‹ Kembali ke Beranda
Opini

Isti’dad sebelum Ramadan: Menyambut Bulan Suci dengan Hati yang Siap

Oleh Fauziah Nur Hasanah·7 Februari 2026·111
Isti’dad sebelum Ramadan: Menyambut Bulan Suci dengan Hati yang Siap

Majalahnabawi.com – Bulan Ramadan akan segera tiba. Tinggal menghitung hari, bahkan mungkin tinggal menghitung jam. Namun, satu pertanyaan penting perlu kita renungkan bersama: sudahkah hati dan jiwa kita siap menyambutnya?

Tidak sedikit kaum muslimin yang menyambut Ramadan hanya dengan persiapan lahiriah, membeli kebutuhan dapur, menyusun jadwal buka puasa, atau merencanakan mudik. Padahal, esensi Ramadan jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah momentum perubahan, pembinaan jiwa, dan pembaruan iman. Dalam Islam, persiapan spiritual ini dikenal dengan istilah isti’dad, yaitu mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum memasuki waktu yang mulia.

Membersihkan Hati Sebelum Bertamu kepada Allah

Persiapan pertama yang paling utama adalah taubat nasuha, yaitu taubat yang jujur dan sungguh-sungguh. Setiap manusia tidak pernah lepas dari dosa, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ

Setiap anak Adam pasti berbuat dosa.” (HR. al-Tirmidzi No. 2499)

Hadis ini menunjukkan bahwa dosa adalah bagian dari realitas manusia. Namun, yang membedakan seorang mukmin adalah kesadarannya untuk kembali kepada Allah. Ramadan adalah waktu terbaik untuk memulai lembaran baru, membersihkan hati, dan mengoreksi diri secara jujur. Taubat bukan hanya ucapan di lisan, tetapi tekad untuk memperbaiki diri dan meninggalkan kebiasaan buruk.

Menata Tujuan Ibadah Sejak Awal

Setelah membersihkan diri dengan taubat, langkah berikutnya adalah meluruskan niat. Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi momentum untuk menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah. Kita perlu memasang niat sejak sekarang, ingin lebih dekat kepada al-Qur’an, ingin menjaga salat malam, ingin memperbanyak sedekah, dan ingin memperbaiki akhlak. Siapa yang jujur kepada Allah maka Allah akan mengabulkan keinginannya.

Seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Saw. dan masuk Islam. Ketika ia diberi bagian harta rampasan perang, ia menolaknya dan berkata bahwa ia tidak mengikuti Nabi karena harta, tetapi karena ingin mati syahid dengan tertancap panah di lehernya lalu masuk surga. Ia menyampaikan niat itu dengan jujur dan penuh keyakinan. Rasulullah Saw. pun bersabda,

 إِنْ تَصْدُقِ اللَّهَ يَصْدُقْكَ ‏

Jika engkau jujur kepada Allah, maka Allah akan membenarkanmu”(HR. al-Nasai, No. 1953)

Tidak lama kemudian, ia benar-benar gugur sebagai syahid sesuai dengan niatnya. Kisah ini menunjukkan bahwa niat yang tulus karena Allah dapat mengantarkan seseorang kepada pertolongan dan kemuliaan dari-Nya.

Mengurangi Hal yang Tidak Bermanfaat

Salah satu penyakit zaman modern adalah kecanduan terhadap hal-hal yang melalaikan, seperti media sosial, hiburan berlebihan, dan penggunaan gawai tanpa batas. Karena itu, bagian dari isti’dad adalah mulai mengurangi aktivitas yang tidak bermanfaat. Latih diri sejak sekarang untuk mengatur waktu, membatasi penggunaan gawai, dan menggantinya dengan aktivitas bernilai ibadah. Rasulullah Saw. bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. al-Tirmidzi, No. 2317)

Ramadan akan terasa lebih ringan bagi mereka yang telah melatih diri sejak sebelumnya dengan mengganti kebiasaan yang tidak bermanfaat menjadi aktivitas bernilai ibadah. Salah satunya adalah dengan membiasakan puasa sunah, sebagaimana Rasulullah Saw. memperbanyak puasa di bulan Sya’ban sebagai latihan menyambut Ramadan. Pembiasaan ini tidak hanya melatih kesabaran dan menumbuhkan keikhlasan, tetapi juga membantu mengondisikan tubuh dan jiwa agar tidak “kaget” ketika memasuki bulan penuh ibadah.

Menghadirkan Perasaan “Ramadan Terakhir”

Salah satu cara paling efektif untuk menghidupkan semangat ibadah adalah menghadirkan perasaan bahwa Ramadan ini bisa jadi adalah Ramadan terakhir kita. Tidak ada jaminan kita akan bertemu Ramadan tahun depan. Umur adalah rahasia Allah. Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih serius, lebih khusyuk, dan lebih bersungguh-sungguh dalam beramal. Rasulullah Saw. bersabda,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Sesungguhnya amal itu dinilai dari akhirnya.” (HR. al-Bukhari, No. 6493)

Kesadaran ini akan membuat kita lebih serius, lebih sungguh-sungguh, dan tidak menunda-nunda amal. Kemudian cobalah sejenak menoleh ke belakang. Bagaimana Ramadan kita tahun lalu? Seperti pencapian terget tilawah, lisan yang terjaga dan hati yang lebih dekat dengan Allah. Apakah sudah tercapai semua?

Sering kali, kita menangis saat Ramadan pergi, menyesal karena target belum tercapai. Namun, penyesalan tanpa perubahan tidak akan berarti. Maka, jadikan pengalaman masa lalu sebagai bahan evaluasi. Susun target yang realistis. Mulai khatam al-Qur’an, rajin salat malam, memperbaiki akhlak, menjaga lisan, memperbanyak sedekah, dan memperkuat hubungan dengan Allah.

Isti’dad sebelum Ramadan adalah bentuk kesungguhan kita dalam menghargai nikmat waktu. Ramadan datang sebagai madrasah ruhani, tempat kita belajar ikhlas, sabar, disiplin, dan takwa. Allah Swt. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ … لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa … agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183)

Semoga Ramadan kali ini tidak berlalu begitu saja, tetapi menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih bermakna, lebih taat, dan lebih dekat kepada Allah. Mari kita siapkan hati, luruskan niat, dan sambut Ramadan dengan penuh harap, cinta, dan hati yang siap. Wallahu a’lam…

Bagikan: