‹ Kembali ke Beranda

Hermeneutika Radikalis Transendental: Filsafat Derridean Muhammad Al-Fayyadl Part 2

Oleh Muhammad Hikam·17 Mei 2026·21
Hermeneutika Radikalis Transendental: Filsafat Derridean Muhammad Al-Fayyadl Part 2

Majalahnabawi.com – Filsafat Negasi (2016) MAF menegaskan kembali, tentang filsafat ada untuk ditolak. Hanya dalam kemungkinanya untuk ditolak, ia relevan untuk terus ada. Dengan jurus dekonstruksi beliau yang selalu berjalan tidak pasti untuk mengarah kemana, mungkin kemana-mana sajalah dekonstruksi akan selalu mengantarkan terhadap kemana dan di mana ketidak-terhingaan itu.

Acapkali atmosfer dekonstruksi, negatif maupun negasi yang menjarah dari sekian aspek disiplin ilmu pengetahuan, MAF menitipkan tulisan enigmatik supaya mungkin tidak di simpulkan dari perjalanan filsafat. Filsafat bukan seni mempercantik kebenaran. Lebih bermartabat menyebutnya ‘seni memperburuk kebenaran’. Tapi filsafat bukan kedua-duanya.

Dengan itu juga, filsafat negasi telah membongkar teori Alexis Meinong daripada pembukaan ruang-dimensi-spektrum yang akan menjadi ‘pembengkakan ontologi’. Dekadensi tersebut dilanjutkan oleh filsafat negasi sebagai konsekuensi ontologis dari ketidakmemadainya ‘yang telah ada’ dari pengaktualan dirinya hingga ke-telah-ada-an-nya, membuat kebenaran menjadi suatu sistem yang inheren; sebagaimana kebenaran harus dipikirkan sebagai yang tidak-ada-di-sana.

Hal itu juga memberitahukan bahwa “ketidak-aktualan yang telah ada adalah godaan untuk berhenti berfikir” untuk lebih diingat dan dicatat ‘berhenti berfikir’. Akan dilanjutkan sebagai ungkapan terakhir atas dimensi yang lain. Bukan disiplin ilmu, hermeneutika, teologi, maupun filsafat, lebih jauh merupakan dimensi yang Liyan.

Derridean (2023) Derrida lebih sering menyebut Tuhan dan iman sebagai impossible, yang tak mungkin. Ia mengungkapkan bahwa kita harus membayangkan “sebuah kemungkinan dari yang tak mungkin, yang paling tidak mungkin, yang paling tidak mungkin dari yang paling tidak mungkin”.

la possiblitte de I’impossible, du plus impossible, du plus impposible que le plus impossible.

Sesungguhnya kita harus menjangkarkan iman pada sesuatu yang tak mungkin kita bayangkan; sesuatu yang berada di batas terjauh imajinasi kita

Jika pembahasan sebelumnya hanya masalah pembatasan ontologi dan teologi, yang sedikit berbeda awal dan tujuan petualangannya. Maka untuk saat ini sedikit meregangkan otot-otot dengan merapatkan telapak tangan, memulai do’a Jacques Derrida untuk pembentuk dari perbedaan yang dibatasi antara ontologi dan teologi menjadi ‘onto-teologi’:

Viens! Something coming…

Viens! Something unforeseeable an incomprehensible…

Viens! Tout outre..

Viens! Let everyone say,

Viens! To every gift

Vien, oui, oui, Amen.

Datanglah! Sesuatu sedang datang…

Datanglah! Sesuatu yang tak teramalkan dan tak terpahamkan…

Datanglah! Yang seutuhnya lain

Datanglah! Biarkan setiap orang berkata,

Datanglah! Kepada setiap pemberian

Datanglah! Ya, ya, Amen.

Sebelum lanjut, pastikan bahwa tidak ada akhir dari sebuah kepastian. Meski kalibrasi antara ontologi, teologi, bahkan teleologi yang juga ingin ikut-ikutan, tidak mampu berintegrasi atas kepastian penjelasan Yang Maha Pasti.

Selebihnya menjadi persoalan baru, tentang ke-tidak-mungkin-an mengetahui Tuhan, dan Tuhan mengenalkan serta memberitahu ke-ber-ada-an-Nya melewati kitab suci. Dari beberapa problem tersebut, Ibn Arabi dan Jacques Derrida turut memperhatikan, mempertanyakan serta mempernyatakan pandangannya akan sesuatu yang terkonsepkan sekaligus tidak terkonsepkan.

Rupanya akan menjadi refleksi sejenak, untuk membaca lebih lanjut tulisan saya di laman LSF-Discourse: dengan judul “Manhaj Nominalisme, Konseptualisme, dan Terminisme: William of Occam”. Hal ini akan memberikan suatu yang sedikit memastikan daripada yang tidak pasti-pasti, mungkin begitu.

Sekurang-kurangya saya hanya akan membawakan pembahasan kepahlawanan tapi masih siang, hingga sore, terus malam, gelap. Kegelapan yang dilakukan oleh William of Occam adalah petualangannya ke negeri Ajaib. Berbisik Alice di pinggiran kuping Occam; “asalkan kau mampu menemukannya”. Adakah yang lebih gemerlap dalam gelap? Keberanian yang esensial dalam avontur intelektual!

Seketika mental keberanian Occam terisi, untuk melanjutkan perjalananya, mengumpulkan benih ontologi, buah teologi, buih teleologi, dan menyapu bunga-bunga berguguran di jalanan yang tak berkepastian, tak berkesudahan, dan tak bertepian. Dari perjalanan tersebut penulis akan merangkum tiga fase pemikirannya; dari usahan membebaskan Tuhan, berperang dengan pemikirannya sendiri hingga membunuh pemikiran itu sendiri.

“Usaha Membebaskan Tuhan”, ia memberikan dua pengertian atas kekuasaan Tuhan. Pertama, (Potentia dei Ordinata), yakni kekuasaan Tuhan dari perspektif firman yang hadir melalui pengaturan alam (hukum alam) dan rahmat berdasarkan kehendak-Nya. Kedua, (Potentia dei Absoluta), yakni kekuasaan Tuhan atas segala kekuasaan yang tak terbatas, kekuasaan untuk melakukan apa saja dan tidak melakukan apa-apa.

Lebih tegas, prinsip keduanya tidak berarti menjadi pembedaan, kekuasaan itu menyatu untuk Tuhan dapat melakukan apa saja. Namun belum usai untuk selesai, atas kehendak dan kekuasaan Tuhan. Ia tertabrak dan tertolak atas pemikiranya sendiri, satu-satunya yang membatasi kebebasan Tuhan hanyalah ‘asas non-kontradiksi’. Misal, mustahil Tuhan menciptakan A serentak dengan non-A, atau menciptakan tuhan kedua, karena tuhan kedua terikat kepada pencipta-Nya, Tuhan pertama, maka Tuhan menciptakan Tuhan bukanlah Tuhan.

“Berperang dengan pikirannya sendiri”, sebelumnya ia menjamin hubungan antara Tuhan dan ciptaan, sungguh-sungguh mencerminkan kebebasan-Nya. Setelahnya ia harus menyangkal prinsip kausalitas semesta, sebab ia melihat ruang bagi Tuhan untuk bertindak menjadi terbatas. Maka terjadilah perombakan besar-besaran, dengan lebih dulu membebaskan dunia sebelum membebaskan Tuhan.

Bahkan ia juga menyiapkan alatnya (Occam razor) untuk mencukur status ontologis universal. Seperti contoh, tidak ada ‘bunga pada umumnya’ dan hanya ada mawar, melati, kamboja, dll. Seterusnya terdapat mawar merah, putih, kuning, dsb. Tidak ada intisari ‘ke-mawar-an’. Akhirnya ia berpendapat bahwa manusia sendiri yang menggolongkan wujud atas wujud-wujud partikular yang memiliki keserupaan lalu menamainya.

Dengan itu haruslah terjadi pembebasan dunia dari asas-asas semesta, supaya Tuhan dapat melaksanakan kehendak-Nya tanpa dan bebas dari mengacaukan seluruh sistem yang telah di buatnya. Lihat (kitab Daniel 3:4), Nasib menimpa Shadrach, Meshach, dan Abednego. Nebukadnezar yang murka mencampakkan mereka ke api yang menyala-nyala dan persis dalam (surah al-Anbiya 69), “Kami berfirman: ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim’”.

Dalam pengaturan dunia, ketentuan Ilahi membuat api membakar dan menghanguskan benda-benda yang terkena jilatannya. Dengan kehendak-Nya, hamba yang di rahmati, Shadrach, Meshach, Abednego, maupun Nabi Ibrahim, keluar segar bugar tanpa terpanggang.

Tuhan menetapkan hukum de facto api membakar dan juga terpisah dari hukum api mendinginkan. Kedahsyatan Tuhan maha segala maha, maha di atas maha, maha menyatu pada-Nya. Maka kehendak Tuhan adalah kehendak! Supaya Tuhan adalah Tuhan, maha kehendak-Nya mutlak tidak bersyarat.

“Membunuh pikirannya sendiri”, jika filsafat berangkat dari landasan mengetahui (gnome) terlebih dahulu sebelum mempercayai (doxa), maka saat ini Occam berdalih credo ut intelligam (aku percaya untuk mengetahui). Dunia telah terpisah dari Alam Semesta yang melandasi untuk tidak diketahui melalui penalaran a priori.

Pengetahuan dibentuk dari fakta partikular sebagai pengalaman, tidak ada hubungan sebab akibat. Jika ada, haruslah diganti hubungan kausalitas metafisis dengan asosiasi tetap. Juga tidak ada konsep tentang Tuhan yang berasal dari pemahaman langsung. Kita mendapat pengetahuan melalui objek induksi, dan Tuhan bukanlah wujud partikular yang dapat didekati dengan cara tersebut.

Kita dapat membicarakan Tuhan dan mengenakan nama kepada-Nya. Dari nama-nama itu kita mengerti yang bukan Tuhan, sejauh menyangkut pengetahuan tentang Tuhan, urusannya selesai di sana. Kita hanya mampu memanggil-manggil Dia. Kita mencari nama diantara segala nama, tetapi tak satu pun berbicara tentang di balik nama.

Penyebutan nama tentu mengandung pengakuan akan kekuatan makna yang melekat pada nama. Terdapat kedahsyatan makna yang tinggal sebagai misteri. Ia dinamakan ‘Deus Absconditus’ Tuhan tersembunyi tak terjangkau oleh akal.

Penutup

Virus dekonstruksi harus sedikit menunda untuk menyimpulkan, namun rupanya hermenutika sendiri sering terpakai sebagai strategi seni memahami. Al-Faqir Billah (istilah yang sering digunakan oleh MAF dan ulama salaf, sebagai tanda ganti ‘aku’ atas kerendahan di hadapan-Nya) ingin lebih memahami tentang gerak-gerik seorang MAF yang sering meluapkan pemikiran abstraksi yang relatif tinggi.

Namun sebelum itu, penulis ingin menceritakan sedikit kegiatan hidup MAF khususnya sebagai keturunan tokoh agama kharismatik yang keseringan bernafas di bawah atap dan naungan suasana kepesantrenan. Selain santri, beliau memiliki ribuan santri yang didiknya di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Memang beliau seorang pelajar filsafat, bisa terbilang untuk saat ini dari beberapa tulisan dan pemikirannya, beliau layak menyandang gelar seorang filsuf. Namun itu di luar pesantren. Di dalam pesantren, beliau tetaplah seorang gus atau lora. Seorang yang harus alim, sholeh, dan selalu membawa hal-hal yang berbau religius.

Perlu juga selalu membawa kitab suci, kitab kuning, dan kitab bacaan zikir untuk menjaga suasana-suasana yang adem, halus, dan damai. Namun sekali lagi, itu hanya sekilas gambaran seorang calon sufi GF untuk melanjutkan perjalananya mendekonstruksi filsafat itu sendiri atas kelanjutan perjalanan dimensi yang lain, yakni tasawwuf.

Sekilas tasawwuf, beranjaknya dari intelegent rasionali terhadap intelengensi intuitif merupakan dimensi yang berbeda untuk memulai jalan. Mungkin menuju yang lebih, mungkin hingga yang Maha Mungkin. Namun MAF adalah seorang yang tidak terburu-buru meloncat pada ‘tempat’ yang seharusnya ‘tepat’.

Sebab masih membara kobaran api intelektualitas sebagai lentera bagi kehidupan, hingga menunggu yang akan datang; debu-debu pembakaran, sapu-sapu spiritualitas, hingga datang-Nya tiupan: yang memadamkan, yang membersihkan dan yang mencerahkan.

Filsafat tanpa tasawwuf, tersesat dan tidak sampai. Tasawwuf tanpa filsafat, klenik atau sok tahu – Sobri Washil Ghazali.

Daftar Pustaka

Al-Fayyadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS, 2005.

Al-Fayyadl, Muhammad. Teologi Negatif: Ibn Arabi. Yogyakarta: LKiS, 2021.

Al-Fayyadl, Muhammad. Filsafat Negasi. Yogyakarya: Cantrika Pustaka, 2016.

Al-Fayyadl, Muhammad. Derridean. Edisi Mori: CV. MORI GRUP, 2023.

Bagikan: