opini

Membaca Peta Pikiran Kaum Salafi dari Kacamata Histori

Membaca Peta Pikiran Kaum Salafi dari Kacamata Histori

Resensi Buku Oleh:

M. Badruz Zaman

Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang/Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora Pascasarjana UIN Walisongo Semarang badruzys17@gmail.com

Judul

: Teologi Muslim Puritan Genealogi dan Ajaran Salafi

Penulis

: Dr. Arrazy Hasyim, MA.

Penerbit

: Yayasan Wakaf Darus-Sunnah

Terbit

: Cetakan Ketiga, November 2019

Tebal

: xviii + 323 halaman; 15 x 23 cm

Diskursus teologi di kalangan muslim, sama tuanya dengan kelahiran Islam sebagai agama (yang bermakna) legal-formal, ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Perbincangan ini semakin hangat dengan tersebarnya hadis prediktif-futuristik bahwa umat Nabi akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan selamat.

Hadis tersebut berimplikasi pada sikap eksklusif dan truth claim (klaim kebenaran) dari masing-masing kelompok beragama di internal Islam sendiri. Semuanya mengaku mengikuti jejak Nabi dan para sahabatnya. Dari sana, dikenal istilah Ahlus as-Sunnah wa al-Jamâ’ah -kelompok/umat yang mengikuti sunnah nabi dan sahabatnya- (Aswaja). Tidak terkecuali kelompok muslim yang menamakan dirinya sebagai kaum salafi, mereka juga mengaku sebagaiaswaja.

Hadirnya buku “Teologi Muslim Puritan Genealogi dan Ajaran Salafi” sebagai hasil jerih payah tenaga dan pikiran dari Dr. Arrazy Hasyim, MA. Dosen muda Fakultas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, akan mengantarkan para pengkaji studi Islam menjadi lebih tercerahkan dalam memahami peta pikiran sekaligus persebaran ajaran salafi yang diruntut secara historis.

Penulis juga merupakan pengajar (ustaz) di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences. Selain itu, beliau juga merangkap pengabdian keilmuannya di Program Pascasarjana Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ)Jakarta.

Perjalanan panjang kaum salafi menjadi lebih terasa dekat dengan pembacanya. Sebab, penulisnya sendiri pernah mengarungi samudera ilmu pengetahuan dan pemikiran dari mereka, meski tidak lama. Arrazy Hasyim juga merupakan murid dari KH. Ali Mustafa Yaqub yang notabene menjadi murid dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz, ulama estafet perjuangan kelompok salafi abad ke-20.

Sekalipun begitu, aliran darah Kiai Ali yang kemudian menjadi laku hidupnya, tidak semuanya mengafirmasi muslim puritan. Barangkali di sini adalah kecerdasan beliau dalam memahami teks-teks agama, semacam teologi, tafsir, hadis, fikih, dan sebagainya. Sehingga tidak berlebihan kalau buku ini kemudian banyak tersentuh dari pemikiran Kiai Ali MustafaYaqub.

Baca Juga:   Nabi dan Lima Jangkar Dakwahnya

Mengawali “ngopi” (Ngobrol Pemikiran Islam) ala kelompok salafi, penulis menyajikan tiga konsep yang seringkali dilabeli kepada kaum salafi. Ketiganya adalah puritan, fundamentalis, dan radikal. Kaitannya dengan istilah puritan, kelompok muslim salafi terbagi menjadi dua karakter. Pertama, puritan yang pergerakannya melalui jalur pemurnian ajaran dengan memproduksi berbagai literatur, baik cetak maupun elektronik-digital.

Namun, mereka terjebak dengan romantisme masa emas kenabian dan para sahabatnya. Jenis yang kedua, lebih menerapkan pada militansi yang berbasis politik, organisasi, pendidikan, cenderung pada paham takfîrî (tuduhan kafir), tabdî’ (tuduhan bid’ah), dan taḍlîl (tuduhan sesat). Tidak segan mereka menggunakan aksi teror dan kekerasan atas nama pemurnian agama(jihadis).

Sajian selanjutnya adalah penjelasan tentang perjalanan panjang lahirnya teologi salafi, perluasan wilayah yang dijangkau beserta para tokoh-tokohnya, sampai pada dinamika kelompok salafi di tengah kehidupan modern. Nama besar Imam Ahmad bin Hanbal, pemegang hak cipta kitab Musnad Ahmad, menjadi tokoh pemula penggagas pemurnian agama.

