Keterasingan Sains di Dunia Pesantren: Benarkah Demikian?

Majalahnabawi.com – Benarkah sains terasa asing di pesantren? Pertanyaan sederhana yang ternyata jawabannya tidak sesedarhana itu. Mari kita coba untuk menjawab dan membedahnya di dalam tulisan ini. Kata asing di sini dapat kita artikan minat santri yang rendah akan sains atau pesantren yang memang tidak memasukkan sains di dalam kurikulumnya.
Sebuah penelitian di Pondok Pesantren Al-Anshor menemukan bahwa minat santri akan ilmu umum tergolong rendah. Faktor-faktor yang peneliti identifikasi antara lain kurangnya persiapan, teman sebaya, orang tua, lingkungan dan guru. Peneliti menyebutkan guru sebagai faktor paling berpengaruh. Lalu, pada penelitian komparatif yang terlaksana di Bandung antara 212 siswa sekolah umum dan 208 siswa sekolah Islam berbasis pesantren menunjukkan ketertarikan melakukan sains, motivasi ekstrinsik sains, konsep diri sains, persepsi pelajaran sains, dan nilai umum sains pada siswa berbasis pesantren lebih rendah secara kuantitatif daripada siswa sekolah umum. Penulis juga mencatat adanya perbedaan kondisi pembelajaran seperti alokasi waktu belajar, akses teknologi dan informasi dan fokus kurikulum.
Jika kita berhenti di sini, kita memang menemukan indikasi bahwa rendahnya minat terhadap ilmu umum/sains merupakan persoalan di sebagian lingkungan pesantren. Namun, temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa santri pada umumnya memang tidak berminat terhadap sains. Penelitian lain yang telah ada di Pondok Pesantren Al-Anwariyah Tegal ternyata menemukan kedaan yang berbanding terbalik dari dua penelitian di atas. Minat mereka akan sains termasuk ke dalam kategori baik dengan ciri beberapa aspek berikut, semua siswa mendengarkan materi yang guru sampaikan, datang tepat waktu, dan mencatat apa yang guru sampaikanMeskipun, 63% siswa mendapat nilai di bawah standar dalam artian termasuk kategori sangat kurang.
Dari sini, jelas bahwa persoalannya tidaklah sesederhana santri minat atau tidak akan sains. Lalu mengapa di satu tempat minat akan sains rendah sedangkan di tempat lain sebaliknya? Apakah penyebabnya kemampuan mereka yang tidak memadai? Namun, sebelum menjadikan kemampuan sebagai penjelasan utama kita perlu melihat keberadaan ilmu mantiq dan ilmu falak sebagai tradisi keilmuan pesantren. Manthiq menduduki posisi sebagai ilmu alat dalam kurikulum pesantren. Sedangkan ilmu falak di banyak pesantren salaf dan juga termasuk ke dalam kurikulum pembelajaran. Keduanya bukanlah ilmu yang bisa kita dapat hanya dengan menghafal. Mantiq menuntut ketepatan dan kecermatan santri dalam menyusun sebuah klaim. Ilmu falak menuntut kecakapan santri dalam beberapa perhitungan rumit dan dalam sebagian praktik melakukan pengamatan langsung fenomena langit. Artinya dalam sebagian tradisi keilmuan pesantren, pesantren sebenarnya sudah lama mengajarkan mereka untuk melakukan aktivitas intelektual dan pengamatan empiris.
Jika dari segi minat dan kemampuan bukan peyebab utamanya, maka apakah masalahnya adalah perbedaan pandangan antara ilmu mantiq dan falak yang sudah lama mengakar dan mendudukiebagai tradisi keilmuan dengan sains modern seperti fisika, kimia dan matematika yang kerap kali masyarakat anggap sebagai ilmu umum, bahkan ilmu yang hanya berorientasi dunia? Seandainya memang demikian, semua ini mengantarkan kita kembali ke sebuah pertanyaan mendasar. Bagaimana sebenarnya Islam memandang aktivitas manusia dalam memahami dan membaca alam?
Pandangan Ibn Rusyd (Ringkasan Faṣl al-Maqāl)
Mengenai hal ini Ibn Rusyd menawarkan sebuah kerangka berpikir yang menarik untuk kembali diulas yang ditulis dalam risalahnya Faṣl al-Maqāl fī mā baina al-Ḥikmah wa al-Syarī‘ah min al-Ittiṣāl. Pada bagian awal ia menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan antara syariat dan filsafat. Ia menyoroti bahwasannya filsafat tidak lebih dari sekedar aktivitas mengamati segala sesuatu yang ada (النظر في الموجودات). Dengan konsep seperti ini, maka filsafat bukanlah kegiatan yang benar-benar terlepas atau bahkan bertentangan dengan syariat. Justru banyak sekali teks al-Quran dan sunnah yang mendorong manusia untuk melakukan pengamatan ini. Salah satunya ayat yang berbunyi “فاعتبروا يا أولي الأبصار” dan masih banyak lagi teks-teks syariat semakna.
