‹ Kembali ke Beranda
Al-Quran

Keserasian Konsep Simetrisitas Matematika dalam Surah at-Talaq Ayat 12 Perspektif Tafsir al-Munir

Oleh Avant Satria·2 Oktober 2026·0
Keserasian Konsep Simetrisitas Matematika dalam Surah at-Talaq Ayat 12 Perspektif Tafsir al-Munir

Majalahnabawi.com – Matematika selama ini dikenal sebagai ilmu yang bertumpu pada angka, pola, bentuk, dan hubungan yang terukur. Salah satu konsep dasar pada matematika adalah simetrisitas. Simetri tidak hanya berkaitan dengan keindahan suatu bentuk, tetapi juga menunjukkan adanya kesamaan, keseimbangan, dan keteraturan antara bagian-bagian tertentu. Dalam matematika, suatu objek dikatakan memiliki simetri apabila memiliki kesesuaian dengan bentuk asal ketika mengalami transformasi.

Menariknya, prinsip kesamaan dan keteraturan tersebut dapat ditemukan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya berbicara mengenai keagamaan, tetapi juga mengarahkan manusia untuk memperhatikan berbagai tanda kebesaran Allah yang terdapat dalam alam semesta. Salah satunya terdapat dalam Q.S. al-Ṭalaq:12 yang menyebutkan bahwa Allah menciptakan kesesuaian langit dan bumi. Oleh karenanya simetrisitas tersebut menarik untuk dibahas.

Teori Simetrisitas Matematika

Simetris dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) diartikan sebagai sama kedua belah bagiannya. Suatu objek dapat dikatakan simetri jika diterapkan operasi atau transformasi, seperti translasi, penskalaan, rotasi, atau refleksi ia memetakan pada dirinya sendiri. Sehingga dikatakan bahwa simetri adalah kemampuan untuk membagi objek menjadi dua atau lebih yang bersifat identik. Dengan ini dapat difahami bahwa sesuatu yang simetris memiliki kesamaan antara sisi yang satu dengan sisi yang lain jika ia diberi tindakan, seperti dibelah atau diputar.

Simetris dalam matematika secara mendasar terbagi menjadi dua yaitu simetris lipat dan simetris putar. Simetris lipat atau yang disebut simetris refleksi dalam bangun datar adalah jika ia dilipat antara ujung dengan ujungnya maka akan membentuk bidang yang sama. Dalam hal yang lebih luas jika sesuatu bersifat simetris lipat, ia akan memiliki bentuk atau bidang yang sama antara sisinya. Simetris putar atau yang disebut simetris rotasi adalah jika sesuatu terlihat sama setelah mengalami beberapa putaran, umumnya dalam bentuk putaran parsial.

Penafsiran Tafsir al-Munir pada Q.S. al-Ṭalaq:12

Q.S. al-Ṭalaq:12 berbunyi:

ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰت وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡء قَدِير وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمَۢا

Artinya: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”

Menurut Tafsir al-Munir, ayat ini menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah. Karena dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa Dia menciptakan tujuh bumi seperti halnya tujuh langit. Wahbah al-Zuhaili menafsirkan ayat ini dengan membedah mufradat al-lughawiyah dalam ayat ini, diantaranya adalah mengartikan (وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ) yang bermakna Allah juga menciptakan bumi seperti langit, yakni dengan jumlah bilangannya yakni tujuh, sedangkan pada ayat sebelumnya Allah menyebutkan diri-Nya menciptakan langit sejumlah tujuh.

Kemudian lafal (يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ) bermakna qadha, titah, ketetapan, dan aturan-aturan Allah berlaku di antara keduanya, yakni langit dan bumi. Pada lafal (لِتَعۡلَمُوٓاْ) lam yang digunakan bersifat berkaitan dengan dua hal sebelumnya, yakni angit dan bumi. Sehingga membuktikan kekuasaan Allah berupa berlakunya qadha, aturan, dan ketentuan-Nya diantara langit dan bumi.

Titah, qadha, ketetapan, ketentuan, hukum, aturan, dan wahyu Allah tersebut turun dari langit yang berjumlah tujuh menuju bumi yang berjumlah tujuh pula. Az-Zuhaili kemudian menukil al-Mulk: 3 yang bermakna “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis”. Ayat ini memperkuat bukti bahwa langit diciptakan berjumlah tujuh.

Selain itu juga al-Zuhaili menyebutkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang berbunyi:

مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ مِنْ الْأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ

Artinya: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka itu akan dikalungkan ke lehernya dari tujuh bumi”.

Hal ini semakin menguatkan kebesaran Allah yang qadha, titah, ketetapan, dan aturan-aturannya berlaku di bumi dan langit yang berlapis tujuh. Kesamaan jumlah langit dan bumi ini juga menunjukkan kesesuaian, keseimbangan, dan keteraturan antara langit dan bumi.

Relasi Teori Simetrisitas dan Surat al-Talaq Ayat 12

Dari pemaparan teori simetrisitas dan penafsiran Tafsir al-Munir pada Q.S. al-Talaq: 12 menunjukkan adanya relasi kesesuaian. Q.S. al-Talaq: 12 menunjukkan bahwa bumi diciptakan memiliki tujuh lapis, seperti halnya langit. Keteraturan dan kesepadanan lapisan bumi dan langit ini menggambarkan kebesaran Allah dalam menciptakan sesuatu dengan seimbang, dan memperkuat keserasian al-Qur’an dengan teori simetrisitas dalam matematika.

Langit dan bumi, sama-sama memiliki tujuh lapisan. Dalam konteks ini, kesepadanan tidak dimaknai sebagai kesamaan bentuk, ukuran, ataupun struktur geometris antara langit dan bumi, tetapi sebagai adanya keteraturan dalam penyebutan jumlah keduanya. Kesimetrisan ini menggambarkan bahwa kekuasaan Allah meliputi langit dan bumi, bukan hanya langit atau bukan hanya bumi. 

Kesimpulannya Q.S. al-Ṭalaq: 12 memperlihatkan adanya kesepadanan numerik antara tujuh langit dan tujuh bumi. Kesepadanan tersebut dapat dibaca sebagai salah satu bentuk keteraturan yang memiliki kesamaan dengan konsep keserasian dalam matematika. Keserasian ini semakin menunjukkan kebesaran Allah dalam menciptakan sesuatu dengan seimbang.

Bagikan: