Artikel Utama

Haul Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub: Menepis Tuduhan Wahabi

Avatar Oleh Muhammad Ali Wafa, Lc., S.S.I · 4 min read
Hari ini, Sabtu (15/04/17), keluarga besar Darus-Sunnah menyelenggarakan Haul wafatnya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA, pendiri sekaligus pengasuh Darus-Sunnah sejak 1997 hingga 2016 yang lalu. Peringatan wafat ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan liar seputar sosok beliau yang acapkali dituduh Wahabi oleh segelintir orang. Tuduhan ini semakin lantang disuarakan ketika tulisan beliau yang berjudul “Titik Temu Wahabi-NU” mengemuka di Koran Republika dan kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku dengan judul yang sama.

Banyak sebenarnya tuduhan-tuduhan tidak berdasar yang dialamatkan kepada beliau, namun di antara sekian banyak tuduhan itu tuduhan Wahabi adalah yang paling terkenal. Benarkah beliau Wahabi? Pertanyaan ini akan saya jawab dalam singkat tulisan ini untuk mengenang satu tahun wafatnya beliau.

Sebagaimana lazim diketahui banyak orang bahwa Wahabi adalah kelompok yang anti dan membid’ahkan Tahlil, Maulid, dan peringatan kematian seperti Haul. Niscaya, jika Prof Ali adalah Wahabi, beliau akan secara tegas menolak dan membid’ahkan tradisi itu melalui pernyataan-pernyataan dan tulisan-tulisan beliau. Namun sampai akhir hayat beliau, tidak ada satupun pernyataan dan tulisan beliau yang menolak tradisi tersebut. Ini bukti bahwa beliau bukan Wahabi seperti yang dituduhkan.

Sebaiknya, sebelum menuduh Wahabi, kenali dulu sosok dan sepak terjang beliau dari dekat. Dari keluarga besar, santri, sahabat karib, dan tradisi yang berjalan di pesantren beliau, Darus-Sunnah. Bukan dari tulisan, pernyataan, atau buku-buku orang yang tidak mengenal beliau dari dan secara dekat. Jika membaca beliau dari sumber sekunder ini, maka kemungkinan besar akan terjadi banyak penyimpangan karena ketegasan dan sikap moderat beliau yang seringkali disalah-tafsirkan atau sengaja dicatut oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingan mereka.

Memperkuat uraian ini, tradisi-tradisi yang beliau wariskan di Darus-Sunnah akan menjelaskan bahwa tuduhan Wahabi terhadap beliau tidak benar dan omong kosong semata. Sebab tradisi Tahlilan, Maulidan, dan peringatan kematian yang dianggap bid’ah justru hidup dan semarak di Darus-Sunnah.

Yasinan dan Tahlilan

Di Darus-Sunnah, tradisi Yasinan dan Tahlilan dilaksanakan rutin seminggu sekali, yaitu setiap kamis selepas sholat Isya berjamaah (malam jum’at). Tradisi ini bukan sekedar kebiasaan semata, lebih dari itu Yasinan dan Tahlilan adalah program pesantren yang harus dilaksanakan setiap minggunya. Meski demikian, tradisi ini tidak wajib dilaksanakan oleh setiap santrinya. Karena secara hukum, tradisi Yasinan dan Tahlilan bukan syari’at wajib yang harus dilaksanakan oleh para santri  di Darus-Sunnah.

Program Yasinan dan Tahlilan adalah sarana bagi para santri untuk beramal kebajikan. Bagi yang malaksanakan akan mendapatkan pahala dan bagi yang meninggalkan tidak akan mendapat dosa. Yasinan dan Tahlilan termasuk amalan sunnah karena isinya adalah membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan mendoakan orang yang telah meninggal sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw, Sahabat-sahabatnya, dan tabi’in.

Karena itu, di masa hidup beliau, jika pada malam jum’at di Darus-Sunnah tidak terdengar suara santri yang Yasinan dan Tahlilan, beliau akan bertanya kenapa tidak ada Yasinan dan Tahlilan. Tidak sampai di situ saja, beliau bahkan menegur dan memperingatkan agar hal tersebut tidak diulangi lagi, beliau menekankan agar Yasinan dan Tahlilan dibaca setiap minggu.

Baca Juga  Catatan Kecil tentang Kiai Ali Mustafa

Tradisi Maulid

Banyak penjelasan yang menyebutkan bahwa maulid adalah salah satu bid’ah terbesar dalam tradisi umat Islam. Menurut mereka, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih, tradisi Maulid tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw, para sahabat, dan para tabi’in. Mereka menambahkan, tradisi maulid adalah tradisi bid’ah yang diwariskan oleh orang-orang syi’ah pada abad IV Hijriyah. Wahabi termasuk kelompok yang secara tergas menolak tradisi maulid dengan landasan-landasan tersebut.

Ada dua argumen untuk menepis tuduhan Wahabi terhadap beliau dalam kasus maulid. Pertama, Seandainya Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub Wahabi, beliau akan mengamini argumentasi sejarah ini. Namun ternyata beliau tidak mengakui sejarah maulid umat Islam itu berlandaskan pada tradisi syi’ah. Beliau sering menjelaskan bahwa sejarah tradisi maulid yang diikuti oleh Ahlussunnah wal Jamaah khususnya di Indonesia adalah tradisi Maulid yang digagas oleh Shalahuddin al-Ayyubi dalam memerangi pasukan salib pada abad ke 7 Hijriyah. Beliau sering mengatakan, “Tentang sejarah Maulid baca penjelasan imam al-Suyuthi dalam kitabnya al-Hawi li al-Fatawi.”

Kedua, Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub dikenal sebagai ahli hadis sangat tegas dan tidak kenal kompromi dalam masalah akidah dan ibadah. Beliau akan berkata apa adanya jika ada penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di masyarakat. Jika Maulid adalah tradisi bid’ah, tentu dengan tegas dan tanpa kompromi beliau akan menyampaikan hal tersebut. Namun sampai ujung usianya, beliau tidak pernah menyatakan maulid itu bid’ah. Justru menurut beliau Maulid adalah tradisi baik yang patut dilestarikan. Karena dalam tradisi Maulid, terdapat shalawat dan pujian-pujian kepada Rasulullah Saw yang tak henti dikumandangkan.

Semakin tidak berdasar menuduh beliau Wahabi karena di Darus-Sunnah sendiri tradisi Maulid ini juga dilaksanakan rutin setiap seminggu sekali untuk santri (setiap malam Jum’at) dan sebulan sekali untuk Mahasantri (setiap awal bulan malam Jum’at). Bahkan dalam moment tertentu seperti Wisuda misalnya, Maulid oleh beliau dijadikan sebagai sambutan penghormatan untuk menyambut tamu-tamu undangan. Lebih dari itu, saat tradisi Maulid belum hidup di Darus-Sunnah, setahun sebelum wafat, beliau menyampaikan; “Saya rindu tradisi pesantren seperti pembacaan Maulid Diba’i walaupun hanya satu kali dalam sebulan.” Atas dasar inilah kemudian tradisi Maulid nabi dihidupkan di Darus-Sunnah.

Seandainya beliau Wahabi, tentu beliau tidak akan merindukan tradisi pesantren yang bernama Maulid. Seandainya maulid itu bid’ah dan diharamkan, tentu ahli hadis seperti beliau adalah orang pertama yang akan pasang badan menolak dan menentang pelaksanaan Maulid. Namun faktanya, justru beliau sangat merindukan tradisi Maulid, hingga akhirnya sampai sekarang tradisi itu terus berlanjut di Darus-Sunnah.

Peringatan Kematian

Di Indonesia peringatan kematian biasa dikenal dengan peringatan hari ketiga, ketujuh, 40 hari, 100 hari, dan haul. Ada juga tradisi peringatan kematian 1000 hari. Wahabi mengklaim tradisi peringatan kematian seperti ini bid’ah karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw, para sahabat, dan para tabi’in.

Baca Juga  Tujuh Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Buka Puasa Bersama

Seandainya Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub yang ahli hadis itu Wahabi, beliau akan memerangi tradisi itu. Namun faktanya beliau tidak pernah melakukan hal tersebut. Bahkan semasa hidup, beliau seringkali menghadiri undangan acara peringatan kematian dari tetangga-tetangga beliau. Tidak hanya sekedar menghadiri, beliau terkadang memimpin bacaan dan doa tahlil. Bahkan bukan sekali dua kali beliau meminta dan mengajurkan santrinya untuk menghadiri undangan peringatan kematian. Berdasarkan hal ini, Darus-Sunnah selalu mengutus salah satu guru, musyrif, atau santrinya jika ada salah seorang warga sekitar yang meninggal.

Selanjutnya, jika beliau adalah Wahabi, maka tradisi peringatan kematian itu tidak akan dilaksanakan di Darus-Sunnah. Tapi faktanya, pasca wafat beliau, 3 hari, tujuh hari, 40 hari, dan 100 hari wafat beliau diperingati di Darus-Sunnah. Tidak berhenti sampai di situ, peringatan wafat itu berlanjut pada acara haul pertama beliau yang dilaksanakan pada hari Sabtu malam minggu (15/04/17).

Maka peringatan hari wafat beliau ini menepis segala tuduhan yang menyatakan bahwa beliau adalah Wahabi.

Wahabi dan Darus-Sunnah

Ada yang beranggapan, yang Wahabi bukan hanya Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub saja, tetapi pesantrennya pun juga beraliran Wahabi. Entah dari mana asalnya tuduhan ini sampai sejauh itu. Belakangan, ada selentingan berita jika nama Darus-Sunnah sangat khas dengan nama lembaga-lembaga milik Wahabi yang jargonnya adalah kembali pada Sunnah. Nama Darus-Sunnah ini semakin memperkuat jika Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub dan pesantrennya adalah sarang dan markas Wahabi. Lagi-lagi tuduhan tersebut sangat tidak berdasar.

Menanggapi tuduhan seperti ini, beliau seringkali mengingatkan santrinya agar tidak mudah menuduh orang hanya karena nama atau tampilan luarnya saja. Sebab jika hanya karena itu menuduh orang, akan berakibat fatal karena menuduh orang sembarangan. Beliau sering mencontohkan, jika menilai sesuatu dari tampilan fisik dan namanya saja, maka hot dog akan menjadi haram karena hot dog artinya anjing panas, berarti makanan itu bahan dan komposisinya adalah daging anjing. Beliau menjelaskan, orang gampang terjebak dengan nama akan sama kasusnya dengan orang yang menganggap hot dog itu haram. Sehingga karena nama atau tampilan fisik itu orang menjadi salah, padahal saat menuduh itu, kita tidak tahu apa isi dan kebenarannya.

 

Penutup

Berdsasarkan penjelasan ini, maka tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub selama ini tidak tepat dan salah sasaran. Sebaiknya, prasangka-prasangka negatif tentang beliau itu diganti dengan mendoakan beliau. Menuduh orang yang belum tentu benar tidak lebih baik daripada mendoakan. Bahkan menuduh seperti itu bisa berakibat dosa. Berdoa di samping sebagai amal shalih dan sunnah Nabi, juga akan dibalas dengan pahala oleh Allah SWT. Maka di acara haul beliau ini, mari bersama-sama kita doakan beliau, semoga Allah SWT menerima segala perjuangan dan kebaikan beliau. Semoga kelak beliau ditempatkan di surgaNya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fu anhu. Amin ya mujibassa’ilin.