Dalam pandangannya berfilsafat – melakukan penyelidikan atas segala sesuatu yang ada – justru menjadi salah satu wasilah untuk mengantarkan manusia pada pengetahuan hakiki tentang Penciptanya. Bahkan ia mewajibkannya bagi orang yang mampu – memenuhi dua syarat yaitu kecerdasan alami dan selamat dari kefasikan – sebagai konsekuensi hukum dari dalil-dalil yang ada dalam kitab dan sunnah. Kemudian ia menafsirkan I’tibar sebagai silogisme, yaitu memperoleh pengetahuan baru dari pengetahuan yang sudah ada. Inilah metode yang hanya segelintir orang yang mampu menguasainya dan para ahli menamakannya sebagai metode demonstratif.
Untuk menguasai metode demonstratif Ibn Rusyd mengisyaratkan kita agar kembali menelaah literatur terdahulu bahkan sebelum masa Islam. Baginya metode demonstratif sebagai alat penalaran tidak terhalang oleh sekat keagamaan. Sehingga, tidak masalah mempelajari alat ini dari orang yang tidak seagama dengan kita. Dengan catatan jika terdapat kesalahan kita tetap harus mengoreksinya.
Ibn Rusyd menyadari betul akan ada singgungan antara filsafat dan syariat. Maka ia menawarkan sebuah solusi ketika terjadi gesekan antara lahiriah teks syariat dengan realitas hasil dari penalaran demonstratif dengan melakukan takwil – mengalihkan teks dari makna lahiriah ke makna majaz dengan tetap memerhatikan kaidah kebahasaan –. Ia membagi teks syariat menjadi tiga macam. Pertama teks yang tidak memungkinkan adanya takwil, yaitu yang berkaitan dengan prinsipil syariat. Kedua teks yang memungkinkan adanyamengenai
Terakhir, teks yang memunculkan perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu mengenai melakukan takwil terhadapnya.Pada bagian akhir risalahnya ia menegaskan sebuah analogi bahwa filsafat merupakan sahabat bahkan saudara sepersusuan syariat.
Kontekstualisasi Masa Kini
Kembali ke persoalan hubungan sains dengan satuan pendidikan berbasis pesantren. Filsafat yang diartikan oleh Ibn Rusyd sebagai aktivitas pengamatan terhadap segala sesuatu yang ada (mawjūdāt). Dalam konteks masa kini aktivitas tersebut memiliki irisan kuat dengan berbagai disiplin sains yang secara sistematis mempelajari alam, seperti fisika, kimia, biologi, matematika dsb. bahkan ilmu-ilmu ini tidak terlepas dari salah satu ilmu yang menjadi bagian tradisi keilmuan pesantren yaitu logika (mantiq). Jika kerangka ini kita bawa ke konteks pendidikan masa kini, maka sains dapat dipandang sebagai salah satu bentuk kontemporer dari penyelidikan terhadap alam yang memperoleh legitimasi syariat dalam kerangka Ibn Rusyd. Karena itu bagi santri yang memang mampu untuk menekuni dan mendalami sains, tidak tepat jika sejak awal sains diposisikan sebagai aktivitas yang semata-mata bersifat duniawi.
Sudah sepatutnya anggapan bahwa ilmu umum hanya bersifat duniawi kita hilangkan. Karena ketika ilmu agama bersinggungan dengan realitas material adalah sebuah keharusan menimbangnya dari dua sisi. Sungguh keliru jika yang dijadikan patokan hanya ilmu agama. Sebagai contoh ilmu agama yang paling banyak bersinggungan dengan realitas adalah ilmu fikih. Ketika muncul sebuah fenomena baru, kacamata sains sangat dibutuhkan untuk memahami fakta dari fenomena tersebut lalu dijadikan pertimbangan dalam menentukan hukumnya oleh kacamata fikih. Menghukuminya hanya dengan kacamata fikih hanya akan mengantarkan kita pada misjudging. Karena kesalahan memahami fakta dapat menghasilkan kesalahan dalam menerapkan hukum.
Jika demikian, mungkin pertanyaannya bukan lagi soal apakah agama membutuhkan sains atau sebaliknya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa kita masih memisahkan keduanya dengan batas yang kokoh? padahal dalam salah satu tradisi intelektual Islam, tepatnya kerangka Ibn Rusyd penyelidikan dan pengamatan terhadap alam justru dianggap sebagai salah satu upaya manusia untuk memahami cipataan dan Sang Pencipta.
Wallahu a’lam