddin ibn Ali ibn Muhammad al-Malibari
  • Marraqiyyul ‘Ubudiyyat, syarah atas kitab Bidayatul Hidayah karya Abu hamid ibn Muhammad al-Ghazali.
  • Nur al-Dhalam yang ditulis pada tahun 1329 H berisi ulasan atas kitab Manzumat bi Aqidah al- Awam karya Syeikh Ahmad Marzuki al-Maliki.

Tema fikih

  • Sulam al-Munajah, syarah atas kitab Safinah ash-Shalah, karya Abdullah ibn Umar al-Hadrami.
  • Al-Tsimar al-Yaniat fi Riyad al-Badi’ah, syarah atas kitab Al-Riyadl al-Badi’ah fi Ushul ad-Din wa Ba’dhu furu’usy Sar’iyyah ‘ala Imam asy-Syafi’i karya Syeikh Muhammad Hasballah ibn Sulaiman.
  • Mingat asy-Syu’ud at-Tasdiq, syarah dari Sulam at-Taufiq karya Syeikh Abdullah ibn Husain ibn Halim ibn Muhammad ibn Hasyim Ba’lawi.
  • Kasyifatus Saja’, syarah atas kitab Syafinah an-Najah, karya Syeikh Salim ibn Sumair al- Hadrami.
  • Uqud al-Lujain fi Bayani Huquq al-Jawazain, kitab fikih mengenai hak dan kewajiban suami-istri.
  • Nihayatuz Zain fi Irsyad al-Mubtadiin, syarah atas kitab Qurratul ‘Aini bi Muhimmati ad-Din, karya Zainuddin Abdul Aziz al-Maliburi.
  • Fath al-Mujib yang ditulis pada 1276 H kitab ini merupakan ulasan ringkas atas kitab Khatib al-Syarbani fi al-Manasik.
  • Al-‘Aqd al-Tsamin yang berisi ulasan atas kitab Manzumat al-Sittin Mas’alatan al-Musamma bila al- fath al Mubin karya Syeikh Mustafa ibnu ‘Usman al-Jawi al-Qaruti.
  • Al-Tausyih yang ditulis pada 1314 H ini berisi ulasan atas kitab Fath al-Qarib al-Mujib karya ibn Qasim al-Ghazi.

Tema bahasa dan kesusastraan

  • Syarah al-Jurumiyah, isinya tentang tata bahasa Arab, terbit tahun 1881.
  • Lubab al-Bayan yang membahas ilmu balaghah dan merupakan ulasan atas kitab Risalat al-Isti’arat karya al-Husain al-Nawawi al-maliki. (1884).
  • Fath al-Ghafir al-Khattiyah yang berisi ulasan atas kitab Nuzum al-Jurumiyah Al-Musamma bi al-Kaukah al-Jaliyah karya Imam Abdul salam ibn Mujahid al-Nabrawi. Ditulis pada tahun 1298 H
  • Al-Fhusus al-Yaqutiyyah ‘ala Raudhat al-Mahiyah fi al-Abwab al-Tashrifiyah yang membahas marfologi atau ilmu sharf. Kitab ini merupakan ulasan atas kitab al-Raudhah al-Bahiyyah fi al-Abwab al-Tashrifiyyah.
  • Syarh Fath al-Rahman dalam bidang tajwidnya.

Tema sejarah

  • Targhib al-Mustaqim. Ditulis pada tahun 1292 H, ini berisi ulasan atas kitab Manzumat al-Sayid al-Barzanji Zan al-‘Abidin fi Mauli, karya Sayyid al-Awlin.
  • Al-Ibriz al-Dani yang tulis pada tahun 1292 H berisi sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw.
  • Madarij al-Su’ud ila Iktisa’ al-Bururud yang berisi ulasan atas kitab Maulid al-Nabawi al-Syahir bi al-Barzanji, karya Imam Sayyid Ja’far.
  • Fath al-Shamad. Kitab ini berisi ulasan atas Kitab Maulid Al-Nabawi.
  • Bughyat al-Awam fi syarh Muwlid Sayyid al-Anam SAW karya Ibn Jauzi.
  • Ad-Durar al-Bahiyah fi Syarh Khashaish an- Nabawiyyah.

Di samping kesibukan mengajarnya dan kemahirannya dalam berbagai bidang, seperti ilmu tafsir, tauhid, fikih, akhlak, tasawuf, sejarah serta sastra Arab, Syaikh Nawawi Al-Bantani juga merupakan seorang ulama yang produktif menulis. Karya-karyanya yang hampir mengisi seluruh tema keislaman membuktikan tidak adanya keraguan pada kualitasnya.

Terkait jumlah seluruh karyanya, terdapat dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan 99 buah dan pendapat kedua mengatakan 115 buah. Menurut beberapa peneliti, keistimewaan karya-karyanya secara umum ialah mampu menghidupkan isi karyanya sehingga para pembaca mudah memahami dan juga dapat menjiwainya, sehingga mampu menjelaskan istilah-istilah sulit, dan keluesan isinya.

Bagikan: