Fenomena Anxiety dan Solusinya menurut Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Majalahnabawi-Perkembangan teknologi dan informasi mengalami peningkatan secara masif. Sebagaimana pandangan Alfianto, perkembangan tersebut memberikan kemudahan dalam akses informasi serta penyebarannya ke berbagai perangkat digital. Dengan hadirnya perangkat digital, masyarakat terkoneksi secara langsung dalam satu sentuhan jari tanpa adanya batas ruang dan waktu untuk menerima beraneka ragam informasi. Tidak mengherankan jika masyarakat di dunia saat ini melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan perangkat digital.
Diakui maupun tidak, masifitas informasi dan akses instan yang ditawarkan perangkat digital memiliki nilai positif dalam aktivitas kehidupan masyarakat dunia saat ini. Namun, meskipun memiliki dampak positif terhadap akses informasi dampak negatifnya pun turut tidak dapat dipandang sebelah mata. Terutama jika penggunaan perangkat digital yang dilakukan secara konsumtif dapat berdampak terhadap mental seseorang. Hal ini disebut sebagai tekanan digital. Tekanan digital ini berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka. Mereka begitu mudah mengonsumsi informasi tanpa selektifitas dan bijak dalam menyikapi penyebarannya.
Dampak Negatif Perangkat Digital
Jika dampak negatif perangkat digital terhadap mental tidak segera dilakukan diagnosa, maka akan bermunculan penyakit mental yang lahir dari penggunaan konsumtif digital tersebut. Salah satu yang familiar adalah anxiety atau yang kita kenal sebagai kecemasan. Mengutip dari penelitian Aditya Dedy Nugraha, kecemasan adalah reaksi emosi takut yang membuat tidak nyaman sehingga bermanifestasi terhadap perilaku individu tersebut baik karena faktor internal maupun eksternal.
Kedua pengaruh tersebut, salah satunya disebabkan oleh tekanan digital yang disertai dengan perilaku konsumtif dalam penggunaan perangkat digital. Sehingga berdampak terhadap reaksi emosi seseorang karena banjir informasi yang bermunculan di layar digital. Dalam kata lain, semakin konsumtif penggunaan perangkat digital, maka dampak yang diberikan akibat tekanan digital pun semakin besar.
Banyak penelitian yang membahas dampak serta solusi kecemasan dengan harapan dapat menjalani kehidupan dengan ketenangan, kenyamanan dan ketentraman. Salah satunya adalah Islam. Islam tidak hanya merupakan agama yang mengajarkan ritual ibadah, tapi ia merupakan panduan cara hidup seseorang, hal ini sebagaimana perkataan M. Natsir saat mengutip pandangan sejarawan H.A.R Gibb, “Islam itu sesungguhnja lebih dari satu sistem agama sadja, dia itu adalah satu kebudajaan jang lengkap”. Begitu juga Allah menegaskan dalam firman-Nya pada surat Al-Mā’idah ayat 3 yang artinya, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”
Anxiety menurut Islam
Karena Islam merupakan panduan hidup alias Way Of Life, maka tidak heran jika terdapat solusi dalam mengobati kecemasan dalam kacamata agama ini. Salah satu yang paling terkenal adalah pendapat Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang merupakan ulama terkemuka dari mazhab Hanbali. Ia menuturkan untuk mencari dan mendapatkan ketenangan hati dan batin dari berbagai kecemasan yang sedang menimpanya adalah dengan memperbanyak Zikir.
Solusi Mengatasi Anxiety dalam Pandangan Islam
Zikir dapat diibaratkan bagaikan ruh yang bertugas menggerakkan seluruh anggota badan. Ia merupakan energi dan amunisi dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari baik bentuk ibadah ritual maupun sosial. Begitu pun Ibnu Qayyim menerangkan bahwa zikir adalah obat hati yang dapat memberikan ketenangan yang telah Allah jamin dalam salah satu firman-Nya:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Qs. Al-Ra’d : 28)
Zikir
Ketenangan hati dengan zikir tentunya kita lakukan untuk mengingat Allah SWT. Nabi Muhammad saw. sebagai suri teladan dalam berkehidupan telah memberikan contoh yang mulia tentang cara berzikir kepada Allah. Ibnu Qayyim membaginya kepada tiga bentuk zikir Rasulullah Saw yaitu: Pertama, as-Sana’u (menyanjung) yaitu bentuk zikir berupa sanjungan kepada Allah atas kemahasucian-Nya, kebesaran-Nya, keagungan-Nya dan berbagai sifat yang melekat pada-Nya. Salah satu zikirnya adalah: Subhānallah Wal-Hamdulillāh Wallahu Akbar, Subhanallāh Wa Biḥamdih dan bentuk kalimat zikir lain yang rutin beliau bacakan.
Berdoa
Kedua, ad-Du’a (Berdoa) merupakan zikir yang termasuk kepada sumsumnya ibadah. Karena tidak ada ibadah yang lepas dari meminta, memohon dan memunajatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah Saw sering berdoa yang bersumber di dalam Al-Qur’an seperti doa:
ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi” (Qs. Al-A’rāf: 23)
Terkadang beliau mengajarkan doa yang bersumber dari hadis-hadis Nabi Muhammad saw, salah satunya: “Ya Ḥayyu Yā Qayyūm Bi Raḥmatika Astagīṡ”.
Menjaga Diri
Bentuk doa Rasulullah saw yang ketiga adalah ar-Ri’āyah (menjaga diri). Ar-Ri’āyah adalah bentuk zikir dengan menyadari dan meyakini bahwa Allah SWT selalu bersama kita, melihat kita, menyaksikan kita dan bentuk keyakinan lainnya. Fungsi zikir ar-Ri’āyah ini untuk menanamkan kesadaran pada hati kita untuk menjaga hati, perilaku, dan sikap dari berbagai perkara yang Allah benci dan sebagai benteng untuk menjaga hawa nafsu dan bisikan setan.
Ketiga bentuk zikir yang disebutkan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah ini jika kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, maka dapat menghadirkan ketenangan. Tidak akan peduli terhadap masa lalu yang membuatnya sedih dan masa depan yang membuatnya gelisah. Karena dengan zikir kepada Allah, ia percaya bahwa Allah bersamanya dan senantiasa menolong dan membantu setiap urusannya serta memberikan ketenangan hidup kepada setiap hamba yang mengingat-Nya.
Wallahu A’lam.