Ujian sebagai Sarana Pembentukan Karakter Muslim

Majalahnabawi.com – Hidup manusia tidak pernah lepas dari ujian, baik yang berupa kesusahan maupun kesenangan. Dalam Islam, hal-hal indah seperti kekayaan dan jabatan pun sebenarnya adalah ujian. Jadi, ujian bukanlah hukuman, melainkan cara Allah Swt. untuk mendidik dan membentuk karakter kita. Melalui ujian ini, seorang Muslim belajar menjadi pribadi yang sabar, bersyukur, dan semakin dekat dengan Allah
Makna Ujian Kesulitan dalam QS.Al-Baqarah ayat 155
Allah Swt. Berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥
Artinya: Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar
Syekh Nawawi al-Bantani menafsirkan ayat tersebut dalam kitab Marah Labid yakni:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ﴾ أَيْ وَاللَّهِ لَنُصِيبَنَّكُمْ إِصَابَةَ مَنْ يَخْتَبِرُ أَحْوَالَكُمْ، أَتَصْبِرُونَ عَلَى الْبَلَاءِ وَتَسْتَسْلِمُونَ لِلْقَضَاءِ أَمْ لَا؟﴿
Artinya: Demi Allah, sungguh Kami akan menguji kalian sebagaimana ujian seseorang yang ingin mengetahui keadaan kalian, apakah kalian bersabar atas cobaan dan menerima ketentuan Allah atau tidak
Berdasarkan penafsiran Syekh Nawawi al-Bantani, ujian adalah cara Allah untuk melihat kualitas iman hamba-Nya melalui sikap sabar dan rida atas takdir. Lewat berbagai kesulitan, Allah melatih setiap orang Islam untuk tangguh, tidak mudah putus asa, dan selalu berserah diri. Jadi, ujian bukan sekadar cobaan hidup, melainkan proses pembentukan karakter yang menumbuhkan sikap sabar, tawakal, dan keteguhan hati.
Dua Dimensi Ujian (Al-Syar dan Al-Khair) dalam QS. Al-Anbiya Ayat 35
Syekh Nawawi al-Bantani juga memberikan penegasan yang lebih luas mengenai hakikat dimensi ujian ini saat menafsirkan QS. Al-Anbiya ayat 35 dalam kitab yang sama:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ، أَيْ ذَائِقَةُ مَرَارَةِ مُفَارَقَتِهَا جَسَدَهَا فِي الدُّنْيَا، وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً، أَيْ نُعَامِلُكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ مُعَامَلَةَ الْمُخْتَبِرِ اخْتِبَارًا، لِنَنْظُرَ أَتَصْبِرُونَ عِنْدَ الشَّرِّ، وَتَشْكُرُونَ عِنْدَ الْخَيْرِ، أَمْ لَا؟ فَالشَّرُّ: هُوَ الْمَضَارُّ الدُّنْيَوِيَّةُ مِنَ الْفَقْرِ وَالْآلَامِ، وَسَائِرِ الشَّدَائِدِ النَّازِلَةِ عَلَى الْمُكَلَّفِينَ، وَالْخَيْرُ: هُوَ نِعَمُ الدُّنْيَا مِنَ الصِّحَّةِ وَاللَّذَّةِ وَالسُّرُورِ، وَالتَّمْكِينِ مِنَ الْمُرَادَاتِ. وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (٣٥)
Artinya: Setiap yang bernyawa pasti akan mati, yaitu merasakan pahitnya perpisahan ruh dari jasadnya di dunia. ‘Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan’, artinya Kami memperlakukan kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagaimana layaknya penguji yang menguji, untuk melihat apakah kalian bersabar saat keburukan menimpa dan bersyukur saat mendapat kebaikan, atau tidak? Maka ‘Al-Syar’ (keburukan) itu adalah hal-hal yang membahayakan duniawi seperti kemiskinan, rasa sakit, dan segala kesulitan yang turun kepada mukalaf. Sedangkan ‘Al-Khair’ (kebaikan) adalah nikmat dunia berupa kesehatan, kelezatan, kesenangan, dan kemampuan meraih apa sesuatu yang menjadi keinginannya. ‘Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan’, artinya kepada hukum Kamilah kamu kembali setelah mati, lalu Kami membalas amal-amalmu.
Melalui penjelasan tersebut, Syekh Nawawi menegaskan bahwa karakter Muslim tidak hanya terbentuk melalui kesusahan (Al-Syar), melainkan juga melalui kesenangan (Al-Khair). Jika kesusahan menuntut karakter yang sabar dan tangguh, maka ujian kesenangan menuntut karakter yang bersyukur dan mampu mengendalikan diri dari kesombongan. Kedua dimensi ini menjadi satu kesatuan proses pendidikan holistik yang membentuk pribadi Muslim yang seimbang.
Hadis Nabi tentang Karakter Ideal saat Mendapat Ujian
Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan (sarra’), ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan (dharra’), ia bersabar dan itu baik baginya. (HR. Muslim, No. 2999).
Hadis ini memperkuat konsep pembentukan karakter muslim yang ideal. Rasulullah saw. menegaskan bahwa baik atau tidaknya karakter seorang muslim bisa dilihat dari sikapnya saat menghadapi perputaran hidup. Ketika diberi ujian berupa kesenangan (sarra’), karakter yang muncul adalah syukur dan rendah hati. Sebaliknya, saat diberi ujian kesusahan (dharra’), karakter yang terbentuk adalah sabar dan tangguh. Melalui hadis ini, ujian menjadi latihan nyata yang mendidik seorang muslim agar tidak sombong saat di atas dan tidak putus asa saat di bawah.
Kesimpulannya, ujian dalam Islam baik berupa kesusahan maupun kesenangan adalah sarana nyata untuk membentuk karakter Muslim (character building). Kesusahan melatih karakter yang sabar, tangguh, dan tawakal, sedangkan kesenangan menguji karakter untuk tetap bersyukur, amanah, dan rendah hati. Lewat perputaran ujian inilah lahir pribadi Muslim yang seimbang dan berakhlak mulia