“ Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan ; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 168).

Setan dan iblis merupakan simbol kedurjanaan di alam semesta ini. Lambang kedurjanaannya adalah keburukan dan kejahatan serta kedurhakaan terhadap Sang Pencipta. Peran setan maupun iblis di dalam dunia ini sungguh sentral. Mereka menjadi pusat segala keburukan dan menjadi makhluk yang senantiasa menghasut manusia dalam keburukan.

Namun keburukan bukanlah tugas akhir mereka. Iblis dan setan senantiasa menghasut dan memperdaya manusia supaya ikut bersamanya ke neraka. Neraka adalah tujuan akhir mereka dalam upayanya untuk menggoda manusia.

 

Manusia Keluar dari Surga

Hikayat setan dan Iblis dalam menggoda manusia sudah ada semenjak manusia pertama, yaitu Adam As. bersama istrinya (Hawa) berada di surga. Mereka memperdaya Adam dan Hawa untuk memakan buah dari pohon yang dilarang Allah Swt untuk didekatinya (buah Khuldi). Sebagaimana diabadikan di dalam al-Quran :

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata : Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.” (QS. Taha  [20 ]  : 120).

Dalam ayat di atas menunjukkan bahwa setan maupun Iblis menggoda manusia dengan bujuk rayu yang semu dan licik. Mereka senantiasa menghasut manusia untuk melanggar hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Tipu daya setan dan Iblis yang pertama terhadap manusia, yaitu Adam dan Hawa, hanyalah demi mengeluarkan manusia dari surga. Sebagaiman firman Allah SWT :

“ maka Kami berkata : Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.” (QS. Taha [20] : 117).

Bujuk rayu setan dan Iblis akhirnya berhasil melumpuhkan ketaatan Adam dan Hawa terhadap Allah SWT dengan memakan buah Khuldi tersebut. Maka keduanya (Adam dan Hawa) dihukum Allah SWT keluar dari surga dan diturunkan ke bumi, sebagaimana firman Allah SWT :

“Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain.” (QS. Taha [20] : 123).

 

Waspada terhadap Godaan Setan dan Iblis

Maka sudah sepatutnya seorang mu’min dapat lebih mawas diri dan berhati-hati terhadap tipu daya setan yang memperdayai. Dalam menggoda manusia, setan dan Iblis selalu mencari cara-cara yang halus dan tersembunyi. Terkadang seeorang tidak sadar akan dosa-dosa yang disebabkan oleh tipu daya setan.

Karena tindakan setan dan Iblis dalam memperdaya manusia begitu cepat dan samar seperti halnya aliran darah manusia, sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan sahabat Anas bin Malik  ra :

Sesungguhnya setan berjalan (menggoda) kepada anak Adam (manusia) laksana aliran darah. (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Begitu dekatnya setan dan Iblis dalam diri seorang manusia serta begitu cepatnya godaan mereka menjebak manusia. Maka merupakan suatu keharusan bagi seorang mu’min untuk tetap lebih waspada dalam setiap tindakannya agar terhindar dari perangkapnya.

Seorang ulama tasawuf, al-Muhasibi, mengatakan :

“ Ketahuilah, sesungguhnya setan (dan Iblis) menghendaki kebinasaanmu dan menyia-nyiakan amal ibadahmu. Maka tidak ada ketaatan padamu kecuali setan menghendaki kesia-siaanmu dalam ketaatan terhadap Allah SWT dengan tipu dayanya. Dan setan menghendaki kerusakan dalam ketaatan terhadap Allah SWt dengan berbagai macam riya’ (pamer dalam ibadah), ‘ujub (membanggakan diri), takabbur (sombong), dan selainnya yang tidak diketahui kebanyakan manusia.”[1]

Dengan berbagai macam godaan setan dan Iblis yang melingkupi kehidupan manusia,  namun hanya satu tujuan mereka dalam menggoda manusia, yaitu neraka. Hal ini selaras dengan firman Allah  :

“Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir [35] : 6).

 

Macam-Macam Godaan Setan dan Iblis

Yang perlu diketahui adalah macam-macam objek godaan setan kepada seorang manusia yang seluruhnya berupa keburukan dan dosa. Hal ini senada dengan firman Allah :

“ sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji.” (QS. Al-Baqarah [2] : 169).

Ada tujuh tempat atau objek godaan setan dan Iblis kepada seorang manusia sebagaimana disebutkan dalam kitab Mashaibul Insan. Pertama, kekufuran atau kekafiran; kedua, perbuatan bid’ah atau melakukan hal-hal yang tidak diperintahkan Allah dan Rasul-Nya kemudian menetapkannya sebagai syariat ; ketiga, melakukan perbuatan dosa-dosa besar; Keempat, melakukan perbuatan dosa-dosa kecil; Kelima, melakukan perbuatan-perbuatan yang mubah (diperbolehkan secara syariat) yang dapat menyibukkannya (berpaling) dari ketaatan; Keenam, melakukan amal-amal yang diutamakan (al-mafdhulah) dari pada amal-amal yang utama (al-fadhilah). Kemudian yang terakhir (ketujuh) adalah menganjurkan permusuhan serta kemaksiatan.

Dengan mengenal ketujuh objek atau tempat godaan setan dan Iblis di atas maka, insyaallah, membuat seseorang lebih waspada dalam tindakannya bahkan dalam peribadatannya sekalipun. Oleh sebab itu, dengan beragamnya tipu daya setan dan Iblis terhadap manusia menunjukkan bahwa mereka hanya menghendaki manusia dalam kesesatan dan kebinasaan. Dan yang dijanjikan oleh setan dan Iblis hanyalah tipu daya belaka, sebagaiman firman Allah SWT :

“ Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipu daya belaka.” (QS. Al-isra’ [17] : 64).

 

Menjadikan Setan dan Iblis sebagai Musuh

Dengan berbagai godaan setan dan Iblis terhadap manusia menjadi ukti nbahwa setan dan Iblis adalah musuh yang nyata bagi kehidupan manusia. Permusuhan setan dan Iblis dengan manusia merupakan permusuhan yang abadi, karena Allah telah menetapkannya semenjak setan memperdaya Adam dan istrinya untuk memakan buah Khuldi sehingga mengeluarkan keduanya dari surga. Hal ini selaras dengan firman Allah :

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu).” (QS. Fathir [35] : 6).

Menurut al-Ghazali, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk memerangi dan menundukkan setan dan Iblis. Pertama, adalah bahwa setan dan iblis merupakan musuh yang selalu menyesatkan dan menghendaki kebinasaan manusia; Kedua, bahwa setan dan Iblis diciptakan untuk memusuhi umat manusia dan selamanya memerangi (menggoda) manusia.

Oleh sebab itu, peran setan di dunia ini adalah antagonis. Hubungan manusia dengan Allah menjadi terputus dan teralihkan disebabkan hasutannya. Kondisi manusia semakin menjadi terasing dari Allah ketika setan dan iblis menyelubungi jiwa manusia dengan keburukan.

Ruang lingkup godaan setan dan iblis yang berhasil ditimpakan kepada manusia yaitu terhadap orang yang hanya memiliki sedikit ilmu (ilmu agama). Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas r.a :

“Seorang yang faqih (orang yang memiliki pengetahuan mendalam terhadap agama) lebih berat bagi setan dari pada seorang ‘abid (seorang yang beribadah dengan sedikit atau tanpa ilmu).” (HR: Tirmidzi).

 

Secuil Kisah Setan, Iblis, dan Seorang ‘Alim

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas r.a, ia berkata :

“ sesungguhnya para setan mendatangi Iblis, dan mereka berkata kepada Iblis : wahai tuanku ! sungguh kami berbahagia karena kematian seorang ‘alim (seorang yang ilmu agamanya mendalam). Dan kami tidak bersenang hati karena kematian seorang ‘abid (seorang yang beribadah dengan sedikit atau tanpa ilmu). Seorang yang ‘alim tidak memberikan andil, sedangkan seorang ‘abid  memberikan andil (untuk setan). Iblis berkata : Pergilah kepada seorang ‘abid dan datanglah (menggoda) dalam ibadahnya. Dan Iblis memerintahkan setan untuk bertanya kepada seorang ‘abid : Apakah Tuhan-mu kuasa untuk menjadikan dunia di dalam sebutir telur ? maka seorang ‘abid menjawab : aku tidak tahu. Iblis berkata kepada setan : apakah kalian lihat seorang ‘abid telah kufur di dalam jawabannya ?! kemudian setan mendatangi seorang yang ‘alim dan bertanya kepadanya : Apakah Tuhan-mu kuasa menjadikan dunia di dalam sebutir telur ? seorang ‘alim tersebut menjawab : ya (Allah Maha Kuasa). Berkata setan : bagaimana mungkin ? seorang ‘alim tersebut menjawab : Allah berfirman, jadilah maka jadilah ada (kun fayakun). Iblis berkata : seorang ‘alim jelas dapat mengalahkanku.”

Wallahu a’lam bi ash-showab.