‹ Kembali ke Beranda
Hadis · Opini

Menguji Cinta Nabi di Balik Layar

Oleh Ibnu Sholah·19 Oktober 2026·0
Menguji Cinta Nabi di Balik Layar

Majalahnabawi.com – Bulan Rabiul Awal dikenal dengan bulan kelahiran Sang Nabi. Sejak tanggal satu saja, orang-orang Islam sudah mulai memperingatinya dengan beragam kegiatan bernuansa keagamaan.

Mulai dari bersedakah kepada fakir miskin dan anak yatim, hingga berbagai majelis yang tentunya tidak akan luput dari lantunan pembacaan Thala’al Badru. Bahkan, ada yang membacanya setiap hari dari sejak tanggal satu hingga puncaknya pada tanggal dua belas Rabiul Awal.

Semua itu bermuara pada satu kata; cinta. Cinta kepada manusia mulia yang namanya tak pernah sepi dilantunkan dalam berbagai kegiatan-kegiatan keagamaan. Di masjid, majelis, pesantren, perkumpulan keagamaaan, dan bahkan di media sosial, kita mengekspresikannya dengan beragam cara.

Kita sering berselawat, membagikan kutipan-kutipan tentang sikap dan akhlaknya, mengunggah foto perayaan Maulid, dan bahkan menuliskan bait-bait yang menggambarkan betapa besar kerinduan kita kepadanya.

Namun, ternyata ada satu runag yang sering kita abaikan dan lupakan: ruang digital. Kita jarang memeriksanya. Padahal di sanalah sebagian dari keseharian kita lakukan. Kita sering menggaungkan cinta kepada Nabi, menyebut-nyebut namanya, dan membacakan sifat-sifatnya dalam setiap acara Maulid. Namun, di ruang digital kita sendiri, kita mengabaikannya.

Di sana, terkadang jempol kita berjalan lebih cepat daripada akal. Bahkan, ia bisa lebih tajam daripada pedang. Tidak sampai satu detik, satu klik dari jempol kita dapat menjadi pintu yang membuat kita terjerumus dalam lautan dosa.

Kita membagikan kabar sebelum memastikan kebenarannya, menertawakan kesalahan orang lain, ikut menghakimi orang lain hanya karena potongan unggahan video tidak utuh, bahkan melontarkan kata-kata yang mungkin tidak akan berani kita ucapkan ketika berhadapan langsung dengan orang yang bersangkutan.

Lantas, di Mana Sebenarnya Letak Cinta Kita Kepada Nabi?

Begitu fasihnya lisan mengucapkan selawat, tetapi akhlak begitu mudah hilang ketika jempol-jempol mulai mengetuk-ngetuk layar. Kita mengaku mencintai Nabi, tetapi pada saat yang sama, kita juga menghadirkan perilaku yang bertentangan dengan akhlak yang beliau ajarkan.

Pertanyaan ini penting untuk direnungkan. Bukan untuk mengukur siapa yang paling mencintai Nabi, melainkan untuk mengingatkan bahwa seharusnya cinta mempunyai konsekuensi. Sebab, Rasulullah datang kepada kita bukan hanya untuk mengajarkan bagaimana seorang hamba beribadah kepada Tuhannya, tetapi juga bagaimana seorang manusia memperlakukan sesamanya. Bukankah hadis ini begitu akrab di telinga kita?

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Lantas, mengapa mengaku-ngaku mencintai Nabi jika hal sepeting ini saja terlupakan? Mengapa ada cinta kalau jempol-jempol tidak bertanggung jawab terus-menerus bermunculan?

Di zaman ketika sebagian besar percakapan manusia telah berpindah ke layar, ujian iman bukan lagi hanya di atas sajadah. Ia juga sudah hadir di berbagai kolom komentar, ruang percakapan, unggahan, dan tombol share. Akhlak Nabi tidak semestinya hanya berhenti di majelis-majelis Maulid.

Ia juga perlu hadir dalam ruang komentar yang kita tulis, setiap pesan yang kita kirim, share, setiap unggahan yang kita bagikan, dan setiap jejak digital yang kita tinggalkan. Sebab, jika dahulu lisan bisa menjadi cermin dari akhlak seseoarang, hari ini jempol pun demikian.

Maka barangkali mencintai Nabi bukan hanya tentang seberapa sering kita melantunkan selawat, tetapi juga tentang seberapa jauh akhlak beliau hidup dalam setiap perilaku kita, termasuk ketika tidak ada seorang pun melihat kita di balik layar.

Bagikan: