Di Balik Ambisi dan Prestasi: Mengapa Kita Tetap Tidak Bahagia?

Majalahnabawi.com – Di tengah kehidupan modern yang serba kompetitif, ambisi dan prestasi sering dipandang sebagai ukuran utama keberhasilan seseorang. Banyak orang menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengejar pendidikan tinggi, karier yang mapan, kekayaan, serta pengakuan sosial.
Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa semakin banyak pencapaian, semakin besar pula memperoleh kebahagiaan. Namun kenyataannya, banyak individu yang telah mencapai berbagai target hidup justru tetap merasa hampa, gelisah, dan tidak puas. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan lahiriah tidak selalu sejalan dengan ketenangan batin.
Dunia sebagai Kesenangan yang Bersifat Sementara
Dalam perspektif tasawuf, kondisi tersebut terjadi karena manusia sering mencari kebahagiaan pada sesuatu yang bersifat sementara. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu. Allah Swt. berfirman:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…” (QS. Al-Hadid [57]: 20).
Ayat ini tidak melarang manusia untuk bekerja keras atau berprestasi, tetapi mengingatkan agar dunia tidak menjadi tujuan utama kehidupan. Ketika kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada pencapaian duniawi, seseorang akan terus merasa kurang karena selalu ada target baru yang ingin ia raih.
Pandangan Imam al-Ghazali tentang Hati dan Hakikat Kebahagiaan
Menurut Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, Allah menciptakan hati manusia untuk mengenal dan mendekat kepada Allah. Karena itu, hati tidak akan memperoleh ketenangan yang sempurna apabila hanya sibuk dengan urusan dunia.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa kecintaan berlebihan terhadap dunia merupakan salah satu sumber kegelisahan jiwa, sebab dunia bersifat fana dan tidak dapat memberikan kepuasan yang abadi. Ketika seseorang kehilangan jabatan, harta, atau popularitas yang selama ini menjadi sandarannya, ia akan mudah mengalami kekecewaan dan kehampaan.
Tasawuf menghadirkan konsep zuhud sebagai jalan untuk membebaskan diri dari keterikatan berlebihan terhadap dunia. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan harta atau menolak kehidupan dunia, melainkan mengosongkan hati dari ketergantungan terhadapnya. Seseorang dapat tetap bekerja, berbisnis, atau berprestasi, tetapi ia tidak menjadikan semua itu sebagai sumber utama kebahagiaannya.
Pandangan serupa juga dengan perkataan sufi besar, Hasan al-Bashri. Ia berkata:
إِنَّ الدُّنْيَا دَارُ مَمَرٍّ وَلَيْسَتْ بِدَارِ مَقَرٍّ
“Dunia adalah negeri persinggahan, bukan negeri tempat tinggal.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia seharusnya dipandang sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan tujuan akhir yang harus dikejar tanpa batas.
Dengan demikian, tasawuf tidak menolak ambisi maupun prestasi. Yang dikritik adalah ketika keduanya dijadikan tujuan hidup yang utama. Menurut para sufi, kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya pencapaian yang berhasil diraih, melainkan pada kemampuan menjaga hati agar tetap dekat dengan Allah, bersyukur atas apa yang dimiliki, dan tidak terikat secara berlebihan pada dunia yang fana. Dalam kehidupan yang semakin kompetitif saat ini, pesan tasawuf tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan yang sesungguhnya adalah keberhasilan menenangkan hati di tengah berbagai pencapaian duniawi.