‹ Kembali ke Beranda
Hadis · Perempuan

Memahami Hadis Gender: Antara Teks dan Konteks

Oleh Syaula Hanna Nafisah·4 Juli 2026·0
Memahami Hadis Gender: Antara Teks dan Konteks

Majalahnabawi.com – Pembahasan mengenai gender dalam Islam sering kali menimbulkan perbedaan pendapat. Hal ini biasanya terjadi karena sebagian hadis dipahami secara harfiah tanpa melihat latar belakang dan tujuan penyampaiannya. Akibatnya, muncul anggapan bahwa Islam menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki. Padahal, jika dipahami secara menyeluruh, banyak hadis justru mengajarkan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan antara keduanya.

Memahami Hadis Gender

Salah satu hadis yang sering dibahas adalah hadis tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk.

فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خَلَقْتْ مِنْ ضلع وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضَّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تَقِيمُهُ كَسَرتَهُ وَإِنْ تَرَكْتهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

“Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Jika engkau memaksanya menjadi lurus, engkau akan mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, ia akan tetap seperti itu. Maka berbuat baiklah kepada perempuan.” (HR. Bukhari)

Banyak orang memahami hadis ini sebagai bukti bahwa perempuan memiliki kekurangan dibanding laki-laki. Padahal, menurut M. Quraish Shihab dalam Membumikan Al- Qur’an, bahwa istilah “tulang rusuk yang bengkok” tidak harus dipahami secara harfiah. Ungkapan tersebut lebih dekat kepada makna kiasan yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki karakter dan sifat yang berbeda dari laki-laki. Perbedaan itu bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih baik, melainkan agar keduanya dapat saling melengkapi. Melalui hadis ini, Rasulullah justru mengajarkan agar laki-laki memperlakukan perempuan dengan baik dan tidak bersikap kasar kepada mereka.

Hadis lain yang sering menjadi perdebatan adalah hadis tentang perempuan yang disebut “kurang akal dan agama”.

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ

“Aku tidak melihat yang kekurangan akal dan agama dari pemiliki pemahaman lebih daripada golongan kalian..” (HR. Ibnu Majah)

Jika dipahami sekilas, hadis ini dapat menimbulkan kesan bahwa perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Namun, Nabi Muhammad SAW. menjelaskan bahwa yang dimaksud “kurang akal” berkaitan dengan sistem kesaksian yang berlaku pada masa Nabi. Sementara “kurang agama” merujuk pada berkurangnya pelaksanaan ibadah tertentu, tidak dilaksanakannya salat dan puasa ketika perempuan sedang haid. Hal tersebut tidak menunjukkan bahwa perempuan kurang cerdas atau kurang beriman. Sebaliknya, itu adalah bagian dari ketentuan syariat yang memang diberikan kepada perempuan sesuai kondisi biologisnya.

Memahami Konteks Hadis

Nasaruddin Umar dalam Bias Jender dalam Penafsiran al-Qur’an menegaskan bahwa banyak ketimpangan gender muncul akibat cara penafsiran yang dipengaruhi budaya patriarki, bukan karena ajaran Islam itu sendiri. Oleh sebab itu, hadis-hadis yang berkaitan dengan perempuan perlu dipahami dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan sejarah yang melatarbelakanginya.

Dari kedua hadis tersebut dapat dipahami bahwa pemahaman hadis tidak cukup hanya melihat teksnya saja. Diperlukan pemahaman yang lebih luas dengan memperhatikan konteks dan tujuan hadis itu disampaikan. Dengan begitu, hadis-hadis tentang gender tidak lagi dipandang sebagai bentuk diskriminasi, melainkan sebagai ajaran yang mengarahkan laki-laki dan perempuan untuk saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menjalankan perannya masing-masing dengan sebaik-baiknya.

Bagikan: