Hadis

Hadis Palsu Ramadhan: Berbahagia Menyambut Ramadhan (II)

Analisis matan kedua adalah kalimat حرم الله جسده على النيران (Allah mengharamkan jasadnya atas api neraka). Redaksi ini memang dapat dilacak di dalam kitab-kitab hadis, tetapi tidak ada satupun kitab yang mengaitkan pahala pembebasan seseorang dari api neraka dengan hanya berbahagia dengan datangnya ramadhan. Sekurang-kurangnya ada 7 tema hadis yang redaksinya menyebutkan haramnya api neraka bagi seseorang:

Baca Juga: Hadis Palsu Ramadhan I: Berbahagia Menyambut Ramadhan 

  1. Dalam al-Mu’jam al-Kubra, al-Thabrani meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda Allah mengharamkan api neraka bagi orang yang shalat qabliyah zuhur empat rakaat.:

مَنْ صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النَّارِ

  1. Dalam riwayat Abu Nu’aim al-Ashbihani dalam Hilyatul Auliya’, Rasulullah Saw bersabda bahwa seorang hamba yang tidak memberikan ruang apapun kecuali cinta kepada Allah SWT, maka Allah akan mengharamkan api neraka menyentuhnya.

مَا اخْتَلَطَ حُبِّى بِقَلْبِ عَبْدٍ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النَّارِ

  1. Al-Dailami dalam Musnad al-Firdaus meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda, bahwa tidaklah seseorang bercucuran air matanya karena takut kepada Allah SWT kecuali Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka.

مَا اِغْرَوْرَقَتْ عَيْنَا عَبْدٍ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النَّارِ

  1. Menukil riwayat Ibnu al-Najjar dari kitab al-Tarikh, al-Suyuthi dalam Jam’u al-Jawami’ meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda, bahwa orang yang usianya mencapai 80 tahun, Allah SWT akan mengaharamkan api neraka baginya.

مَنْ بَلَغَ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ ثَمَانِيْنَ سَنَةً حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النَّارِ

  1. Allah mengharamkan api neraka bagi orang yang berperang di jalan Allah SWT. Rasulullah Saw bersabda dalam hadis riwayat Imam Ahmad bin Hanbal sebagai berikut:

مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ فَوَاقَ نَاقَةً حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النَّارِ

  1. Seorang mu’min yang selalu beribadah kepada Allah SWT dan selalu bersujud kepada- Maka jejak-jejak ibadah dan sujudnya akan menjadi penghalang dan diharamkannya api nereka baginya di saat anak adam yang lain dilahap api neraka. Dalam riwayat shahih Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ فَيَخْرُجُوْنَ يَعْرِفُونَهُمْ بِآثاَرِ السُّجُوْدِ وَحَرَّمَ اللهُ عَلَى النّارِ أّنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُجُوْدِ

  1. Orang yang melaksanakan shalat sunnah fajar, kemudian ia tidak beranjak dari tempat duduknya karena berdzikir kepada Allah SWT hingga terbit matahari, setelah itu ia shalat dhuha minimal dua rakaat, maka Allah akan mengharamkan kobaran api neraka baginya. Dalam Syu’ab al-Iman, imam al-Baihaqi meriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
Baca Juga:   Menyolati Jenazah Koruptor

مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ قَعَدَ فِي مَجْلِسِهِ يَذْكُرُ اللهَ عزَّ وَ جَلَّ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ حَرَّمَ اللهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَلْفَحُهُ أُوْ تُطْعِمُهُ.

Dua analisis ini membuktikan bahwa di dalam kitab-kitab hadis standar (mu’tabarah), tidak ada satupun kitab yang menjelaskan bahwa redaksi من فرح (orang yang berbahagia) dan redaksi حرم الله جسده على النيران (pengharaman jasad dari api neraka) dihubungkan dengan bulan Ramadhan. Ini memperkuat bahwa hadis di atas tidak hanya palsu secara sanad, tetapi juga palsu secara matan atau redaksinya.

Kedua, indikator kepalsuan hadis berdasarkan maknanya. Suatu hadis dapat dikatakan palsu secara matan apabila maknanya meragukan (rakakatu lafzhihi). Makna yang meragukan itu antara lain adalah apabila ada hadis yang menjanjikan pahala yang sangat besar namun amalannya ringan atau sedikit. Dalam konteks hadis di atas, berbahagia menyambut datangnya Ramadhan adalah amalan yang sangat ringan sedangkan pahalanya sangat besar, yaitu api diharamkan neraka menyentuh jasadnya. Dengan kata lain, apa yang disampaikan dalam hadis di atas adalah janji palsu yang tidak dibenarkan.

Menyambut Ramadhan Ala Rasulullah Saw

Bergembira dengan datangnya Ramadhan tidak dilarang dan bukan perilaku tercela, justru itu sangat baik dan dianjurkan. Namun menjadikan hadis palsu sebagai pijakan dari kegembiraan itu salah sasaran dan tidak dibenarkan. Ada tuntunan yang benar dan tepat sasaran dalam menyambut Ramadhan dengan penuh kebahagiaan, yaitu hadis shahih yang diriwayatkan oleh imam Ahmad bin Hanbal sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Abu Hurairah berkata; Saat bulan Ramadhan tiba, Rasulullah Saw memberikan kabar gembira kepada para Sahabat seraya bersabda; “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, di mana Allah mewajibkan atas kalian berpuasa. Di bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan setan-setan dipenjara. Di bulan Ramadhan, ada satu malam yang lebih baik dari malam seribu bulan. Orang yang terhalang dari kebaikannya, sungguh ia benar-benar terhalang dari kebaikannya itu.”

Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan, bahwa hadis ini adalah dasar yang paling tepat dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan (ashlun fi tahni’at syahri ramadhan) yang mulia itu. Bagaimana mungkin kita tidak bahagia dengan datangnya bulan Ramadhan? Ibnu Rajab menjawab; Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak bahagia dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang berbuat dosa itu tidak bahagia dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira dengan dipenjarakannya setan-setan? Karena tidak ada satu masa (bulan) pun yang bisa menyamai bulan Ramadhan. Tutup Ibnu Rajab dalam kitabnya Latha’iful Ma’aarif. Maka nikmat apalagi yang kau dustakan?

Baca Juga:   Hukum Kultum Setelah Shalat Tarawih

Oleh karena itu, bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan –termasuk juga tradisi-tradisi baik yang berkembang di masyarakat dalam menyambut datangnya– dibenarkan berdasarkan hadis ini. Kebahagiaan adalah tentang rasa, bisa diwujudkan dengan kata, retorika, budaya, atau lainnya. Bahagia itu bisa diungkapkan dengan berbagai macam ekspresi dan cara, yang penting caranya tidak melanggar dan bertentangan dengan norma dan aturan agama.

Baca Juga: Mengamalkan Hadis Dhaif dan Palsu 

Penutup

Motivasi hadis bergembira dengan datangnya Ramadhan sangat baik dan dianjurkan untuk membangun kesadaran, semangat, dan antusiasme ubudiyah dan amaliyah. Tetapi jika motivasi itu didasarkan pada iming-iming pahala yang tidak pernah ada, seperti pahala haramnya api neraka menyentuh jasad di atas. Maka motivasi seperti itu tidak dibenarkan, seperti harapan hampa dan kosong yang tidak menemui kenyataan. Ramadhan yang dinista, begitulah jika kita menyambut Ramadhan dengan hadis palsu seperti telah dijelaskan.

Ramadhan yang dicinta kembali datang menyapa, hadirnya membawa bahagia dan penuh suka cita. Itulah Ramadhan yang selalu dirindu sebagaimana Rasulullah Saw selalu menampakkan kegembiraan kepada para Sahabat dengan datangnya. Ramadhan, jarang bertemu tapi cepat pergi berlalu. Tamu agung bernama Ramadhan tidak boleh disia-siakan, hadirnya yang membawa berkah melimpah jangan sampai terlewatkan. Hanya Allah SWT yang tahu kebenaran hakiki itu, apakah ungkapan di atas adalah sabda atau bukan, wallahu a’lam. Tugas kita hanya menyampaikan data dan fakta yang sudah disampaikan dan dijelaskan para ulama.

Maka dari itu, tulisan ini perlu dikritisi jika ada salahnya. Perlu masukan dan saran untuk menambah lengkap dan sempurnanya. Atas kritik dan saran yang membangun, disampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya. Wallahul muwaffiq ila ma yuhibbuhu wa yardhah.

Written by Muhammad Ali Wafa, Lc., S.S.I
Dosen di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.