Ketika Malu Membunuh Rasa Tahu: Menghidupkan Kembali Adab dan Ghirah Bertanya Pemuda

Majalahnabawi.com – Dewasa ini, kita sering menyaksikan pemuda-pemuda yang kehilangan gairah untuk bertanya. Tidak ada manusia yang sifat dasarnya kosong akan rasa penasaran, karena manusia secara fitrah memang diciptakan dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Sewaktu kecil, kita selalu diselimuti oleh rasa penasaran terhadap apa yang kita lihat, kita dengar, dan apa yang kita rasakan. Dan ketika penasaran akan sesuatu, kepolosan jiwa masa kecil kita tak punya beban malu untuk bertanya dan ketakutan atas penilaian orang lain. Sifat penasaran inilah yang secara lahiriah terdapat di setiap jiwa manusia.
Penyebab Berkurangnya Gairah untuk Bertanya
Sayangnya, kita saksikan banyak sekali anak-anak yang beranjak dewasa mulai malu bertanya dan menutup rasa penasarannya dengan diam. Contohnya, ketika mereka duduk di kelas dan guru menawarkan kesempatan bertanya, mayoritas memilih diam dan berpura-pura paham atas materi yang disampaikan. Mereka takut diejek teman-temannya, mereka takut dijauhi, hingga takut dicap anak bodoh karena bertanya. Itulah sebagian kecil penyebab terkikisnya gairah bertanya pada anak muda zaman sekarang.
Islam sebagai agama yang peduli dengan segala aktifitas umatnya, termasuk perhatian terhadap tradisi bertanya. Dalam beberapa kesempatan, Nabi Muhammad SAW menyinggung bahayanya akibat enggan bertanya. Peristiwa tersebut terekam dalam hadis Nabi Saw. riwayat dari Ibnu ‘Abbas ra.:
أَنَّ رَجُلًا أَصَابَهُ جُرْحٌ فِي رَأْسِهِ، عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ أَصَابَهُ احْتِلَامٌ فَأُمِربِالِاغْتِسَالِ، فَاغْتَسَلَ، فَكُزَّ فَمَاتَ، فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّهُ، أَوَلَمْ يَكُنْ شِفَاءَ الْعِيِّ السُّؤَال
“Seorang laki-laki mengalami luka di kepalanya pada masa Rasulullah Saw. Kemudian ia mengalami junub (karena mimpi basah), lalu ia diperintahkan untuk mandi. Maka ia pun mandi, kemudian meninggal dunia. Berita tersebut sampai kepada Nabi Saw., lalu beliau bersabda: ‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka. Mengapa mereka tidak bertanya ketika mereka tidak mengetahui? Sesungguhnya obat dari ketidaktahuan adalah bertanya”.
Nasihat Nabi yang Mengaitkan Ilmu dengan Rasa Ingin Bertanya
Hadis di atas menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. menyinggung orang tidak mau bertanya atas ketidaktahuannya sekaligus memberikan nasihat kepada umatnya bahwa dengan bertanya kita dapat menghilangkan ketidaktahuan. Adapun hadis Nabi Saw. yang mengaitkan ilmu dengan rasa ingin bertanya, di sini ada dua hadis. Pertama riwayat dari Ali bin Abi Thalib ra. dan kedua riwayat dari Abdullah bin Umar ra.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: العلم خزائن ومفتاحها السؤال فاسئلوا يرحمكم الله، فإنه يؤجر فيه أربعة: السائل والمعلم والمستمع والمجيب لهم . رواه أبو نعيم
“Rasulullah Saw. bersabda: ‘Ilmu adalah perbendaharaan-perbendaharaan, dan kuncinya adalah bertanya. Maka bertanyalah kalian, semoga Allah merahmati kalian. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat pahala bagi empat orang: orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengarkan, dan orang yang menjawab mereka”. (HR. Abu Nu’aim).
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: الِاقْتِصَادُ فِي النَّفَقَةِ نِصْفُ الْمَعِيشَةِ، وَالتَّوَدُّدُ إِلَى النَّاسِ نِصْفُ الْعَقْلِ، وَحُسْنُ السُّؤَالِ نِصْفُ الْعِلْمِ. رواه الطبراني
“Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: ‘Bersikap sederhana dalam membelanjakan harta adalah setengah dari kehidupan yang baik; berbuat baik dan menunjukkan kasih sayang kepada manusia adalah setengah dari kecerdasan; dan pertanyaan yang baik adalah setengah dari ilmu”. (HR. Ath-Thabrani).
Dari dua hadis di atas, kita tahu bahwa Rasulullah Saw. sangat peduli terhadap umatnya. Hadis yang pertama menegaskan bahwa seseorang harus berani bertanya jika ingin mendapatkan luasnya ilmu. Sedangkan hadis kedua Rasulullah Saw. memposisikan pertanyaan sebagai setengah dari ilmu. Selain dari hadis, sumber ajaran agama Islam yang pertama yaitu Al-Qur’an juga memberikan anjuran untuk bertanya. Al-Qur’an berkata di surah al-Nahl ayat 43:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Nahl [16]: 43).
Langkah-langkah Menghidupkan Kembali Rasa Penasaran yang Tinggi
Untuk menghidupkan kembali gairah bertanya pada pemuda, butuh setidaknya dua langkah konkret dari berbagai pihak. Pertama, pendidik dan lingkungan masyarakat harus menciptakan ruang aman yang menghargai setiap pertanyaan tanpa menghakimi. Kedua, pemuda perlu membangun niat dan adab bertanya, yaitu bertanya untuk pemahaman dan kedalaman berpikir, bukan untuk menguji atau merendahkan orang lain. Ketika ekosistem belajar terasa suportif, rasa percaya diri pemuda akan tumbuh kembali.
Pada akhirnya, hilangnya gairah bertanya pada pemuda masa kini tidak bisa dianggap sepele. Rasa takut dihina, takut dijauhi, dan takut dinilai bodoh yang perlahan menghilangkan fitrah manusia yaitu rasa ingin tahu. Padahal Al-Qur’an dan Sunnah telah memberikan jalan terang untuk menghindari hilangnya ghirah bertanya. Oleh karena itu, kita harus mulai berani menyadarkan orang-orang terdekat kita untuk menumbuhkan kembali semangat bertanya. “Kalahkan malumu atau pelihara kebodohanmu”.
Sumber
Abū al-Qāsim Sulaymān ibn Aḥmad al-Ṭabarānī. al-Muʿjam al-Awsaṭ. Dār al-Ḥaramayn, 1995.
Abū Nuʿaym Aḥmad ibn ʿAbd Allāh al-Aṣfahānī. Ḥilyat al-Awliyāʾ wa-Ṭabaqāt al-Aṣfiyāʾ. Maṭbaʿat al-Saʿādah, 1974.
Azis, Nur. Fitrah dan Implikasinya dalam Teori Perkembangan Manusia menurut Al-Qur’an dan Hadits. (Metro Lampung), 2016.
Ibn Majah and Abū ʿAbd Allāh Muḥammad ibn Yazīd ibn Mājah al-Qazwīnī. Sunan Ibn Mājah taḥqīq al-Arnaʾūṭ. 1st ed. Dār al-Risālah al-ʿĀlamiyyah, 2009.
Kurniawan, Yohan, Thaha Abdullah, Khuzaiton Zakaria, and Wan Muhammad Wan Abdulloh. “Mengapa Pelajar Takut Bertanya dalam Kuliah?: Sebuah Kajian di Universiti Malaysia Kelantan.” Personalia Pelajar 15, no. 1 (2012).