‹ Kembali ke Beranda

5 Keutamaan Bulan Dzulhijjah untuk Kamu yang Belum Dipanggil Datang ke Rumah-Nya (Part 1)

Oleh Adil Isomudin·25 Mei 2026·17
5 Keutamaan Bulan Dzulhijjah untuk Kamu yang Belum Dipanggil Datang ke Rumah-Nya (Part 1)

Majalahnabawi.com – Ketika mendengar nama bulan Dzulhijjah, hati kaum muslimin biasanya langsung teringat kepada Ka’bah, tanah suci Makkah, ibadah haji, wukuf di Arafah, gema talbiyah, dan lautan manusia yang sedang memenuhi panggilan Allah sebagai tamu-Nya. Tidak sedikit dari kita yang mungkin memiliki kerinduan besar untuk bisa berdiri di depan Ka’bah, menangis di Multazam, atau bersujud di Masjidil Haram. Namun sampai hari ini, Allah mungkin belum memberikan kesempatan itu kepada kita.

Sebagian orang merasa sedih karena belum mampu berhaji, belum memiliki biaya, belum memiliki kesempatan, atau belum mendapatkan panggilan dari Allah untuk datang ke rumah-Nya. Akan tetapi, sesungguhnya kasih sayang Allah sangatlah luas. Kemuliaan bulan Dzulhijjah tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang sedang berhaji di tanah suci. Tetapi juga kepada seluruh kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Allah tetap membuka pintu pahala yang sangat besar bagi siapa saja yang ingin mendekat kepada-Nya di bulan ini. Bahkan Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa amal saleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan amal yang sangat dicintai oleh Allah Swt.

Oleh karena itu, walaupun kaki kita belum sampai ke Baitullah, jangan sampai hati kita jauh dari Allah. Walaupun kita belum menjadi tamu di rumah-Nya, kita tetap bisa menjadi hamba yang dicintai-Nya dengan memperbanyak amal saleh, zikir, doa, dan taubat di bulan yang mulia ini. Semoga apa yang akan disampaikan dapat menjadi pengingat bagi diri pribadi dan juga bagi kita semua agar semakin semangat memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan semakin dekat kepada Allah Swt.

1. Dzulhijjah adalah Hari Terbaik untuk Beramal Saleh

Keutamaan pertama dari bulan Dzulhijjah adalah bahwa sepuluh hari pertamanya merupakan hari-hari terbaik untuk memperbanyak amal saleh. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa hari-hari tersebut lebih utama dibanding hari-hari lain dalam setahun, karena di dalamnya berkumpul berbagai bentuk ibadah besar yang tidak terkumpul pada bulan lainnya. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw. menjelaskan pada sabdanya.

روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

“Diriwayatkan oleh al-Bukhari r.a., dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa Nabi Saw. bersabda: Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah? Beliau menjawab: Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun“.

Hadis ini menunjukkan betapa besarnya kedudukan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Sampai-sampai amal yang dilakukan pada hari-hari tersebut dapat mengungguli amalan besar seperti jihad, kecuali jihad yang benar-benar mengorbankan seluruh jiwa dan hartanya di jalan Allah. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari.

وَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ السَّبَبَ فِي امْتِيَازِ عَشْرِ ذِي الحِجَّةِ لِمَكَانِ اجْتِمَاعِ أُمَّهَاتِ العِبَادَةِ فِيهِ، وَهِيَ الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالحَجُّ، وَلَا يَتَأَتَّى ذَلِكَ فِي غَيْرِهِ

“Beliau menjelaskan bahwa sebab utama dimuliakannya sepuluh hari Dzulhijjah adalah karena terkumpulnya ibadah-ibadah utama di dalamnya. Pada hari-hari itu terdapat salat, puasa, sedekah, zikir, haji, kurban, membaca al-Qur’an. Semua bentuk ibadah utama seakan berkumpul dalam satu waktu yang penuh keberkahan.”

Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Banyak orang menyesal karena kehilangan kesempatan dunia, tetapi sedikit yang menyesal karena kehilangan kesempatan pahala di sisi Allah. Padahal boleh jadi satu amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas di bulan Dzulhijjah menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kita.

2. Dzulhijjah adalah Bulan Zikir dan Takbir

Keutamaan kedua dari bulan Dzulhijjah adalah bahwa bulan ini merupakan bulan zikir, bulan takbir, bulan pengagungan kepada Allah. Pada hari-hari pada bulan  mulia ini, kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak menyebut nama Allah dengan lisan dan hati mereka. Di antara amalan yang paling mudah dilakukan namun sangat besar pahalanya di bulan Dzulhijjah adalah memperbanyak Takbir (الله أكبر), Tahmid (الحمد لله), Tahlil (لا إله إلا الله) , Tasbih (سبحان الله). Allah Swt. berfirman;

لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَۖ ۝٢٨      

“(Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. al Hajj [22]: 28).

Para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas r.a. menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ini menunjukkan bahwa salah satu amalan utama pada hari-hari tersebut adalah memperbanyak zikir kepada Allah. Nabi Saw. juga bersabda dalam hadisnya.

وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

“Imam Ahmad r.a., meriwayatkan dari Umar r.a., bahwa Nabi Saw. bersabda: Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid“

Hadis ini menjadi dalil kuat bahwa Dzulhijjah adalah musim zikir. Bahkan para ulama mengatakan bahwa memperbanyak zikir di sepuluh hari pertama Dzulhijjah termasuk sunnah yang sering terlupakan oleh banyak kaum muslimin.

3. Di Dalamnya Ada Hari Arafah yang Penuh Ampunan

Keutamaan ketiga dari bulan Dzulhijjah adalah adanya hari Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Hari Arafah merupakan salah satu hari paling mulia dalam Islam. Hari yang dipenuhi dengan rahmat, ampunan, doa-doa yang dikabulkan, dan pembebasan dari api neraka. Bagi jamaah haji, hari Arafah adalah puncak ibadah haji. Rasulullah Saw. bahkan bersabda.

الحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu adalah Arafah.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Wukuf di Padang Arafah merupakan inti terbesar dalam ibadah haji. Pada hari itu jutaan manusia berkumpul memakai pakaian ihram yang sederhana, berdiri di bawah langit yang sama, memohon ampun kepada Allah dengan penuh kerendahan hati. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa. Semua berdiri sebagai hamba yang berharap rahmat dari Tuhan-nya.

Namun luar biasanya, kemuliaan hari Arafah tidak hanya dirasakan oleh orang-orang yang sedang berhaji di tanah suci. Allah juga membuka pintu pahala yang sangat besar bagi kaum muslimin yang berada di seluruh dunia. Nabi Saw. juga bersabda.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

“Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka daripada hari Arafah.” (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan betapa agungnya hari Arafah. Pada hari itu Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya. Banyak dosa diampuni, banyak doa dikabulkan, dan banyak hamba diselamatkan dari api neraka. Karena itu para ulama menyebut hari Arafah sebagai hari penghambaan, hari taubat, dan hari kembali kepada Allah.

Salah satu amalan terbesar bagi orang yang tidak berhaji pada hari Arafah adalah berpuasa. Puasa Arafah memiliki keutamaan yang sangat luar biasa. Rasulullah Saw. bersabda.

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qatadah)

Bayangkan, hanya dengan satu hari puasa, Allah memberikan pahala berupa penghapusan dosa selama dua tahun. Satu tahun yang telah lewat dan satu tahun yang akan datang. Ini menunjukkan betapa luas kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Tentu yang dimaksud dalam hadis ini adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap membutuhkan taubat yang sungguh-sungguh. Namun tetap saja, ini adalah keutamaan yang sangat besar dan tidak boleh disia-siakan.

Imam al-Nawawi r.a. menjelaskan bahwa puasa Arafah termasuk puasa sunnah yang paling utama bagi orang yang tidak sedang berhaji. Karena itu, walaupun kita belum mampu berdiri di Padang Arafah bersama jutaan jamaah haji, kita tetap bisa meraih kemuliaan hari tersebut dari tempat kita berada dengan berpuasa, memperbanyak doa, berzikir, membaca al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak istighfar.

Bagikan: