‹ Kembali ke Beranda
Adab

Menghidupkan Ramadan dengan Ilmu dan Keteladanan: Resensi Buku Pengajian Ramadan Kiai Duladi

Oleh Maulana Malik Ibrahim·31 Maret 2026·27
Menghidupkan Ramadan dengan Ilmu dan Keteladanan: Resensi Buku Pengajian Ramadan Kiai Duladi

Majalahnabawi.com – Bulan Ramadan adalah madrasah ruhani yang setiap tahun Allah hadirkan untuk membentuk ulang jiwa-jiwa kaum beriman. Ia bukan sekadar momentum ibadah ritual, tetapi juga ruang pembinaan ilmu, akhlak, dan kesadaran spiritual. Namun dalam realitas kehidupan umat, tidak sedikit kaum muslimin yang menyambut Ramadan lebih sebagai tradisi tahunan dari pada sebagai ibadah yang memiliki tuntunan yang jelas dari Rasulullah Saw. Dalam konteks inilah buku “Pengajian Ramadan Kiai Duladi” karya Kiai Ali Mustafa Yaqub menemukan relevansinya.

Ramadan Harus Berbasis Ilmu dan Sunnah

Kiai Ali Mustafa Yaqub dikenal sebagai ulama ahli hadis yang konsisten menjaga kemurnian Sunnah Nabi. Ketegasan dan kedalaman ilmunya tercermin dalam karya-karyanya yang selalu berlandaskan dalil yang kuat. Buku ini bukan sekadar kumpulan ceramah Ramadan, tetapi refleksi kritis terhadap fenomena keberagamaan umat yang terkadang lebih mengikuti selera daripada tuntunan.

Salah satu pernyataan penting dalam buku ini adalah:

“Menyambut dan mengisi bulan Ramadan adalah ibadah yang harus mengacu kepada tuntunan Nabi Saw., bukan kepada selera alias hawa nafsu.”

Pernyataan ini menjadi fondasi utama buku. Penulis mengingatkan bahwa semangat beribadah tanpa ilmu dapat mengarah pada praktik-praktik yang tidak memiliki dasar yang jelas. Ramadan bukan ruang untuk mengikuti euforia atau kebiasaan yang tidak teruji, melainkan momentum untuk meneladani Rasulullah Saw. secara sadar dan ilmiah.

Tujuan Penting di Bulan Ramadan

Buku ini memiliki tiga tujuan besar. Pertama, memberikan pemahaman yang benar tentang bagaimana menyambut dan mengisi bulan suci Ramadan. Penulis menyoroti adanya kecenderungan sebagian masyarakat yang menjadikan Ramadan sebagai tradisi sosial semata. Padahal, setiap ibadah memiliki aturan dan tuntunan yang jelas dalam syariat.

Kedua, meluruskan kekeliruan pemahaman yang berpotensi melembaga dalam masyarakat. Penulis memperingatkan bahwa kesalahan yang dibiarkan tanpa koreksi dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap benar. Bahkan beliau menegaskan:

“Sikap yang mendiamkan sesuatu yang keliru ini akan membawa dampak yang sangat berbahaya, karena masyarakat akan menganggap hal itu sebagai kebenaran yang harus diyakini.”

Pesan ini sangat penting bagi para penuntut ilmu dan da’i. Tanggung jawab keilmuan bukan hanya menyampaikan kebaikan, tetapi juga meluruskan kekeliruan dengan cara yang bijak dan santun.

Ketiga, buku ini mengkritik fenomena dakwah yang hanya mengandalkan retorika tanpa dibarengi etika dan moralitas. Dakwah bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi cerminan akhlak dan integritas. Penulis mencontohkan sikap Imam al-Syafi’i yang tetap membenci kemaksiatan meskipun beliau menyadari dirinya sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan. Ini menunjukkan bahwa keberanian moral harus tetap ada, meskipun disertai kerendahan hati.

Resensi Buku Pengajian Ramadan Kiai Duladi

Keistimewaan buku ini terletak pada metode penulisannya. Kiai Ali Mustafa Yaqub menggunakan pendekatan kisah (qishshah) dan dialog (hiwar) dengan setting Desa Watugugur di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah, serta menghadirkan tokoh sentral Kiai Duladi. Metode ini membuat pembahasan terasa hidup, hangat, dan tidak menggurui. Pembaca seolah-olah sedang mengikuti pengajian langsung di serambi masjid desa.

Pendekatan naratif ini juga memudahkan santri dan masyarakat umum dalam memahami pesan-pesan yang disampaikan. Nilai tarbiyah yang terkandung di dalamnya sangat kuat: kecintaan kepada Sunnah, keberanian menyampaikan kebenaran, serta pentingnya adab dalam berdakwah.

Bagi santri dan calon da’i, buku ini memberikan pelajaran berharga bahwa dakwah harus berbasis ilmu dan integritas. Ramadan bukan hanya tentang memperbanyak ibadah, tetapi juga memperbaiki cara beragama agar lebih sesuai dengan tuntunan Nabi Saw.

Sebagai catatan, karena disampaikan dalam bentuk kisah, pembahasan dalil tidak dijabarkan secara panjang sebagaimana kitab fikih akademik. Namun justru pendekatan ini menjadikan buku ini mudah dipahami dan relevan untuk berbagai kalangan, khususnya di lingkungan pesantren.

Kembali ke Sunnah di Bulan Ramadan

Akhirnya, buku “Pengajian Ramadan Kiai Duladi” adalah ajakan untuk mengembalikan Ramadan kepada ruhnya: ibadah yang berlandaskan ilmu dan keteladanan. Di tengah derasnya arus dakwah yang kadang lebih mengedepankan popularitas dari pada kedalaman, buku ini menjadi pengingat bahwa kekuatan umat terletak pada kesetiaan kepada Sunnah dan kejujuran dalam berdakwah.

Semoga melalui bacaan ini, Ramadan kita tidak sekadar ramai, tetapi juga benar; tidak sekadar semangat, tetapi juga berilmu dan beradab.

Bagikan: