Ambang Batas Antara Dakwah dan Viralitas

Majalahnabawi.com – Dalam satu bulan ke depan, kaum muslim akan berlomba-lomba dalam beribadah di bulan yang suci ini. Karena pada bulan Ramadan, amal baik akan terbalas dengan balasan yang berlipat ganda. Maka tak heran apabila orang-orang yang sebelumnya mungkin hanya bisa khatam satu juz dalam satu bulan, di bulan ini akan menjadi satu Al-Qur’an dalam sebulan. Bahkan khatamnya bisa lebih dari sekali karena semangatnya dalam beribadah di bulan Ramadan.
Selain ibadah individu, ibadah sosial akan lebih banyak dan masif lagi dari sebelumnya. Salah satunya adalah berdakwah. Tidak hanya dakwah melalui masjid, akan tetapi lewat gawai. Konten-konten dakwah juga akan lebih banyak lagi kita jumpai dalam bulan Ramadan. Akan tetapi yang perlu kita ingat adalah unsur terpenting dalam beribadah yaitu niat. Nilai dan feedback ibadah seseorang bisa kita tinjau dari apa yang ia niatkan. Walaupun ia melakukan kebaikan bagi orang lain sehingga dampak positifnya terasa, akan tetapi dia belum mendapatkan pahala karena niatnya.
Memangnya Niat Itu Penting?
Mungkin sebagian orang ada yang masih beranggapan bahwa amal itu asalkan baik, maka balasannya pun akan kembali dalam hal-hal baik. Tanpa adanya maksud atau niat yang murni, sombong dan jemawa akan menguasai diri orang tersebut. Maka dari itu, niat lah yang menjadi pembeda di mata Allah. Pandangan manusia menilai itu merupakan sebuah kebaikan, akan tetapi niat angkuh dan sombong lah yang menjadi pembeda di hadapan Allah.
Niat Menentukan Nilai Ibadah
Seperti manusia yang memiliki jantung, sebuah amalan atau ibadah bisa tidak sah karena niat yang salah. Masalah kena terima atau tidaknya memang sudah menjadi kehendak Allah. Akan tetapi kita sebagai hamba-Nya, mengusahakan kemurnian perbuatan kita dengan wujud niat sebagai salah satu syarat dalam beribadah. Nabi Muhammad Saw. bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Amal itu tergantung niatnya, dan balasan dari amal tersebut tergantung dari apa yang kita niatkan”.
Gambaran paling sederhana dari niat adalah keikhlasan dari seorang hamba dalam melakukan sebuah ibadah dengan maksud semata-mata karena Allah. Imam Ibn Hajar al-‘Asqolani dalam Fathu al-Bari mengatakan:
ولأن النية ترجع إلى الإخلاص وهو واحد للواحد الذي لا شريك له
“Niat itu dapat terlihat sebagai keikhlasan hanya karena Tuhan Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.”
Selain hal tersebut, adanya kitab al-Ikhlas wa an-Niat karya Ibn Abi ad-Dunya yang berisi hadis-hadis tentang keikhlasan merupakan bukti bahwa niat dan ikhlas dalam beramal merupakan hal yang sangat penting.
Dakwah di Media Sosial
Semakin berkembangnya zaman, maka semakin berkembang pula media-media komunikasi dan publikasi. Dengan adanya perkembangan media komunikasi, orang-orang jadi semakin mudah dalam menunggah sesuatu ke dalam media sosialnya.
Dakwah menjadi salah satu yang menjadi tema favorit dalam unggahan di media sosial, baik itu berdakwah secara langsung di depan kamera, ataupun hanya menyebarkan unggahan dakwah dari ustaz di media sosial. Terutama di kalangan santri dan mahasantri, karena mereka juga memiliki ilmu yang dipelajari di pesantren, maka apa salahnya jika ilmu tersebut dibagikan dan mereka mengajak para pemirsa untuk mengamalkan hal tersebut.
Fondasi Dakwah Ikhlas karena Allah
Akan tetapi, terkadang jumlah views, like, share, dan comment masih diintip-intip dan berharap bahwa dengan adanya konten dakwah yang mungkin menjadi salah satu konten algoritma, akun pengunggah bisa mendapat exposure yang besar juga. Kendati demikian, dakwah memang bertujuan agar sampai ke banyak orang akan tetapi yang merusak itu semua adalah rasa ingin viral dan populer di mata manusia.
Sebagai contoh, dalam kitab Manhaju as-Shahabah fi Da’wati al-Musyrikin min Ghori Ahli al-Kitab dijelaskan bahwa para sahabat Nabi Muhammad Saw. saja menjadikan niat Ikhlas karena Allah sebagai pondasi utama dalam berdakwah:
وبهذا نجد أن الإخلاص وبذل الجهد في الدعوة هو ضابط من ضوابط منهج الصحابة في دعوتهم بحيث يقف به الداعي عند حدود الشرع، وبه يكون العمل متقناً محفوظاً من الانحراف والشرك ومتقبلاً عند الله سبحانه الذي هو من يعلم السر، وما تخفي الصدور، فعن أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: (إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصاً وابتغي به وجهه.)
“Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa keikhlasan dan kesungguhan dalam berdakwah merupakan salah satu prinsip pokok dalam metode dakwah para sahabat, yang membuat seorang da‘i tetap berada dalam batas-batas syariat. Dengan keduanya, amal dakwah menjadi benar, terjaga dari penyimpangan dan syirik, serta diterima di sisi Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia dan apa yang disembunyikan dalam hati. Dari Abu Umamah al‑Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:‘Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan hanya mengharapkan wajah‑Nya.’”
Walaupun secara eksplisit teks ini menjelaskan konteks dakwah kepada kaum musyrik, akan tetapi substansi dari dakwah kepada ajaran agama Islam tidak hilang sama sekali. Sahabat yang dekat dengan Nabi saja mempunyai standar yang sangat tinggi, apalagi kita yang kemuliaan jauh di bawah mereka.
Keseimbangan Niat dan Hasil
Niat murni karena Allah dalam berdakwah harus dipegang teguh oleh kita semua dalam melakukan ibadah-ibadah dan amalan. Masalah hasilnya bagaimana atau apakah konten dakwah tersebut bisa didengar banyak orang atau tidak, itu urusan belakangan. Niat ikhlas karena Allah dalam berdakwah kepada ajaran-Nya saja sudah menjadi pahala, insyaallah.
Wallahu A’lam