Majalahnabawi.com Terlepas dari pro-kontra mengenai kebolehan melakukan perayaan Maulid Rasulullah saw. Karena memang perdebatan antara kelompok yang melarang bahkan menganggapnya bid’ah dan kelompok yang membolehkannya tidak pernah barujung pada satu kesepakatan, masing-masing kelompok teguh dengan pendirian masing-masing, dan memang tidak ada yang salah dari perbedaan pandangan selama tetap menjaga kerukunan dan tidak saling menyalahkan.

Antara kelompok yang melakukan maulid Nabi saw dan  kelompok yang tidak merayakan maulid  sejatinya memiliki satu titik kesamaan yaitu mereka sama-sama merasa bahagia ketika memasuki bulan Rabi’ul Awwal, bulan kelahiran Rasulullah Saw karena rasa cinta dan bahagia terhadap kehadiran Rasulullah pada bulan tersebut.

Dari sini kita bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan bulan Rabi’ul Awwal sehingga Allah memilihnya sebagai bulan kelahiran sosok manusia paling agung pembawa risalah terakhir kenabian? Apa yang istimewa dari bulan Rabi’ul Awwal? Apakah Bangsa Arab sebelum kelahiran Rasulullah telah mengenal bulan ini sebagai bulan yang istimewa?

Jika kita kembali menilik sejarah Bangsa Arab sebelum kelahiran Rasulullah, kita akan dapati bahwa bulan Rabi’ul Awwal merupakan salah satu bulan yang tidak memiliki keistimewaan apa-apa bagi Bangsa Arab kala itu.

Rabi’ul Awwal bukan salah satu diantara Asyhur al-hurum (Rajab, Zul Qa’dah, Zul Hijjah dan Muharram), bukan bulan yang dikuhususkan untuk berpuasa, bukan bulan-bulan haji dan umrah, dan juga bukan bulan yang dikhususkan untuk ibadah-ibadah tertentu yang sudah dikenal Bangsa Arab ketika itu.

Lalu kenapa Rasulullah tidak dilahirkan pada bulan-bulan yang mulia? Seperti Muharram, Rajab, Ramadhan, Zul Qa’dah dan Zul Hijjah, bulan-bulan yang memiliki kemulian dan muatan sejarah yang diakui dan selalu dikenang oleh bangsa Arab.

Hari Asyura di bulan Muharram misalnya, merupakan hari yang sarat dengan muatan sejarah seperti hari dimana Nabi Musa as selamat dari kejaran Fir’aun, hari dimana Fir’un ditenggalamkan, hari dimana Nabi Nuh dan umatnya selamat dari bencana banjir besar dan sederet sejarah lain yang sudah diketahui dan dimuliakan bangsa Arab sebelum kelahiran Rasulullah saw, bahkan umat Yahudi berpuasa pada hari tersebut.

Rasulullah juga tidak dilahirkan pada hari Arafah pada bulan Zulhijjah, hari dimana Nabi Ibrahim melakukan wuquf disana dan mengajak umatnya melakukan ibadah haji. Nabi juga tidak lahir di bulan Rajab, salah satu bulan yang dimuliakan Bangsa Arab, bukan juga di bulan Sya’ban yang termasuk bulan pelaksanaan haji, atau bulan Zulqa’dah yang termasuk salah satu asyhur al-hurum, bulan haji, bulan dimana Allah mengangkat nabi Musa menjadi nabi dan rasul. Dan kelahirannya juga bukan pada 10 hari bulan Zulhijjah yang mulia itu.

Semua bulan dan hari-hari bersejarah yang dikenal dan dimuliakan bangsa Arab itu pada kenyataannya tidak Allah pilih untuk menjadi hari kelahiran Rasulullah saw.

Akan tetapi Allah memilih bulan Rabi’ul Awwal, bulan yang tidak memiliki keistimewaan apa-apa bagi bangsa Arab, ya mereka tau bulan Rabi’ul Awwal tapi bulan itu tidak memiliki makna apa-apa bagi mereka. lalu apa hikmah dibalik Allah memilih bulan “terpinggirkan” ini sebagai bulan kelahiran manusia agung pembawa risalah kenabian terakhir itu?

Sebagaimana dijelaskan Syekh Sayyid Alwi al-Maliki, Allah memilih bulan Rabi’ul Awwal sebagai bulan kelahiran Rasulullah karena Allah menginginkan kemulian yang lahir bersama Rasul terakhir-Nya itu independen tidak terikat oleh apapun apalagi karena kecipratan kemulian hal yang lain.

Seandainya Rasulullah lahir di hari Asyura, Arafah, atau di bulan-bulan mulia tentu akan ada orang yang berasumsi bahwa kemulian Rasulullah bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena beliau lahir pada hari atau bulan mulia tertentu sehingga beliau kecipratan kemulian bulan tersebut.

Rabi’ul Awwal yang awalnya tidak memiliki keistimewaan apa-apa, tidak memiliki muatan sejarah apa-apa akhirnya dikenal sebagai salah satu bulan paling mulia bagi umat muslim sedunia, bulan dengan muatan sejarah paling agung bukan hanya bagi bangsa Arab saja karena pada bulan itu Rasulullah saw hadir di dunia sebagai rahmat untuk sekalian alam.

Dari sini kita pahami bahwa kemulian Rasulullah bukan berasal dari waktu kapan beliau dilahirkan, akan tetapi, kelahiran beliau lah yang menjadikan waktu kelahirannya menjadi mulia. Benar kiranya apa yang didendangkan seorang penyair.

مَا إِنْ مَدَحْتُ مُحَمَّدًا بِقَصِيْدَتِي # لَكِنْ مَدَحَتُ قَصِيْدَتِي بِمُحَمّدِي

Tidak benar jika Aku memuji Muhammad dengan bait-bait syi’irku,
akan tetapi Aku memuji bait-baitku dengan Muhammad saw. 

             Hikmah lain dibalik kelahiran Rasulullah di bulan Rabi’ul Awwal adalah karena kata al-Rabi’ (musim semi) dalam bahasa Arab memiliki makna sumber kebahagian dan kesenangan, oleh karenanya, kandungan makna al-Rabi’ senada dengan tujuan utama hadirnya Rasulullah saw sebagai sumber kedamaian dan kebahagian bagi umat manusia di dunia dan akhirat mengutip dari Ibn al-Haj dalam al-Madkhal.

Wallahu A’lam bis Shawab…