Artikel Utama

Meneladani Aktifitas Ramadhan Rasulullah

Avatar Written by Kenang Nurullah · 6 min read
Ramadan adalah bulan suci yang dinantikan oleh umat Islam. Dengan berbagai tradisinya, umat Islam di seluruh dunia menyambut bulan ini, karena bulan Ramadan adalah bulan penuh rahmat, bulan diturunkannya al-Qur’an, juga bulan di mana satu di antara sekian malamnya lebih baik dari seribu bulan, hingga umat Islam memperbanyak menunaikan ibadah di bulan ini. Ibadah itu baik secara individual berupa salat sunnah, tadarus al-Qur’an, maupun dengan berdzikir di masjid. Selain itu juga ibadah sosial di momen puasa seperti menyediakan berbuka, menyumbangkan sebagian hartanya ke panti asuhan dan banyak lainnya.

Dengan berbagai dinamikanya, Ramadan selalu indah untuk ditunggu dan dirayakan. Masjid-masjid mulai ramai dipadati umat Islam pada bulan Ramadan adalah salah satu tanda kebahagiaan umat Islam menyambut bulan istimewa ini. Mulai semaraknya lantunan kalam ilahi dari pengeras suara masjid, dan berbagai fenomena lain yang hanya ada pada bulan Ramadan, menandakan bahwa umat Islam selalu bahagia dalam menyambut Ramadan. Bahkan pada awal bulan pun ada saja yang berdoa untuk dapat merasakan Ramadan di tahun berikutnya, padahal Ramadan saat itupun masih panjang, tak lain adalah karena Ramadan selalu indah.

Dengan berbagai fadhilah (keutamaan)nya, marilah kita simak bersama bagaimana Rasulullah menyikapi bulan Ramadan, apa saja amalan Rasulullah yang akan bermanfaat banyak bagi kita, karena Rasulullah adalah suri tauladan yang patut kita contoh, khususnya dalam hal ibadah. Seperti firman Allah SWT:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ( ال عمران : 310 )

Artinya : Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku  (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( Ali Imran : 31 )

Dengan mengikuti Nabi Muhammad, niscaya Allah akan mencintai kita sebagaimana Allah mencintai beliau. Berikut beberapa amalan Rasulullah dalam tradisi Ramadan:

Tadarus al-Qur’an

عَن ابْنِ عَبّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : كَانَ النّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالَخيْرِ وَأَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ لِأَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فَي شَهْرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يُعْرَضُ عليه رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم القُرْآنَ فَإذَا لَقِيَهُ جِبْريْلُ كَانَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِن الرِّيْحِ المُرْسَلَةِ.

Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata: Nabi Saw..adalah orang yang paling dermawan dalam melakukan kebajikan, lebih-lebih pada bulan Ramadlan, karena malaikat Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadansampai Ramadanhabis. Nabi Saw.. membacakan al-Qur’an kepada malaikat Jibril. Saat Jibril menemui Nabi Saw.. beliau adalah orang yang paling dermawan dalam melakukan kebajikan bagaikan angin yang kencang. ( HR. Bukhari )

Tadarus secara etimologi berarti saling mempelajari. Yang dimaksud di sini, yaitu saling mempelajari al-Qur’an dengan membacakannya di hadapan orang lain. Seperti yang kita tahu saat ini, kegiatan tadarus telah menjadi adat umat muslim khususnya pada bulan Ramadan, biasanya kegiatan ini dilakukan dengan membentuk sebuah majelis yang berisikan beberapa orang, lalu setiap orang mendapat giliran membacakan al-Qur’an di hadapan yang lainnya.

Ternyata, tadarus ini dipraktekkan pertama kali oleh Rasulullah Saw, Seperti yang tertera dalam Hadis tersebut, bahwa setiap bulan Ramadanmalaikat Jibril turun untuk menemui Rasulullah Saw. dan membacakan al-Qur’an kepada Rasulullah Saw., setelah itu Rasulullah SAW. pun membacakannya kepada malaikat Jibril untuk memastikan kebenaran bacaan Rasulullah Saw.. Metode seperti ini biasa dikenal dengan talaqqi, seorang guru membacakan dan menjelaskan sebuah materi dan murid mendengarkan atau seorang murid membaca sebuah teks dan seorang guru mendengarkannya seraya mengoreksi bacaan murid jika terdapat kesalahan.

Namun menariknya, tadarus Rasulullah SAW. dengan malaikat Jibril tidak hanya saling membacakan al-Qur’an di antara keduanya, melainkan juga dengan mempelajari dan mendalami makna tadarus itu sendiri, sehingga al-Qur’an tidak hanya tersimpan dalam hafalan saja, pun juga tersimpan di dalam hati Rasulullah SAW.. Seperti yang dikatakan Aisyah Ra. bahwa akhlak Rasulullah Saw. adalah akhlak al-Qur’an, karena Rasulullah tidak hanya membaca al-Qur’an saja, melainkan juga mengamalkannya dalam keseharian.

Al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci pun juga kitab bermuatan ilmu multidisipliner patutnya tidak hanya dibaca saja, seperti buku-buku pengetahuan yang jika hanya kita baca tanpa mendalami maknanya, tidak akan menambah penguasaan kita terhadap ilmu pengetahuan tersebut. Akhirnya ilmu pengetahuan tersebut tidak akan terserap ke dalam pikiran maupun perbuatan.

Baca Juga:   Antara Prioritas Ibadah dan Sosial

Kembali ke masa Rasulullah Saw.. Dalam tadarus yang dipraktekkan Rasulullah Saw. dengan malaikat Jibril, juga dipraktekkan oleh beliau bersama para sahabat. Sahabat-sahabat Rasulullah berkumpul dalam sebuah majelis lalu Rasulullah Saw. membacakan al-Qur’an kepada mereka, selanjutnya Rasulullah Saw. menjelaskan hikmah-hikmah dan rahasia keutamaan yang tersimpan di dalam ayat tersebut. Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Nabi berkata: “lelaki dari golongan kami, apabila mempelajari sepuluh ayat maka tidak akan melewatinya sampai dia mengetahui makna dan mengamalkannya”. Ada pepatah: Barang siapa menanam, ia akan menuai, maka tak aneh masa dimana Rasulullah SAW. hidup adalah masa generasi terbaik. Di samping faktor keberkahan dan kedekatan dengan Nabi, keseriusan dan semangat para sahabat dalam mempelajari al-Qur’an menjadikan mereka disebut “sebaik-baik generasi”. Rasulullah SAW. bersabda:

عن عِمْرَان بْن حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.

“Sebaik-baik umatku adalah yang orang-orang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka” ( HR. Bukhori)

Berkat Rasulullahlah lahir generasi-generasi hebat, seperti sahabat Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Abbas, Zaid bin Tsabit serta masih banyak sahabat lain yang faqih dalam agama. Sayangnya, tradisi tadarus saat ini hanya mengutamakan aspek kuantitas yang terfokuskan dalam hal “yang penting khatam”. Tentu ini agak berbeda dengan tradisi tadarus yang dipraktekkan Rasulullah SAW. dengan para sahabat yang lebih mengutamakan kualitas dari kuantitas. Jika memang belum benar-benar mendalami ayat yang disampaikan, para sahabat tidak ingin melanjutkan ke ayat yang selanjutnya, hal ini agar al-Qur’an bukan hanya sebatas hafalan melainkan juga sebagai amalan untuk mendapatkan keberkahan.

Semangat dalam berinfak

Tak diragukan lagi bahwa Rasulullah Saw. adalah orang paling dermawan, segala harta yang dimiliki bukan semata-mata dinikmati sendiri, melainkan untuk umat Islam. Bahkan Rasulullah Saw. mengatakan: “Aku adalah wali bagi yang tidak memiliki wali”. Maksudnya adalah tanggung jawab seseorang yang tidak memiliki wali atau orang yang menanggung hidup, benar-benar menjadi tanggung jawab Rasulullah Saw., entah dalam hal sandang maupun pangan. Demikianlah kedermawanan beliau hingga sifat itu diteladani sahabat, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq juga sahabat lainnya.

Syeikh Amin Salim al-Kurdi, ketua Majelis Fatwa Lebanon mengatakan: “Rasulullah Saw. bukan seorang yang fakir walaupun beliau mengikatkan batu pada perutnya untuk menahan lapar. Rasulullah Saw. tidak mungkin fakir karena Allah Swt maha kaya, Allah Swt tidak akan membiarkan kekasih-Nya dalam kemiskinan atau kefakiran. Rasulullah Saw. memang menahan lapar dengan mengikatkan batu pada perutnya, analisa pendeknya Rasulullah Saw. tidak memiliki sesuatu untuk dimakan, yang mengindikasikan bahwa Rasulullah Saw. fakir. Akan tetapi, hal itu tidak benar adanya, karena Rasulullah Saw. melakukan itu semua atas landasan semangat dalam berinfak, kesemangatan Rasulullah SAW. dalam berinfaklah yang membuat Rasulullah Saw. sendiri lupa akan dirinya. Bahkan istri-istri Rasulullah Saw. meminta nafkah tambahan kepada Rasulullah Saw. dikarenakan mereka merasa nafkah yang diberikan Rasulullah Saw. belum cukup.” ujar Syekh Amin.

“Ketika itu pula Allah memberi pilihan kepada Nabi, jika mereka menginginkan dunia dan perhiasannya maka Allah menyuruh Rasulullah untuk menceraikan istri-istrinya; tapi jika mereka mengharap Allah dan Rasul-Nya serta kedamaian di akhirat Allah menyediakan pahala besar bagi mereka. Sebab cinta mereka terhadap agama, istri-istri Rasulullah lebih memilih Allah dan Rasul-Nya dibandingkan dunia dan isinya.” imbuhnya.

Ada sebuah cerita menarik berkaitan dengan Rasulullah Saw. dan ikatan batu di perutnya. Suatu ketika para sahabat datang menghadap kepada Rasulullah Saw. dan mengadu bahwa mereka sangat lapar, lalu mereka membuka baju mereka dan mengatakan: “Wahai Rasul, kami dalam keadaan yang sangat lapar hingga kami mengikat perut kami dengan sebuah batu”. Menanggapi hal itu, Rasulullah Saw. hanya tersenyum lalu mengangkat bajunya. Tanpa sepatah kata, Rasulullah Saw. memperlihatkan perutnya, ternyata batu yang terdapat di perut Rasulullah Saw. ada dua: hal ini mengindikasikan bahwa Rasulullah Saw. lebih lapar dibandingkan para sahabat ketika itu. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad

Rasulullah adalah seorang dermawan, yang begitu besar kecintaannya terhadap umat membuat Rasulullah semangat dalam berinfak. Dan kesemangatan Rasulullah SAW. bertambah ketika bulan Ramadan tiba, sebagaimana yang tertera dalam Hadis di atas, bahwa kedermawanan itu bertambah juga berkali lipat, mengutip dari kitab Faidlul Bari karya Syeikh Muhammad Anwar al-Kasymiri. Hal itu dikarenakan bulan Ramadan adalah bulan berkah juga kebaikan. Nikmat Allah untuk hamba-Nya bertambah pada bulan tersebut di atas bulan lainnya. Karena itulah Rasulullah SAW. lebih semangat dalam berinfak di bulan Ramadlan.

Baca Juga:   Ketika Kita Menahan Amarah, Kitalah Pemenangnya

Qiyam Ramadan( salat Tarawih)

Tarawih secara etimologi adalah jamak dari tarwihah yang bermakna mengistirahatkan, disebut salat tarawih karena dalam salat tersebut disela-selai dengan istirahat minimal tiga kali, jika dua kali, salat tersebut secara bahasa bermakna salat tarwihatain bentuk kedua dari tarwihah.

Istilah tarawih diambil dari perkataan Aisyah Ra istri Rasulullah Saw. seperti yang diriwayatkan imam Baihaqi, Aisyah mengatakan, “Nabi Saw. salat malam empat rakaat, kemudian yatarawwah (istirahat), kemudian salat lagi panjang sekali. Padahal sebelumnya salat tarawih lebih dikenal dengan istilah qiyam Ramadanberdasarkan kepada Hadis-Hadis Rasulullah Saw..

Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai jumlah bilangan rakaat salat tarawih, tidak menghilangkan keistimewaan tarawih itu sendiri, yang mengerjakan delapan rakaat silahkan, dan yang ingin mengerjakan dua puluh rakaat silahkan, tidak ada Hadis sohih yang menjelaskan jumlah bilangan salat tarawih Rasulullah SAW., keutamaan yang paling penting terdapat dalam Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab sahihnya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا واحْتِساباً غُفِرَ لَهُ ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ.

Rasulullah SAW. bersabda: “siapa yang menjalankan qiyam Ramadankarena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya ( yang kecil) yang telah lalu akan diampuni.(HR Bukhori)

Berapapun rakaat yang kita dirikan, dua puluh, delapan atau berapa saja, jika dengan niat yang baik, maka tidak menutup kemungkinan Allah akan mengampuni dosa-dosa (kecil) kita yang telah lampau. Perbedaan dalam rakaat hanya dalam masalah afdholiyah saja, dua puluh dengan ikhlas nan khusyuk dibanding delapan rakaat dengan terpaksa dan tergesa-gesa, maka delapan rakaat lebih utama dibanding dua puluh rakaat. Kunci yang diberikan Rasulullah Saw. untuk kita adalah keikhlasan yang dilandaskan dengan iman dan tanpa mengharap apapun kecuali pahala dari Allah Swt.

I’tikaf

عن عاءشة رضي الله عنها قالت : كان النبي صلى الله عليه وسلم إِذَا دخل العشرُ مِن رمضان الأواخر شذّ مئزره و أحي ليله و أيقظ أهله.

Nabi Saw. apabila masuk sepuluh hari akhir bulan Ramadlan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (HR. Bukhori)

Rasulullah Saw. sangat giat dalam hal ibadah, bahkan kaki beliau hingga bengkak karena saking lamanya salat dan banyaknya rakaat salat yang beliau kerjakaan. itu semua beliau lakukan semata-mata hanya untuk mendapatkan ridha Allah Swt.

Bulan Ramadan merupakan bulan mulia, dikarenakan banyaknya kemuliaan di dalamnya, bulan Ramadan sangat istimewa dibandingkan bulan lainnya. salah satu keistimewaannya adalah lailatul qadar. Lailatul qadar merupakan satu malam yang mana fadhillahnya lebih baik dari seribu bulan. Lailatul qadar terjadi pada malam tanggal ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan, hingga Rasulullah SAW. menambah kualitas ibadahnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan ini. Salah satunya dengan I’tikaf di masjid.

I’tikaf adalah kegiatan menetap pada masjid untuk beribadah, dengan berdzikir, membaca al-Qur’an dan berbagai ibadah lainnya yang biasa dilakukan di masjid. Ataupun i’tikaf dapat berupa hanya menetap pada sebuah masjid. Karena masjid merupakan rumah Allah, dengan menetap di rumah Allah pun sudah mendapat keutamaan walaupun tidak sebanyak i’tikaf yang dibarengi ibadah sunah lainnya. Keutamaan ini pun didapat dari sebuah hadis yang muttafaq alaih bahwa salah satu golongan yang mendapat naungan Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungannya adalah laki-laki yang hatinya melekat dengan masjid.

I’tikaf merupakan ritual ibadah Rasulullah Saw. yang biasa dilakukan di bulan Ramadan dan hendaknya diteruskan oleh kita sebagai umat beliau.***

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Mahasantri Darus Sunnah

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.