Dalam hal ini, ruang diskusi yang berlangsung yaitu antara ahli hadis, seperti diwakili Imam Ahmad bin Hanbal dan paham Mu’tazilah yang lebih mendewakan rasio sekaligus menjadi teologi yang dipegang istana kala itu, Dinasti Abbasiyyah. Imam Ahmad bin Hanbal dengan kedalaman keilmuannya, banyak mendapatkan dukungan ketika pemerintahan dipimpin oleh Khalifahal-Mutawakkil.

Madrasah Ahmad bin Hanbal yang berpusat di Baghdad, banyak mewisuda ulama yang membawa ajaran salafi ke pelosok kota sampai keluar wilayah Baghdad. Beberapa tokoh yang cukup berpengaruh seperti Abu Bakar al-Mawarzi di Baghdad, Usman bin

Said ad-Darimi, sebagai rujukan agung teologi salafi berdomisili Khurasan. Di Damaskus, genealogi salafi semakin cerah dengan lahirnya Ibnu Qudamah dan Syaikh al-Islam, Ibnu Taymiyah. Ulama yang disebut terakhir ini menjadi yang paling besar dirujuk oleh kaum salafi.

Dari tangan Ibnu Taimiyah pula, salafi memiliki karakter khasnya yaitu trilogi tauhid.Ketiganya adalah tauḥîd rubûbiyyah, tauḥîdul ûhiyyah, dan tauḥîd al-asmâ’ wa aṣ-ṣifât. Doktor ilmu kalam ini kemudian menggambarkan sosok Ibnu Taymiyyah sebagaiberikut:

Baca Juga:   Menjunjung Khidmat di Era Milenial

“Pengaruhnya dalam ranah teologis tidak hanya kepada kalangan Ḥanābilah, tetapi juga kepada pengikut mazhab lainnya, bahkan mereka yang berteologi Ash‘arīyah. Sebagai contoh, dari kalangan pengikut al-Shāfi‘īyah dan Ash‘arīyah terdapat Ibn Kathīr pengarang tafsīr IbnKathīr”

Salah satu murid pentolan Ibnu Taymiyah adalah Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Pemahaman teologi salafi yang menjiwainya, melempar banyak kritik terhadap aliran Asy’ariyah, Mutazilah, dan Jahmiyah. Kritiknya tersebut dituangkan dalam karyanya yang   berjudul   Ijtimâ   al-Juyûshal-Islâmiyyah   ‘alâ   Ghazwal-Mu‘aṭṭilah   wa-al-Jahmiyyah.

Masuk pada wilayah Arab Saudi, yang kemudian menjadikan teologi salafi sebagai ajaran resminya, semakin membuka kran pemikiran kaum salafi. Di sini, lahir beberapa tokoh besar, di antanya Muhammad bin Abdul Wahhab (pendiri Wahabi), Abdul Aziz bin Bâz, dan Salih al-Fauzan.

Tiga ulama iniyang banyak mengaliripaham salafi-wahabi di Indonesia. Beberapa mahasiswa asal Indonesia yang belajar ke sana dan mempelajari tiga tokoh tersebut, ada yang kemudian melestarikan aliran salafinya melalui lembaga pendidikan dan pondok pesantren setelah pulang ke kampung halaman.

Ada satu tokoh lain yang juga menjadi muara para kaum salafi, tetapi tidak termasuk dalam bagian genealogi keilmuan seperti ulama-ulama pendahulunya. Tokoh ini adalahNasiruddin al-Albani, ulama modern yang banyak concern di bidang hadis.Al-Albani menempuh jalan otodidak untuk mengkaji berbagai keilmuan, seperti hadis, teologi dan lainnya.

Buku ini memvisualisasikan perjalanan kelompok muslim salafi melewati zaman demi zaman. Namun, terlepas dari uraian panjang dari ustaz Darus-Sunnah tersebut, dan nilai sempurna yang tidak bisa diraih oleh makhluk, maka ada beberapa yang menurut

reviewer penting untuk ditambahkan. Misalnya, pada konsep tawassul (subtema edisi revisi). Di sana, dijelaskan konsep tawassul dan pandangan dari salafi yang cukup banyak. Sayangnya, penulis hanya menyimpulkan pendapat dari salafi saja. Penulis belum memberikan pandangannya terkait konsep tawassul.

Akhirnya, buku yang disulap dari disertasi sang penulis ini cukup menjadi rujukan awal bagi para pengkaji teologi Islam, wabilkhuṣûṣ terkait dengan kelompok muslim puritan. Pembahasannya disaji secara periodik dari awal kemunculannya hingga masuk ke Indonesia. -WallâhuA’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.