‹ Kembali ke Beranda
Opini · Tokoh

Teologi Negatif Ibn Arabi: Dia Sekaligus Bukan Dia

Oleh Muhammad Hikam·27 Januari 2026·63
Teologi Negatif Ibn Arabi: Dia Sekaligus Bukan Dia

Majalahnabawi.com“Tuhan selalu menarik diperbincangkan. Hampir tak ada wacana yang begitu intens dibicarakan dari waktu ke waktu selain wacana tentang Tuhan.” Demikianlah pernyataan yang mendasari suatu perbicangan dan perdebatan yang tidak ada habisnya dari masa ke masa bahkan sampai sekarang. Sebagai pelajar atau mahasiswa, misalnya, terutama mereka yang sering duduk melingkar, tidak mungkin mendiskusikan sesuatu – filsafat misalnya –tanpa bicara tentang “Ada” (dalam konteks ini; Tuhan) yang menjadi kajian menarik. Jika demikian, dalam kajian agama, seseorang tidak mungkin mendiskusikan agama tanpa berbicara tentang “Teologi” yang menjadi sebuah paham keagamaan tersebut.

Sebegitu sering dan umumnya mereka berdialektika mendiskusikan hal ini. Untuk mencari jawaban hingga tak terhingga, dan bersikokoh berkutat pada pembahasan yang tidak ada titik rasionalnya secara mutlak, kecuali memahaminya sesuai kadar iman (melalui wahyu) seseorang.

Kodrat Religius Manusia dan Pencarian Akan Yang Absolut

Sebagian orang menyebut bahwa pada kodratnya manusia adalah homo religiosus, makhluk yang memiliki naluri religius. Di antara pengamat yang mengutarakan pendapat itu adalah Karen Armstrong. Dalam A History of God, penulis kontemporer ini menulis bahwa ada alasan kuat untuk mempercayai kodrat manusia.

Teologi adalah upaya akal untuk memahami Tuhan, namun upaya ini selalu terperangkap dalam keterbatasan bahasa dan kategori-kategori dualitas. Logika diskursif, yang beroperasi melalui definisi dan diferensiasi, secara inheren tidak mampu menjangkau Realitas Yang Absolut dan Tak Terhingga (al-Ḥaqq). Ibnu ‘Arabi mengatasi dilema epistemologis ini melalui “Teologi Negatif” yang ketat, atau Tanzīh al-Muṭlaq (Transendensi Mutlak). Ia berargumen bahwa jika kita mengatakan Tuhan adalah “Sesuata” kita membatasi-Nya. Jika kita mengatakan Dia memiliki atribut, kita menyamakan-Nya dengan makhluk yang juga memiliki atribut. Paradoks ini menempatkan akal pada titik buntu, di mana setiap proposisi positif tentang Tuhan harus segera dinegasikan.

Tanzih Absolut dan Penjagaan Kesucian Dzat Ilahi

Dalam konteks ini, logika teologi negatif – transendensi (tanzih) – Ibnu Arabi memiliki peran untuk memahami paradoks tersebut dengan cara menegasikan bahwa Allah sepenuhnya transenden. Artinya Dia tidak menyerupai apapun di alam ciptaan seperti yang firman Allah dalam QS. Asy-Syura: 11

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ

Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”.

Dzat Allah bersifat mutlak, tak terbatas, dan berada di luar kemampuan akal manusia untuk sepenuhnya memahaminya. Sehingga pendekatan ini mencegah pemahaman yang salah seperti menggambarkan Allah dengan bentuk manusia (antropomorfisme). Sambil tetap membuka pintu bagi tashbih (imanensi) yaitu pengakuan keserupaan sifat-Nya seperti mendengar atau melihat yang muncul sebagai pancaran nama dan sifat-Nya di dunia nyata.

Teologi negatif (tanzih) – yang menegaskan aspek negativa; (La Huwa) bukan Dia – tidak berdiri sendiri atau terlindungi, melainkan menyatu erat dengan teologi positif tashbih – yang menegaskan aspek positif; (Huwa) Dia – melalui peran khayal (imajinasi spiritual), yang bertindak seperti jembatan untuk menggabungkan keduanya menjadi pemahaman utuh tentang hakikat ilahi (haqiqah muhammadiyyah) tanpa memisahkan satu sama lain. Bayangkan seperti dua sisi mata uang: tanzih menjaga Allah tetap suci dan jauh dari keterbatasan makhluk, sementara tashbih mendekatkan-Nya melalui tanda-tanda di alam semesta; Imajinasi ini memungkinkan seseorang melihat kesatuan wujud (wahdat al-wujud) di mana tajalli (manifestasi) atau penampakan diri Allah menyinari ciptaan tanpa membatasi keagungan-Nya.

Dalam dinamika ini, tanzih (transendensi) dan tashbih (imanensi) saling melengkapi seperti dua sisi koin yang tak terpisahkan (mirip yin – yang dalam filsafat ontologis), di mana tanzih (transendensi) menegaskan keagungan dan ketinggian mutlak Allah yang melampaui segala ciptaan, sementara tashbih (imanensi) memungkinkan kehadiran-Nya yang dekat melalui rahmah (kasih sayang) dan ayat kauniyyah (tanda-tanda alam semesta), sehingga mendorong fana’ spiritual seseorang melebur dalam Allah tanpa pernah meninggalkan tauhid dasar.

Kontroversin Wahdat al-Wujud dan Kritik Rasional

Pendekatan Ibnu Arabi yang seolah-olah “menembus” logika non-kontradiksi ini sangat adaptif karena fleksibel dan bisa kita terapkan dalam pengalaman spiritual sehari-hari, tetapi juga kontroversial karena menimbulkan hal yang panas. Bagi kritik seperti Ibnu Taimiyyah, konsep ini mirip panteisme yaitu pandangan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan yang melanggar hukum dasar logika bahwa sesuatu tidak bisa A dan bukan A sekaligus, sehingga dianggap membingungkan tauhid murni dan membuka pintu kesalahan pemahaman.

Dalam konsep wahdat al-wujud yang Ibnu Arabi kembangkan, tauhid tidak hanya ia pahami sebagai pengakuan keberadaan satu Tuhan, tetapi juga sebagai landasan kesatuan ontologis yang menyatukan dua aspek penting: tanzih dan tashbih. Tanzih Merujuk pada kemurnian dzat Allah yang mutlak suci, tidak terjangkau oleh batasan duniawi dan tidak menyerupai makhluk apapun. Sementara tashbih adalah manifestasi atau penampakan sifat-sifat Allah dalam ciptaan-Nya yang memungkinkan manusia merasakan kehadiran-Nya secara nyata melalui tanda-tanda dan rahmat.

Konsep fundamental (Huwa La Huwa) ini, menjadi mekanisme inti dalam metafisika Ibnu Arabi untuk menjembatani dzat ilahi (Al-Dzat) yang mutlak suci dengan alam semesta (Al-Khalq). Di mana Huwa (Dia) menegaskan tashbih atau kehadiran-Nya melalui manifestasi sifat di ciptaan. Sementara La Huwa (bukan Dia) menjaga tanzih agar zat-Nya tak sedikitpun menyerupai makhluk.

Dalam wahdat al-wujud, rumusan ini menciptakan kesatuan ontologis: (Al-Dhat) sebagai sumber hakiki yang tak tertandingi (sir al-asrar) bersemayam di puncak rahasia. Namun menampakkan diri via tajalli di (Al-Khalq), sehingga segala yang ada adalah “Dia sekaligus bukan Dia” tanpa pantheisme hanya pancaran, bukan dzat itu sendiri.

Mekanisme ini menyelesaikan ketegangan teologi: mutakallimin cenderung tanzih absolut (Tuhan jauh). Seorang sufi cenderung tashbih intim (Tuhan hadir), sementara Ibnu Arabi menyatukannya sebagai tauhid holistik yang suprarasional. Relevan bagi ma’rifah mistik di mana pun sufi memandang, hanya melihat Allah dalam segala bentuk.

Akal Hati dan Jalan Menuju Ma’rifah

Dalam perspektif Ibnu Arabi ini, akal adalah pelita yang cahayanya terbatas. Ia bisa menerangi jalan di depan kaki, namun tak mampu menyingkap kegelapan samudra misteri Ilahi yang tak bertepi. Batasan akal menuju Yang Absolut bukanlah sebuah cacat, melainkan fitrah penciptaannya sebagai pengikat.

Untuk menyentuh Yang Absolut, manusia harus berani melepaskan “ikatan” logika diskursif dan beralih pada “penglihatan” hati. Pengetahuan sejati tentang Tuhan bukanlah hasil dari memikirkan Tuhan (yang hanya menghasilkan berhala mental). Akan tetapi hasil dari menyaksikan Tuhan melalui wadah hati yang bening, yang siap menerima limpahan cahaya-Nya dalam bentuk apa pun Ia berkehendak hadir.

Sumber

  • Al-Fayyadl, Teologi negatif Ibn ’Arabi (Yogyakarta: LKiS, 2012), hlm. 1.
  • Karen Armstrong, A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Chrstianity and Islam (New York: Ballantine, 1993), hlm. xix.
  • Ibnu Arabi. Al-Futuhat al-Makkiyyah. Dar al-Fikr, Kairo, 1999. (Vol. 1-4)
  • Ibnu Arabi. Fusus al-Hikam. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 2002.
  • Noer, Muhammad. “Model Penelitian Buku Ibnu al-‘Arabi Wahdat al-Wujud.” Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial, vol. 19, tidak. 2, UIN Walisongo Semarang, 2013, jurnal.walisongo.ac.id/index.php/wahana/article/download/2074/1503.
Bagikan: