Dalam proses penyebaran agama dan sunnah khususnya Ummahatul Mu’minin memiliki kontiribusi besar. Ketika Rasulullah wafat, beliau meninggalkan sembilan orang istri yaitu Aisyah Binti Abu Bakar as-Shiddiq, Ummu Salamah, Maimunah, Ummu Habibah, Hafsah binti Umar bin Khattab, Zainab binti Jahsy, Shafiyah, Juwairiyah binti Harist, dan Saudah binti Zam’ah. Mereka kemudian mengambil bagian sebagai penyambung lidah Rasulullah dalam menyampaikan ajaran Islam yang mereka ketahui selama menjadi pendamping Rasulullah.

Sepeninggal Rasulullah rumah istri-istri Rasulullah secara bertahap berubah menjadi salah satu tempat rujukan sahabat untuk bertanya dan meminta pandangan keagamaan sesuai pengalaman hidup mereka bersama Rasulullah atau mengonfirmasi hal-hal yang mereka ragui terkait sabda Rasulullah. Menjadi nikmat tersendiri bagi umat bahwa Rasulullah meninggalkan banyak isrti sehingga mereka semua bisa menjadi sumber pengetahuan yang otoritatif terkait keseharian Rasulullah baik berupa ibadah, kehidupan rumah tangga serta kehidupan bermasyarakat yang tentunya sesuai tingkat hapalan dan periwayatan yang mereka sebarkan.

Sebagai pendamping pembawa risalah kenabian tentu Ummahatul Mukminin memiliki posisi lebih dari wanita-wanita lain, bahkan Allah secara tegas menyanjung mereka sebagaimana dalam firman-Nya surat al-Ahzab [33]: 32-34. Mereka berbeda dari wanita pada umumnya, sebagai rool mode wanita lain dengan bersikap layaknya sebagai seorang istri Rasulullah yang Allah pilih rumah mereka sebagai tempat dibacakannya ayat-ayat tuhan serta sabda-sabda kenabian.

Para sahabat sendiri pun menempatkan posisi Ummahatul Mukminin di posisi yang mulia, misalnya dalam kondisi tertentu mereka merasa enggan menjawab pertanyaan atau berfatwa jika disana ada Ummahatul Mukminin. Seperti yang diriwayatkan an-Nasai dalam Sunan al-Kubra, suatu kali Marwan tidak mau menjawab pertanyaan terkait kebolehan tidak berwudhu setelah memakan daging yang dipanggang. bagaimana kita yang ditanya padahal istri Rasulullah masih ada bersama kita, lalu dia memberitakan hal itu kepada Ummu Salamah, Ummu Salamah menjawab: “Rasulullah pernah keluar lalu beliau disodorkan daging panggang, beliau memakannya dan kemudian melakukan shalat”.

Bahkan lebih jauh, sahabat Ibnu Abbas menganggap kematian salah satu dari mereka sebagai suatu kesedihan mendalam dan satu tanda kekuasaan Allah sehingga suatu kali Ibnu Abbas bersujud tatkala mendengar berita salah satu istri Rasulullah meninggal dunia sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dalam Sunannya.

عن عكرمة قال: قيل لابن عباس بعد صلاة الصبح ماتت فلانة لبعض أزواج النبي صلى الله عليه و سلم فسجد فقيل له أتسجد هذه الساعة ؟ فقال أليس قد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا رأيتم آية فاسجدوا فأي آية أعظم من ذهاب أزواج النبي صلى الله عليه و سلم. (رواه الترمذي)

Baja Juga  Ustadz Ali Nurdin: Sistem Pendidikan Terbaik ada di Pesantren

 

Artinya: “Ikrimah menceritkan: Ibnu Abbas diberi tau setelah shalat subuh bahwa salah satu istri Rasulullah meninggal dunia, lalu Ibnu Abbas sujud, kemudian beliau ditanya: apakah ada sujud pada waktu ini? Ibnu Abbas menjawab: sungguh Rasulullah pernah bersabda jika kalian melihat tanda kebesaran Allah maka sujudlah. Maka tanda kebesaran Allah manalagi yang lebih besar dari wafatnya istri Rasulullah?”. ( HR. Tirmidzi)

Aisyah Binti Abu Bakar as-Shiddiq

Aisyah lahir pada tahun kedua setelah kenabian, dia lahir di keluarga yang telah dikaruniai cahaya Islam sehingga tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mulia di bawah asuhan pasangan Abu Bakar as-Shiddiq dan Ummu Rumman orang yang paling dicintai Rasulullah, orang pertama yang menyokong dakwah Rasulullah dengan segenap harta dan jiwa raganya.

Kemudian Aisyah pindah ke rumah kenabian menyelami luasnya ilmu dibawah bimbingan Rasulullah, menikmati setiap sabda Rasulullah dengan balutan cinta kasih yang pada akhirnya mengantarkan beliau menjadi salah satu lentera keilmuan sepeninggal Rasulullah.

Kecerdasan serta keluasan ilmu Aisyah mendapat pengakuan dari sahabat lain, beliau menjadi salah satu rujukan terhadap berbagai permasalahan yang timbul sepeninggal Rasulullah. Bahkan Imam Badruddin az-Zarkasyi menulis satu kitab khusus berjudul al-Ijābah li īrād mā Istadrakahu Aisyāh alā as-Shahābah, kitab ini menjelaskan terkait kehidupan Aisyah, keistimewaannya, serta koreksian Aisyah terhadap beberapa kekeliruan pemahaman sahabat.

Lahir dari keluarga dengan latarbelakang keluarga yang baik, menjadi pendamping hidup Rasulullah yang merupakan mata air ilmu serta kecerdasan dan kemampuan hafalan yang kuat menjadi faktor utama keluasan ilmu Aisyah, disamping faktor-faktor lain seperti kegigihan dan suka bertanya sebagaimana diungkapkan Ibnu Abi Mulaikah yang diriwayatkan al-Bukhari: “Aisyah tidaklah mendengar sesuatu yang tidak diketahuinya kecuali ia akan menanyakannya kembali kepada Rasulullah sampai ia mengerti”.

Aisyah menjadi sosok yang paham al-Quran, Asbabun Nuzulnya, tempat dan waktu turunnya, serta makna dan tafsirannya. Seorang faqih ulung tempat para sahabat menanyakan masalah-masalah baru yang tidak bisa mereka pecahkan dan Aisyah selalu memberikan tawaran pandangan baru yang tidak dijangkau oleh yang lain, seperti pengakuan Abu Musa al-Asy’ari yang diriwayatkan at-Tirmizi: “Tidak ada satu masalah pun yang sulit kami (sahabat Rasulullah) pecahkan, lalu kami bertanya kepada Aisyah kecuali kami akan menemukan jawabannya”. Di sisi lain Aisyah juga sangat menguasai gramatikal Bahasa Arab, Syiir Arab Jahiliyah yang turut membantu dalam memahami teks-teks keagamaan berupa Al Quran dan hadis.

Baja Juga  Reaktualisasi Akhlak Nabi terhadap Lingkungan Hidup

Khusus di bidang hadis, Aisyah merupakan salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadis, tercatat hadis melalui riwayat beliau sebanyak 2210 hadis hal itu karena beliau menerima sabda-sabda kenabian langsung dari Rasulullah dalam kesehariannya baik di luar maupun di dalam rumah, oleh karena itu juga tidak jarang Aisyah meriwayatkan hadis-hadis yang tidak diketahui oleh sahabat lain.

Penguasaan hadis serta kuatnya hafalan Aisyah tidak jarang menjadi jalan keluar dan acuan bagi sahabat yang ragu terhadap riwayat hadis yang mereka dengar, bahkan Abu Hurairah seringkali mengonfirmasi hadis-hadisnya kepada Aisyah seperti dalam riwayat Muslim “Wahai istri Rasulullah, apakah engkau mengingkari apa yang saya riwayatkan ini?”.

Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan ketika menjabat sebagai khalifah tidak jarang berkirim surat kepada Aisyah untuk menanyakan suatu hal terkait hadis Rasulullah, meskipun beberapa sahabat lain telah memberitahunya namun Muawiyah belum bisa merasa tenang sampai ia mendapat jawaban dari Aisyah.

Sepeninggal Rasulullah, Aisyah hidup selama 46 tahun. Rentang waktu yang sangat Panjang ini ia gunakan untuk menyebarkan sabda-sabda Rasulullah. Dalam rentang waktu ini juga para sahabat, tabiin besar dan tabiin kecil bisa menyelami kedalaman ilmu nya. Diantara sahabat yang tercatat meriwayatkan hadis dari Aisyah adalah Ayahnya Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abu Musa al-Asy’ari, keponakannya Abdullah bin az-Zubair, Urwah bin az-Zubair, al-Qasim bin Muhammad dan lainnya.

Muridnya dari kalangan tabiin seperti Masruq bin al-Ajda’, al-Aswad bin Yazid an-Nakaha’i, Said bin al-Musayyab, Mujahid, Ikrimah, Nafi’, Ibnu Abi Mulaikah dan lainnya.

Secara umum, hadis-hadis riwayat Aisyah berkaitan dengan tema keimanan, proses turun wahyu, ilmu, tafsir al-Quran dan asbabun nuzulnya, dan terkait hukum seperti bersuci, tayammum, ibadah shalat, puasa, zakat dan haji, terkait pernikahan, dan terkhusus terkait adab keseharian, kehidupan berkeluarga, hubungan suami-istri, serta fiqih keperempuanan.

Ini merupakan sekelumit tentang Ummul Mukminin Aisyah ra, satu diantara penyambung lidah Rasulullah menyampaikan sabda-sabda kenabian. Dari sini kita ketahui kontibusi besar yang telah diberikan Aisyah terhadap khazanah Islam secara umum dan terkhusus dalam periwayatan hadis sehingga sampai hari ini kita masih bisa menikmati sabda Rasulullah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here