‹ Kembali ke Beranda
Adab · Hadis · Opini

5 Hal yang Harus Dihindari agar Hidup Indah – Part 2

Oleh Muhammad Herza Alzaim·27 Mei 2026·15
5 Hal yang Harus Dihindari agar Hidup Indah – Part 2

Majalahnabawi.com – Rasulullah Saw. memberikan banyak pedoman agar hidup seorang muslim penuh dengan kedamaian dan keindahan. Salah satu di antaranya ada hadis yang menjelaskan tentang pentingnya menjaga persaudaraan sesama muslim serta larangan menyakiti orang lain, baik dengan ucapan maupun tindakan.

Dalam hadis riwayat Imam Nawawi pada Arba’in An-Nawawiyyah, Rasulullah Saw. bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَهُنَا -وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِم حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ[1]

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu di sini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”

Hadis ini menjadi rambu-rambu yang sudah Rasulullah Saw. berikan. Sehingga jika seandainya ada amarah yang menguasai kita, kita langsung ingat bahwasaya ia (orang yang kita benci) adalah umat Nabi Muhammad Saw. Siapapun orangnya baik itu sahabat, suami, istri, atau atasan kita, kita sama-sama bersaudara sama-sama umat Nabi Muhammad Saw. Dan ingatlah seorang muslim itu bersaudara dengan muslim lainnya, maka sesama muslim tidak boleh saling bermusuhan.

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَبَدِهِ [2]

“Seorang muslim (yang sejati) adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.”

Merasa bersaudara ini penting, merasa bersaudara berdasarkan satu nabi yaitu Nabi Muhammad Saw. Bagaimana satu nabi kok masih saja bermusuhan. Kalau pun ada dendam ataupun permasalahn yang terjadi memang karena kita hidup dengan manusia bukan dengan malaikat, kalau malaikat ma’sum (terbebas dari dosa), sedangkan manusia punya hawa nafsu. Jadi yang namanya gesekan mungkin saja terjadi, namun ketika ada gesekan langsung ingat Nabi Muhammad Saw., maka kenapa harus mendendam.

1. Menzalimi

La yadzlimuhu” jangan menzalimnya. Kalau kamu zalim terhadap dia maka kamu menyakiti terhadap dirimu sendiri, kita harus merenungkan diri sendiri. Ilmu bukan sekedar di otak, ilmu itu harus kita rasakan, “aku bisa baik dengan dia tapi kenapa aku tidak bisa dengan yang lainnya”, dengan renungan seperti itu maka terbangun kesadaran akan menyadari almuslimu akhul muslim, la yadzlimuhu...”.

2. Mengkhianati atau Mengabaikan

La yakhdzuluhu, jangan mengabaikannya. Maka bagaimana kita bisa merendahkan/mengabaikan padahal dia mulia karena islam, dia mulia karena umat dari baginda nabi Muhammad Saw. Lalu bagaimana kita bisa merendahkanya, bahkan bisa jadi kita lebih rendah, karena merendahkan itu sifat yang rendah. Maka yang merendahkan orang lain akan langsung rendah, karena disaat dia merendahkan sejatinya dia mengambil sifat rendah, yaitu sombong,

ومن تكبر وضعه الله [3]

” Dan barangsiapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya.”

3. Membohongi

Wala yakdzibuhu”, jangan membohonginya. mungkin ada yang bertanya mengapa kita sering berbohong, permasalahnannya adalah ilmu hati kita putus, dan kita tidak menyadari saat itu, tapi jika kita merenungi sesaat kita akan sadar, mengapa saya berbohong dengan dia, bahkan jika kita cermati lebih dalam lagi saat kita tidak mengambil harta orang, saat kita tidak boleh berbohong pada orang, seolah-olah hanya melarang diri untuk tidak boleh hanya pada satu orang saja, padahal buahnya tidak begitu, sebetulnya kita itu hanya memberi pada satu orang saja, akan tetapi di balik ini ada kebaikan yaitu jutaan manusia dikiri kananmu juga tidak boleh bohong padamu.

4. Merendahkan

Wala yahqiruhu”, jangan meremehkan atau merendahkannya. Di era digital saat ini, fenomena ini sering kali berwujud perilaku social elitism atau aksi memandang sebelah mata orang lain hanya karena status finansial, pekerjaan, atau gaya hidup. Akar masalah dari perilaku ini sebenarnya adalah penyakit ego dan kesombongan .

Manifestasinya sangat nyata di sekitar kita: si kaya yang hobi pamer kemewahan (flexing) merendahkan orang yang hidup pas-pasan, atau oknum pejabat dan figur publik bercentang biru yang bersikap anti-kritik dan merendahkan aspirasi masyarakat jelata lewat sindiran sinis. Kesombongan struktural ini tidak hanya menjatuhkan harga diri orang lain, tetapi justru merendahkan martabat pelaku itu sendiri di mata publik.

Ingat, perilaku tercela seperti ini sama sekali bukan mencerminkan kepribadian seorang muslim yang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual. Seorang mukmin sejati tidak akan pernah mengukur nilai seseorang dari jumlah followers, merek pakaian, jabatan, atau isi dompetnya. Di tengah derasnya arus validasi media sosial, Baginda Nabi menghadirkan pesan yang sangat mendalam melalui hadis ini dan mendorong kita untuk segera melakukan introspeksi diri secara total.

Takwa Berasal dari Hati

Baginda Nabi Saw. menyebutkan bahwa takwa itu tempatnya ada di dalam hati sambil mengisyaratkan ke dadanya sebanyak tiga kali (wayusyiru ila shodrihii tsalaatsa marrotin). Isyarat ini menegaskan bahwa takwa harus berangkat dari hati. Namun dalam pengaplikasiannya, para ulama menjabarkan takwa bukan sekadar konsep melainkan condong pada amal nyata berupa hubungan baik kepada Allah dan sesama manusia. Segala bentuk interaksi sosial kita harus kita benahi dan bersumber dari ketakwaan hati ini. Maka dari itu, apabila seorang hamba tidak mampu bersikap baik, berlaku adil, dan menjaga perasaan sesamanya, ia menunjukkan bahwa esensi ketakwaan di dalam dirinya telah memudar.

Bihasabimriim minasysyarri ayyahqiro akhohul muslim”, cukuplah seseorang dianggap jelek jika ia merendahkan saudaranaya. Imam Muslim mengingatkan jangan sampai ada di antara kita merendahkan siapapun, apalagi orang bermaksiat, ketahuilah dia bermaksiat dia terpuruk, dan bisa jadi esok hari ia Allah Swt. mengampuninya, lalu Allah Swt. menguji kita dengan maksiat, naudzubillah, maka jangan merendahkana siapa pun, yang ada harusnya adalah memandang mereka dengan pandangan kasih sayang bukan pandangan merendahkan yang anda sertai dengan panjatan doa kebaikan.

5. Mengganggu Kehormatan, Harta, dan Jiwa Sesama Muslim

Kullul muslim alal muslim haroomun damuhu wamaaluhu wa ‘irdhuhu. Ingat kata Baginda Nabi Saw., seorang muslim dengan muslim lainnya adalah haram darahnya, haram hartanya, dan haram kehormatannya untuk diganggu. Di era digital saat ini, pelanggaran hadis ini bukan lagi sekadar soal fatwa ekstrem, melainkan fenomena gerakan boikot massal, penyebaran hoaks, dan aksi menguliti aib pribadi (doxxing) di media sosial.

Contoh nyatanya adalah ketika netizen dengan sengaja melakukan pembunuhan karakter dan merusak reputasi digital seorang Muslim di kolom komentar. Tindakan menghakimi secara brutal ini sama saja dengan menganggap halal untuk menghancurkan kehormatan (‘irdhuhu) sesama. Larangan haram darahnya pun berarti jangan sampai ketikan jemari kita yang beracun di media sosial memprovokasi massa dan menciptakan tekanan mental, hingga menjadi sebab korban depresi berat dan nekat mengakhiri hidupnya sendiri, karena memicu hilangnya nyawa lewat provokasi digital seperti itu sangat Allah haramkan.

Refleksi

Hadis ini menegaskan bahwa esensi takwa (at-taqwa hahuna) yang bersumber dari hati dan harus kita buktikan melalui amal nyata berupa penjagaan harmoni hubungan sesama manusia (hablum minannas). Baginda Nabi SAW melarang keras segala bentuk penyakit hati karena egoisme tersebut pasti melahirkan tindakan lahiriah (reaksi zohir) yang merusak keindahan persaudaraan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

Sebagai musmin sejati, kita harus terus mengintrospeksi diri secara total dan berkomitmen penuh untuk saling menghormati, tidak saling merugikan, serta mutlak menjaga keselamatan jiwa, hak milik, dan kehormatan sesama Muslim demi mewujudkan persaudaraan yang tulus karena Allah SWT.

Semoga Allah Swt. dapat menjaga kita dalam mengiringi perkembangan zaman ini. Dan semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan kita terutama yang kita lakukan melalui jari-jari kita di dalam berinteraksi sosial.

Wallahu a’lam bisshowab


[1] Imam An-nawawi, Arba’in An-nawawiyyah, Hadis ke-35 tentang persaudaraan muslim

[2] HR Bukhari dan Muslim

[3] HR. Imam Ibnu Mandah dan Imam Abu Nu’aim.

Bagikan: