‹ Kembali ke Beranda

(Mem)Budayakan Membaca, (Me)Lestarikan Menulis

Oleh Admin·11 Maret 2017·53
(Mem)Budayakan Membaca, (Me)Lestarikan Menulis

Oleh: M. Syarofuddin Firdaus

Sebagai seorang akademisi, kiranya telah menjadi kesepakatan bersama akan keharusan memperluas cakrawala pengetahuan guna meneguhkan identitasnya yang sedang bergumul dengan berbagai macam ilmu pengetahuan. Terlebih menyandang status tambahan yang masa aktifnya berlaku sepanjang hidup di dunia; [maha]santri. Ya, begitulah kira-kira yang familiar di kalangan pesantren bahwa santri adalah identitas abadi! (Selanjutnya akan disebut pelajar karena dianggap lebih menengahi dalam penyematan nama antara akademisi dan [maha]santri).

Seorang pelajar dituntut untuk menimba ilmu sebanyak mungkin, tanpa batas dan tanpa pengecualian. Segala macam disiplin ilmu dibolehkan ditimba bagi setiap pelajar. Meskipun pada nyatanya hal tersebut tetap kembali kepada minat masing-masing. Dan tak jarang juga akan adanya kesadaran dalam diri seorang pelajar terhadap batas kemampuan otak yang dimilikinya dalam menerima suatu pengetahuan, sehingga ia hanya mempelajari beberapa saja dari sekian banyak bidang disiplin ilmu yang ada.

Selain fakta tersebut, hal lain yang dijadikan pembatas akan mempelajari berbagai disiplin ilmu adalah adanya pemetakan disiplin ilmu itu sendiri di lembaga pendidikan, terutama di perguruan tinggi/universitas. Akibatnya tak sedikit dari sekian banyak pelajar yang hanya memfokuskan dirinya pada materi-materi yang disuguhkan oleh pihak universitas. Hal itu secara tidak langsung membatasi dirinya untuk tidak menimba ilmu pengetahuan lainnya, yang secara otomatis juga menciptakan semacam jurang pemisah yang semakin menggalinya semakin lebarlah jurang tersebut. Ketika benar-benar lebar, maka ia tidak dapat melihat sesuatu yang berada di seberang jurang tersebut. Artinya, pengetahuannya hanya sebatas apa yang tertera pada materi tersebut, dan buta terhadap pengetahuan yang lain.

Dari sinilah kemudian kesadaran membaca  harus digalakkan. Membaca dalam arti menimba ilmu pengetahuan yang tersebar di berbagai korpus setiap disiplin ilmu. Dengan tidak menggubris pada status pelajar suatu disiplin ilmu yang sedang disandang. Serta bukan hanya sekadar untuk menyelesaikan tugas belaka, yang kerap dikenal sebagai pragmatisme. Dengan membuka diri pada segala macam disiplin ilmu, rasa keingin-tahuan yang menggumpal untuk menghilangkan kebodohan dan kegoblokan,  maka membaca merupakan jalan yang tepat untuk mewujudkannya.

Tentu membaca di sini bukan hanya membaca quotes yang bertebaran di media sosial. Juga tidak hanya melalui tulisan-tulisan yang tertera di berbagai situs website, yang sebagian besar tidak dapat dipertanggungjawabkan baik kebenaran maupun keilmiahannya. Maka, lebih dari itu membaca di sini adalah membuka lembaran-lembaran yang berisikan ilmu pengetahuan yang telah diwariskan oleh para pendahulu, baik yang mendahului bertemu dengan Tuhannya maupun yang mendahului melakukan eksplorasi dalam menitih keilmuan di berbagai bidang.

Membaca dalam arti mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan dengan tanpa membatasi pada satu disiplin ilmu saja. Oleh karenanya, benarlah kiranya apa yang dikatakan pepatah: membaca adalah jendela dunia.

Bahkan, di suatu diskursus tertentu membaca bukan hanya terbatas pada lembaran kertas saja. Membaca terhadap sebuah fenomena, fakta sosial, kondisi suatu negara seperti politik dan ekonominya, juga dapat dikategorikan membaca dalam artian lebih luas. Namun pembacaan semacam itu lebih mengarah pada penerapan teori yang terdapat pada lembaran kertas. Dengan menjadikan teori sebagai ‘alat untuk membaca’ objek yang dalam hal ini adalah situasi dan kondisi sosial. Maka, lahirlah tulisan-tulisan sebagai bentuk ekspresi atas penyesuaian antara teori dan fakta. Seperti opini, puisi, bahkan dinarasikan dalam bentuk cerita guna memudahkan pemahaman bagi pembacanya.

Jadi, ketika rasa penasaran meningkat, dan kesadaran akan ketidaktahuan semakin menyadarkan diri seorang pelajar, maka membaca merupakan solusi terampuh baginya. Bahkan membaca bisa menjadi semacam obat penawar tatkala ia dilanda penyakit. Ya tentu penyakitnya sekadar semisal demam dan pusing. Maka kata-kata yang tersusun di lembaran kertas menjadi obat yang lebih ampuh ketimbang obat yang terbuat dari bahan kimia. Entah ini benar atau tidak menurut ilmu kesehatan, yang jelas begitulah kira-kira pengalaman yang dialami oleh para kutu buku –meski tidak keseluruhan. Jadi, jika menderita penyakit semacam di atas namun membaca tidak mampu menyembuhkannya, maka kecintaannya terhadap pengetahuan belum totalitas.

Tahap selanjutnya, setelah membaca menjadi semacam kebutuh primer bagi kelangsungan hidup seorang pelajar, yang mampu mempertahankan eksistensi identitasnya di dalam dunia pendidikan, adalah menulis sebagai sebuah wadah dalam menuangkan isi (baca: pengetahuan) yang berada di dalam otaknya, yang akan mentransfer pengetahuannya kepada lainnya. Artinya ketika otak telah banyak dijejali berbagai macam pengetahuan, maka secara otomatis ingin rasanya mengeluarkan apa yang mengusik di dalam pikirannya.

Contoh sederhananya adalah seperti orang yang selalu update terhadap berita. Entah menerimanya melalui media online maupun media cetak. Nah, ketika berita yang diterima adalah suatu hal yang mengganjil, misalnya, secara spontan akan disebarkan kepada orang lain. Sedangkan orang lain yang juga mengetahui berita tersebut akan menanggapinya. Sedangkan yang tidak mengetahui hanya menjadi pendengar setia saja.

Akan tetapi tentu berbeda antara berbicara dengan menulis. Meskipun sama-sama bertujuan untuk menghilangkan unek-unek yang menggumul di dalam pikiran, tapi dengan menulis kepuasaan lebih nikmat ketimbang berbicara. Rasa lega akan mengalir di dalam tubuh layaknya mahasiswa diberi tugas yang cukup njelimet oleh dosen killer namun pada akhirnya rampung tepat waktu. Ya, sederhananya menulis merupakan bentuk tanggungjawab atas pengetahuan yang dimiliki, yang seakan-akan menjadi beban moral dalam dunia pendidikan jika tidak sampai memiliki satu buah karya tulisan.

Menulis akan membantu merapikan alur berpikir, sehingga semakin banyak menulis maka alur berpikirnya akan semakin sistematis. Dalam artian wawasan pengetahuan akan tercermin dalam tulisan yang dituangkan. Serta nuansa analitis plus kritis akan kelihatan berdasarkan gagasan-gagasan yang ditampilkan pada tulisan tersebut. Dan tentunya sebuah tulisan akan dikenang sepanjang sejarah peradaban manusia, meskipun penulisnya telah meninggal dunia.

Sebagaimana perkataan salah satu budayawan tersohor di Indonesia, Tetralogi Buru sebagai karya paling fenomenal hingga diterjemahkan ke beberapa bahasa asing, Pramoedya Ananta Toer di dalam buku Bumi Manusia: “Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Maka terealisasilah perkataannya itu. Mas Pram (sapaan akrabnya) dikenal bukan hanya di nasional saja, bahkan kancah internasional pun tahu akan budayawan Indonesia satu ini. Serta meskipun dia telah wafat, tapi karya-karyanya tetap dinikmati oleh kebanyakan para penggiat kajian di pojokan kampus-kampus se-Indonesia.

Tidak hanya mas Pram, para pelajar yang produktif juga dikenal dan karya-karyanya dibaca oleh orang-orang setelahnya. Hal ini telah dibuktikan oleh para ulama’ terdahulu, para orientalis juga, serta para kyai dan cendekiawan muslim Nusantara yang telah mewariskan ribuan buku bacaan untuk dikaji, dikritisi, dan dikembangkan oleh orang-orang setelah mereka. Lagi pula mereka dikenal hingga saat ini hanya karena satu; produktufitasnya dalam menulis. Tentu itu semua atas hasil ketekunan mereka dalam membaca karya-karya sebelumnya, atau juga membaca terhadap fenomena-fenomena seperti yang dilakukan oleh seorang budayawan dan sastrawan, yang kemudian ditorehkan dalam bentuk kata-kata dengan pilihan diksi yang memukau.

Jika dikatakan, “ah, itu kan mereka, beda zaman dengan kita sekarang. Keterpautan masanya cukup jauh antara kita dengan mereka.” Baiklah. Akan disodorkan contoh lainnya yang memiliki karya lumayan banyak, yang menurut perhitungan terdapat sebanyak 47 karya. Beliau dikenal sebagai ulama Hadis Nusantara masa kini, namun pada tahun kemarin telah dipilih oleh Sang Kekasihnya untuk menemui-Nya.

Ayahanda Pak Yai Ali Mustafa Yaqub, selaku pendiri dan pengasuh pertama pesantren luhur ilmu Hadis Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences di Ciputat, Tangerang Selatan. Tak pernah jemu dan lelah beliau selalu mengingatkan dan mengajak para santrinya untuk menulis, menulis, dan menulis. Beliau sampai “memplintir” ayat yang awalnya berbunyi: ولاتموتن إلا وأنتم مسلمون menjadi: ولاتموتن إلا وأنتم كاتبون. Guna menyemangati para santrinya untuk membuat karya tulisan. Tak lain tujuannya adalah agar pengetahuan yang dimilikinya dapat tersalurkan dan dibaca oleh khalayak meskipun telah meninggal dunia kelak.

Ucapan beliau sangat ampuh sehingga banyak dari santri-santrinya menghasilkan beragam jenis karya tulisan. Mulai dari yang bersifat ilmiah, baik bernuansa keagamaan maupun tidak, hingga bersifat fiksi seperti novel, cerpen, dan puisi. Mulai dari sekadar menulis di portal hingga menjadi utuh sebuah buku yang layak dikonsumsi oleh khalayak. Itu semua tak lain merupakan terinspirasi dari ucapan sang guru, bapak ideologis mereka, Pak Yai Ali Mustafa Yaqub rahimahullah.

Tentu, lagi-lagi perlu ditegaskan di sini bahwa menulis hanyalah sebuah wadah. Sedangkan isi untuk memenuhi wadah tersebut adalah membaca. Jadi, membaca dulu baru menulis. Biasakan membaca terlabih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan melestarikan tradisi para ulama dan ilmuan sebelumnya; berkarya dalam bentuk tulisan.

Karena hanya dengan membacalah wawasan semakin bertambah, dan menulis merupakan cara untuk mengasah nalar dan menganalisa wawasan tersebut!

Bagikan: