Lailatul Qadar, Harapan yang Dipertaruhkan dan Rahasia Sejarahnya

Pendahuluan:
Majalahnabawi.com – Ada suatu pemandangan yang hampir selalu terulang di setiap kali 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Orang-orang yang biasanya tidur lebih awal justru memilih tetap terjaga hingga larut malam, bahkan mereka berlanjut sampai waktu sahur. Ada sebagian duduk di masjid membaca Al-Qur’an, sebagian lagi berzikir kepada Allah dengan suara lirih, dan juga tidak sedikit dari mereka yang menengadahkan tangan dalam doa yang panjang. Jika kita perhatikan lebih dekat, sebenarnya mereka datang dengan alasan yang sama: mencari Lailatul Qadar.
Bagi sebagian orang, malam itu menjadi semacam pertarungan doa dan harapan. Ada yang memohon agar kesulitannya menjadi mudah, ada yang berharap hidupnya berubah menjadi lebih baik, dan ada pula yang hanya ingin satu hal sederhana: mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Harapan ini bukan muncul tanpa dasar. Al-Qur’an sendiri menggambarkan Lailatul Qadar dengan kalimat yang sangat menjanjikan:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)
Seribu bulan berarti lebih dari delapan puluh tahun. Dengan kata lain, satu malam yang singkat itu memiliki nilai ibadah yang bahkan bisa melampaui umur manusia pada umumnya.
Namun semakin kita pahami, Lailatul Qadar ternyata bukan hanya tentang pahala yang besar. Ia juga berkaitan dengan peristiwa yang mengubah arah sejarah manusia: turunnya Al-Qur’an.
Kisah yang Membuat Para Sahabat Tertegun
Dalam beberapa kitab tafsir terdapat sebuah kisah yang cukup menarik. Suatu hari Rasulullah pernah menceritakan kepada para sahabat tentang seorang hamba dari umat terdahulu yang menghabiskan waktu sangat lama untuk beribadah dan berjihad di jalan Allah.
Riwayat itu menyebutkan bahwa ia berjuang dan beribadah selama seribu bulan tanpa merasa lelah. Dalam sebagian literatur ia terkenal sebagai Syam‘un al-Ghāzī, seorang nabi dari kalangan Bani Israil.
Para sahabat yang mendengar kisah itu merasa kagum sekaligus gelisah. Mereka sadar bahwa umur umat Nabi Muhammad tidak sepanjang umat-umat terdahulu. Banyak orang dari umat ini yang bahkan tidak mencapai usia enam puluh atau tujuh puluh tahun.
Lalu muncul pertanyaan yang wajar: bagaimana mungkin mereka bisa menyamai amal ibadah yang berlangsung selama puluhan tahun itu? Di sinilah Surah Al-Qadr turun sebagai jawaban. Sebagaimana Ibn Kathir sebutkan dalam karya tafsirnya:
ذكر النبي ﷺ رجلاً من بني إسرائيل حمل السلاح في سبيل الله ألف شهر، فتعجب المسلمون من ذلك، فأنزل الله ليلة القدر خير من ألف شهر.
Maknanya sangat jelas: ketika kaum muslimin merasa takjub terhadap ibadah yang berlangsung selama seribu bulan itu, Allah menurunkan ayat yang menjelaskan bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.
Seolah-olah Allah ingin mengatakan bahwa meskipun umur umat Nabi Muhammad lebih singkat, mereka tetap memiliki kesempatan untuk meraih pahala yang sangat besar.
Malam Ketika Al-Qur’an Mulai Diturunkan
Keistimewaan Lailatul Qadar juga berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an. Allah berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.” (QS. Al-Qadr: 1)
Namun ayat ini sering menimbulkan pertanyaan. Bukankah wahyu kepada Nabi Muhammad turun selama bertahun-tahun? dan sudah masyhur kita ketahui bahwa peringatan Nuzulul Qur’an bertepatan pada tgl 17 Ramadhan?
Para ulama menjelaskan bahwa yang perlu kita ketahui turunnya Al-Qur’an terjadi dalam dua tahap, dan berarti manakah yg benar, Allah turunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar atau 17 Ramadhan.
Pertama, Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauh al-Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar. Penjelasan ini disebutkan oleh para ulama tafsir seperti Al-Qurtubi dan Ibn Kathir.
Dalam sebagian kitab tafsir terdapat redaksi berikut:
أنزل القرآن جملة واحدة إلى بيت العزة في السماء الدنيا ليلة القدر
Setelah itu, tahap yang kedua wahyu Allah turunkan kepada Nabi Muhammad secara bertahap melalui Malaikat Jibril selama sekitar dua puluh tiga tahun (22 tahun, 2 bulan 22 hari) yang sudah kita ketahui juga bahwa, ayat yg pertama kali turun secara berangsur ialah ayat pertama pada surat Al- A’laq, turunnya bertepatan pada tgl 17 Ramadhan di gua Hira. Jadi manakah yang benar? Jawabannya keduanya sama-sama benar.
Cara ini membuat Al-Qur’an tidak turun sekaligus sebagai kitab yang langsung selesai, tetapi hadir perlahan-lahan mengikuti perjalanan dakwah Nabi dan kehidupan umat Islam pada masa itu.
Mengapa Malam Lailatul Qadar Tidak Diberitahukan Secara Pasti?
Menariknya, waktu pasti Lailatul Qadar tidak pernah disebutkan secara tegas. Nabi hanya memberi petunjuk bahwa malam itu berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil. Para ulama menjelaskan bahwa di sinilah letak hikmahnya.
Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari menjelaskan bahwa jika Lailatul Qadar kita ketahui secara pasti, manusia mungkin hanya akan beribadah pada satu malam itu saja. Dengan dirahasiakannya waktu tersebut, seorang muslim terdorong untuk menghidupkan seluruh malam terakhir Ramadhan.
Karena itu Rasulullah memberikan contoh yang sangat jelas. Dalam hadis yang Aisha bint Abi Bakr riwayatkan, tersebutkan bahwa ketika sepuluh malam terakhir tiba, Nabi meningkatkan ibadahnya dengan sangat serius: beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan mengurangi waktu tidurnya. Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad ibn Ismail al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj.
Doa yang Paling Sering Dipanjatkan pada Malam Lailatul Qadar
Salah satu doa yang sangat dianjurkan pada malam tersebut adalah doa yang diajarkan Nabi kepada Aisha bint Abi Bakr:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Doa ini sangat sederhana. Tetapi jika kita pikirkan lebih dalam, isinya sangat besar: seorang hamba memohon agar Allah benar-benar menghapus kesalahan yang pernah ia lakukan.
Mungkin karena itu doa ini terasa sangat dekat dengan kondisi manusia. Banyak orang datang ke malam Lailatul Qadar dengan membawa beban hidupnya masing-masing dan pada malam itu mereka berharap semua kesalahan masa lalu dapat Allah ampuni.
Penutup: Satu Malam yang Bisa Mengubah Banyak Hal
Jika kita lihat sepintas, Lailatul Qadar hanya tampak sebagai satu malam di antara malam-malam Ramadhan lainnya. Tetapi ketika kita pahami lebih dalam, malam ini ternyata menyimpan banyak makna: ia berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an, dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad, dan dengan rahmat Allah yang sangat luas bagi umat manusia.
Karena itulah para ulama selalu mengatakan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan bukanlah waktu yang biasa. Di antara malam-malam itu mungkin tersembunyi satu malam yang dapat mengangkat doa seorang hamba, menghapus dosanya, dan membuka lembaran hidup yang baru.
Dan mungkin saja, di suatu malam yang tampak sunyi, ada seseorang yang sedang berdoa dengan penuh harap tanpa menyadari bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar yang selama ini ia cari.