‹ Kembali ke Beranda
Nabawi Digital · Opini

Merawat Laku Hidup Seorang Khadimun Nabi: Malam Puncak Haul Kiai Ali

Oleh Mujtaba Akmal·6 Mei 2026·84
Merawat Laku Hidup Seorang Khadimun Nabi: Malam Puncak Haul Kiai Ali

Majalahnabawi.com – Pondok Pesantren Darus-Sunnah menggelar Haul ke-10 Allâhu yarham Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA., pada Sabtu, 2 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung khidmat dengan kehadiran para asatidz, santri, alumni, serta tamu undangan dari berbagai kalangan dan daerah. Haul tidak hanya menjadi ajang mengenang, tetapi juga menghadirkan ruang untuk meneguhkan kembali jejak keilmuan yang almarhum tinggalkan.

Panitia mengawali rangkaian acara sejak pagi melalui kegiatan tandzif akbar yang melibatkan santri dan mahasantri, kemudian mereka melanjutkan kegiatan dengan khataman bin nadzar pada siang hari.

Menjelang sore, kegiatan beralih pada persiapan ziarah kubra. Setelah sholat Ashar berjamaah dan doa khataman, langsung berlanjut dengan pembacaan tahlil.

Haul sebagai Peneguhan Warisan Keilmuan

Puncak haul digelar pada malam hari. Acara diawali dengan penampilan hadroh, diikuti pembukaan oleh pembawa acara, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta rangkaian tawassul dan tahlil. Dalam sambutannya, Khadim Ma’had KH. Zia Ul Haramein, Lc., M.Si., menekankan pentingnya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan yang telah dirintis oleh sang founding father Darus-Sunnah.

Sesi Mau’izhoh Hasanah menghadirkan nuansa reflektif saat Prof. Dr. KH. Said Agil Husin Al-Munawwar, MA., menyampaikan pesan-pesannya. Ia mengajak hadirin untuk memaknai haul bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebagai momentum membaca kembali warisan seorang ulama melalui amal jariyah, ilmu yang ia ajarkan, sedekah yang ia berikan, serta doa yang terus mengalir dari generasi penerus.

Hakikat Kematian dan Kesadaran Spiritual

Dalam ceramahnya, Menteri Agama Republik Indonesia era Kabinet Gotong Royong ini juga menyinggung hakikat kematian sebagai misteri yang sepenuhnya berada dalam kuasa Tuhan.Ia mengilustrasikan hal itu melalui fenomena mati suri untuk menegaskan bahwa nalar manusia tidak sepenuhnya mampu menjangkau batas antara hidup dan mati. Karena itu, menurutnya, manusia perlu menjalani kehidupan dunia dengan kesadaran akan keterbatasan sekaligus kesiapan menuju akhirat.

Ia juga menegaskan bahwa amalan orang yang masih hidup dapat memberi manfaat bagi yang telah wafat. Mengutip pandangan ulama klasik, ia menyebut bahwa bacaan Al-Qur’an, zikir, dan doa yang dipanjatkan dalam haul merupakan bentuk ikhtiar spiritual yang memiliki dasar kuat dalam tradisi keilmuan Islam.

Jejak Ulama Penjaga Sunnah

Lebih jauh, alumni Universitas Islam Madinah yang juga menjabat sebagai Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengaitkan sosok almarhum dengan figur ulama penjaga sunnah. Ia mencontohkan Imam Ahmad bin Hanbal sebagai representasi Khadimul Sunnah, dan menempatkan KH. Ali Mustafa Yaqub dalam garis tradisi yang sama, seorang ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga otoritas hadis.

Dalam bagian lain ceramahnya, ia mengingatkan pentingnya menjaga semangat belajar. “Seseorang tetap menjadi alim selama ia terus belajar,” pesannya. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga akses terhadap manuskrip klasik sebagai bagian dari warisan intelektual umat yang tidak boleh terputus.

Menutup tausiyahnya, ia berpesan agar para santri dan alumni tidak pelit berbagi ilmu. Menurutnya, pengetahuan hanya bermakna ketika seseorang menyebarkan dan mengajarkannya. Di situlah letak kesinambungan amal jariyah seorang pencari ilmu.

Semoga jejak hidup Allâhu yarham Ali Mustafa Yaqub senantiasa menginspirasi kita untuk meneladani dan melanjutkan pengabdiannya sebagai pelayan sunnah Nabi, sebagaimana tema haul kali ini. Al-Fâtihah.

Bagikan: