‹ Kembali ke Beranda
Al-Quran · Nabawi Digital

Menghafal Itu Karunia, Bukan Ukuran Kesalehan

Oleh Naila Amani·26 Juni 2026·12
Menghafal Itu Karunia, Bukan Ukuran Kesalehan

Majalahnabawi.com  Bagi para penghafal al-Quran, tidak bisa dipungkiri bahwa rasa malas, jenuh, bahkan keinginan untuk menyerah  kerap terlintas di benak, terlebih ketika kita sudah mencurahkan segala usaha dan waktu, tetapi susah sekali rasanya hafalan melekat. Apalagi ketika melihat teman yang melakukan perkara-perkara tercela, tetapi sekali muraja’ah langsung mutqin.

Lantas mengapa bisa demikian? Artikel ini akan mengajak pembaca menelusuri lebih jauh secara obyektif  melalui kacamata ilmu dan iman, bukan terbatas pada logika saja.

Menghafal adalah Karunia

Di antara karunia dan rahmat Allah Ta‘ala adalah bahwa muraja’ah dan menjaga hafalan ini sendiri merupakan ibadah yang diberi pahala. Setiap huruf yang dibaca diberi sepuluh kebaikan. Seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud raḍiyallāhu ‘anhu:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: الم حرف، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْف

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi dan ad-Darimi)

Maka kita bisa membayangkan berapa banyak pahala yang didapat seseorang ketika ia mengulang satu halaman Al-Quran. Hal ini sesuai dengan jawaban dari Dr. Ahmad Sa‘id al-Fawda‘I, seorang ulama Yaman kepada seorang siswinya.

Dari sini, jelas sekali Allah memberi karunia dan nikmat kepada para penghafal al-Qur’an. Namun, apakah seorang hafiz otomatis mendapatkan ridho Allah? Bagaimana jika seorang hafidz, tapi ia juga pelaku maksiat? Bagaimana korelasinya dengan hadis dari Anas: Para hafiz yang senang bermaksiat akan disiksa lebih dahulu ketimbang penyembah berhala

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: الزَّبَانِيَةُ إِلَى فَسَقَةِ حَمَلَةِ الْقُرْآنِ أَسْرَعُ مِنْهُمْ إِلَى عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ فَيَقُوْلُوْنَ: يُبْدَأُ بِنَا قَبْلَ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ؟ فَيُقَالُ لَهُمْ لَيْسَ مَنْ يَعْلَمُ كَمَنْ لَا يَعْلَمُ.

Dari Anas Ra, bahwa Nabi Saw bersabda, “Malaikat Zabaniah itu akan lebih cepat menyiksa para penghafal al-Quran yang fasik (senang berbuat jahat) daripada para penyembah berhala. Para penghafal tadi lalu bertanya, “kenapa kami disiksa lebih dahulu ketimbang penyembah berhala?” Mereka dijawab, “Orang yang mengetahui tidak sama dengan orang yang tidak mengetahui.” (HR. at-Tabrani).

Apakah itu Termasuk Istidraj?

Bisa jadi bagi ahli maksiat itu termasuk istidraj. Allah SWT berfirman dalam surah al-An’am ayat 44:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ ۝٤٤

Artinya: “Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”

Atau kemudahan ia dalam menghafal bisa sebagai pintu hidayah agar ia kembali. Tapi setelah saya renungkan hal ini, tidak pantas jika kita merasa lebih baik dari mereka yang ahli maksiat hanya karena kemampuan menghafal mereka yang lebih cepat. Banyak juga faktor lain yang memengaruhi kemampuan menghafal seseorang. Faktor eksternal seperti; manajemen waktu, ketenangan jiwa, kesehatan lahiriah, atau sistem menghafal juga memengaruhi hal ini. Kekuatan Intelligence Quotient (IQ) seseorang juga memengaruhinya.

Bukan Sekadar Hafal, tapi Mengamalkan

Inti paling urgent bagi orang yang berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah mengamalkannya, bukan sekadar membaca atau menghafalnya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ajurri dalam Akhlaq Hamalat al-Qur’an, pengemban Al-Quran semestinya menghiasi diri dengan ketakwaan, menjaga kehalalan makanan dan penghasilan, serta memiliki kepekaan terhadap kerusakan zaman. Ia juga harus menjaga lisan, mengendalikan amarah, tidak sombong, tidak zalim, tidak melampaui batas, serta menjauhi sikap mencari keuntungan dunia dengan ayat-ayat Al-Quran.

Selain itu, ia dituntut untuk tawadhu’, qana’ah, berbakti kepada orang tua, menjaga silaturahmi, bersahabat dengan orang-orang beriman, serta bersikap lembut dan sabar dalam mengajarkan kebaikan. Ia menjadikan bacaan dan hafalannya sebagai sarana tazkiyatun nafs (pendidikan jiwa), berusaha memahami kandungannya, dan berambisi mengamalkannya, bukan sekadar mengejar khatam bacaan.  Ada satu poin yang perlu diluruskan adalah perkataan Imam al-Ajurri:

لَا يَأْكُلُ بِالْقُرْآنِ

Di dalam buku karya K.H. Ali Musthafa yaqub beliau menjelaskan, bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini. Sebagian mengharamkan dan sebagian yang lain membolehkan termasuk disini Imam Syafi’i. Dalil diperbolehkannya yakni berdasarkan hadis riwayat Imam al-Bukhari yang mana Rasulullah menjelaskan bahwa pekerjaan yang berkaitan dengan Kitabullah (al-Quran) lebih berhak (lebih wajib) dipungut imbalannya.

Pada akahirnya, sikap yang harus kita ambil yakni tidak iri terhadap kemudahan yang Allah berikan kepada orang lain. Percaya yang Allah berikan adalah yang terbaik untuk kita dan pasti ada hikmah di balik itu semua. Kita hanya melihat orang lain sebatas dzohir, tapi tidak tahu ujian apa yang sedang dihadapi masing-masing.

Fokus untuk terus semangat dalam murojaah hafalan dan membenahi diri sendiri, sebelum merasa diri sendirilah yang paling suci. Terus berdoa agar selalu diberi hidayah dan barokah melalui al-Quran. Allah Maha Adil lagi Maha Bijaksana, tetap yang dinilai adalah ketakwaan dan kesabaran seorang hamba. Yang terpenting bukan yang paling cepat khatamnya, melainkan siapa yang istiqomah menjaga dan mengamalkan al-Quran.

Wallahu a’lam….

Bagikan: